TANTRUM - Alergi debu adalah salah satu jenis rinitis alergi yang paling umum. Kondisi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat-zat asing yang ada di dalam debu.
Zat apa pun yang berpotensi menyebabkan reaksi alergi disebut alergen. Perlu diketahui, di dalam debu mungkin terdapat serangga, bulu binatang, jamur, hingga serbuk bunga.
Alergi debu dapat menimbulkan beragam gejala pada sistem pernapasan, seperti asma atau bunyi napas mengi.
Anda bisa mencegah dan mengendalikan gejalanya lewat perubahan gaya hidup dan konsumsi obat rinitis alergi sesuai anjuran dokter.
Menurut dr. Patricia Lukas Goentoro dari laman Hello Sehat, dicuplik Kamis, 22 September 2022, alergi debu umumnya menimbulkan gejala pada saluran pernapasan, wajah, dan kulit.
Ciri-ciri alergi debu yang paling sering di antaranya:
- bersin-bersin,
- hidung tersumbat atau berair,
- mata merah, gatal, dan berair,
- terdapat lendir pada tenggorokan,
- batuk-batuk,
- gatal-gatal pada kulit, serta
- muncul ruam pada kulit.
Apabila Anda memiliki asma, alergen pada debu juga dapat menyebabkan gangguan berupa:
- sesak napas,
- dada terasa berat atau nyeri,
- napas menjadi pendek-pendek dan berbunyi (mengi), serta
- susah tidur akibat sesak napas, batuk, atau bersin terus-menerus.
Baca Juga: Musim Sedang Transisi ke Penghujan, Warga Bandung Diminta Waspada Bencana Alam
Ada pula risiko reaksi alergi parah yang disebut syok anafilaksis. Reaksi alergi ini biasanya muncul tidak lama setelah kontak dengan alergen.
Gejala dapat bertambah parah ketika Anda bersih-bersih rumah, seperti menyapu atau mengelap perabotan.
Penyebab alergi debu
Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengira bahwa debu merupakan zat asing yang berbahaya bagi tubuh.
Sistem kekebalan tubuh kemudian bereaksi dengan menghasilkan antibodi untuk melawan zat asing tersebut.
Namun, ketika sistem imun bereaksi secara berlebihan, protein ini justru jadi penyebab rinitis alergi.