SuaraSumedang.id – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaklaim, pertumbuhan ekonomi relatif bagus dalam tiga kuartal Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi berdampak, pada tingkat konsumsi Bahan Bakar Minyak atau BBM masyarakat terus meningkat.
Perkiraan naiknya ekonomi negara rata-rata di atas 5 persen, dan inflasi 4,9 persen seiring membaiknya penanganan pandemi Covid-19.
"Setelah lepas dari Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif bagus dalam tiga kuartal Indonesia ini," kata Airlangga di Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/9/2022).
Airlangga Hartarto mengatakan membaiknya penanganan pandemi Covid-19 terlihat dengan muculnya kegiatan masyarakat.
Seperti acara Yaa Qowiyyu atau upacara tradisi sebar apem, berada di Jatinom Klaten yang dihadiri lebih dari 30.000 orang masyarakat.
Ia juga menunjukkan bahwa masyarakat sudah merindukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kemasyarakatan.
Sekaligus kegiatan ini bisa terus terlaksana, karena penanganan pandemi Covid-19 terus berlanjut.
Konsumsi BBM yang mulai ada peningkatan, karena memperlihatkan aktivitas ekonomi mulai membaik dan jalanan kembali ramai.
Tingkat konsumsi BBM jenis pertalite dan solar yang meningkat hingga melampaui kuota itu yang membuat pemerintah harus menyesuaikan harga.
Oleh karenanya pemerintah mengurangi jumlah subsidi BBM, agar belanja subsidi energi tidak melampaui Rp502 triliun.
Kemudian untuk mengurangi dampak kenaikan harga tersebut, pemerintah memberikan bantuan sosial sebesar Rp150.000 selama empat bulan.
Sekaligus mengimbau daerah untuk mengalokasikan, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 2 persen untuk menjaga inflasi.
Pemerintah, lanjut Airlangga, juga terus menyediakan pasokan pangan agar harga-harga tetap terjangkau.
"Harga beras sekarang relatif terjaga dan stoknya cukup karena produksi 32 juta ton per tahun dan selama tiga tahun,” ujar Airlangga.
Selain itu, inflasi tetap stabil dalam sasaran yang sudah ditetapkan, meski harga BBM mengalami kenaikan.
“Kami tidak impor beras lagi sehingga Indonesia swasembada beras. Karena hal ini, bapak Presiden diberikan penghargaan dari The International Rice Research Institute (IRRI)," katanya.
Ia memastikan kondisi tahun depan akan lebih menantang, mengingat pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berakhir.
Sekaligus kondisi geopolitik di Eropa yang masih diliputi ketidakpastian, bisa mempengaruhi harga energi dunia.
"Kami masih mempunyai tantangan karena Indonesia memimpin G20 yang merupakan ekonomi terbesar, jadi Indonesia sudah diperhitungkan oleh dunia. Jadi apa yang dilakukan Indonesia bisa dicontoh oleh negara-negara berkembang lainnya," tuturnya.
Sumber: Suara.com