Pencarian gorong-gorong
Lebih dari satu abad berselang, gorong-gorong peninggalan Belanda tersebut tetap dimanfaatkan hingga sekarang. Meskipun beberapa temuan harus terlindas oleh bangunan-bangunan baru gedung pencakar langit.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, memprioritaskan pencarian gorong gorong peninggalan Belanda di wilayah Blauran sampai Kranggan, karena setiap turun hujan di kawasan itu selalu banjir. Selama ini, pembuangan di arahkan ke Bozem (penampungan air) Morokrembangan. Sedangkan letak dari Blauran ke Morokrembangan cukup jauh.
Rencananya, jika gorong-gorong Belanda di area depan Kranggan dapat ditemukan, maka penyudetan akan dilakukan untuk membelokkan aliran air ke gorong-gorong di Embong Malang, lalu masuk ke rumah pompa Jalan Kenari hingga Sungai Kalimas.
Dahulu air Sungai Kalimas tidak bisa ditampung karena ketika air laut masuk terjebak sampai dan Karet baik itu pada saat surut maupun pasang. Namun, saat ini sudah tidak lagi, karena di kawasan Petekan sudah ada pintu air, sehingga bisa ditutup sehingga air laut sudah tidak bisa masuk lagi.
Ide penelusuran gorong-gorong Belanda sebetulnya sudah ada dari dulu. Namun, baru saat ini mulai dilakukan. Pembukaan gorong gorong Belanda berada di Jalan Embong Malang dilanjutkan ke arah selanjutnya.