Blitar dikenal sebagai kota yang menjadi tempat peristirahatan terakhir proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Bung Karno dimakamkan di Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar.
Blitar juga sempat disebut sebagai tempat kelahiran ayah dari ketum PDI P Megawati Soekarnoputri, meski kekinian soal ini mendapat bantahan dari sejumlah sejarawan.
Sebagai kota yang memiliki rekam jejak sejarah bagi Bung Karno, Blitar hari ini ternyata dalam kondisi yang memilukan. Bagaimana tidak, ribuan warga Blitar masuk dalam kategori golongan miskin ekstrem.
Angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Blitar berdasarkan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim (P3PE) Kemenko PMK mencapai 9.303 jiwa.
Dengan angka ini, artinya ribuan warga Blitar masih ada yang berpendapatan hanya Rp32 ribu per hari. Terkait fakta ini dibenarkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar, Suwito Saren Satoto,
Malah kata Suwito, banyak masyarakat Blitar yang tidak bekerja rutin setiap hari, sehingga jika dikalkulasi pendapatannya di bawah Rp. 11.605.
Kurangnya lapangan pekerjaan, membuat sebagian masyarakat Kabupaten Blitar masih bekerja serabutan.
“Rp11 ribu per hari jadi memang ada yang kerja kerja yang temporer kerja yang tidak bisa pastikan hasil secara bulanan jadi ketika dia tidak aktivitas ya tentu tidak mendapatkan hasil, ada kerja pocokan upahnya harian bukan didapatkan setiap Minggu,” ungkap Suwito seperti dikutip dari BeritaJatim.com--jaringan Suara.com
Menurut Suwito, harus ada solusi nyata dari Pemkab Blitar. Suwito berharap dalam kurun waktu satu tahun terakhir kepemimpinan Bupati Rini Syarifah angka kemiskinan esktrim tersebut bisa dihapuskan.
Baca Juga: Temui Warga Ngawi, Ganjar Pranowo Beberkan Sosok Pendampingnya di Pilpres 2024