Mejelang digelarnya Piala Dunia 2022 Qatar yang hanya tinggal menunggu hitungan hari ini, atmosfer ajang lima tahuan sekali ini kian kental kerasa. Semua mata akan tertuju pada kota yang memiliki kekayaan minyak yang sangat melimpah itu.
Atmosfer yang kental itu pun kini dirasakan oleh salah satu pemain klub Liga 1 Indonesia Persija Jakarta yakni Braif Fatari. Pemain asal Papua itu mengaku menjagokan Lukaku dan kawan-kawan di Piala Dunia 2022 Qatar tahun ini.
Pemain jebolan Garuda Select angkatan pertama itu mengaku menjagkan Belgia, meski saat kecil dirinya merupakan fans berat timnas Prancis.
Baif menceritakan, saking ngefansnya dia dengan timnas Prancis, ia memasang pernak pernik Prancis di kamarnya, dan memasang bendera Prancis di pohon depan rumahnya.
“Saya sejak awal selalu mengidolakan Perancis karena materi pemainnya sangat bagus. Kamar saya didekorasi dengan semua pernak pernik Prancis. Pohon depan rumah pun saya panjat hanya untuk dipasang bendera Perancis,” tutur Braif.
Namun, kini pemain dengan nomor punggung 80 itu memilih Belgia setelah melihat permainan skuad Prancis berubah pasca menjadi juara Piala Dunia 2018.
“Namun saya lihat setelah mereka menang Piala Dunia 2018, permainan mereka berubah dan pemainnya terlihat angkuh. Terlihat saat Piala Eropa 2020 mereka kalah oleh Swiss di babak 16 besar. Kalau sekarang saya menjagokan Belgia, karena pemainnya memiliki materi yang sangat bagus,” ucap Braif.
Braif juga menceritkan bahwa di daerah asalnya Papua, orang-orang di sana sangat gila bola. Tak heran jika mereka sangat antusias dengan adanya Piala Dunia ini.
“Mobil akan dicat sesuai warna negara yang didukung. Saya pernah lihat mobil di cat warna oranye karena mendukung Belanda. Selain itu mereka akan mengecat dan mendekor rumah mereka sesuai negara yang mereka dukung di Piala Dunia. Jadi mudah melihat siapa yang mereka dukung,” katanya melanjutkan.
Baca Juga: Rumput Stadion Dipta Bali Peroleh Nilai Excelent dari Labosport
Menurutnya, Piala Dunia 2014 merupakan Piala Dunia yang paling meriah. Sebab banyak warga Papua yang konvoi di jalan ketika negara favoritnya sedang bertanding.
“Warga di sana sangat senang konvoi dan mereka sering sekali berpapasan di jalan lalu saling mengejek antar suporter. Tapi yang paling parah itu ketika final 2014, banyak yang kecewa dengan Argentina kalah di final melawan Jerman. Jadi mereka banyak yang membakar jersey Argentina dan walaupun mereka kecewa, mereka tetap lanjut konvoi,” ujar Braif.