Perang panjang Palestina-Israel telah memantik berbagai pro dan kontra dari masyarakat dunia. Tak terkecuali datang dari para publik figur dan artis di Indonesia.
Satu artis Indonesia, Fedi Nuril ikut memberikan tanggapannya terhadap dua negara yang bertikai tersebut. Fedi sendiri menyatakan diri mendukung kemerdekaan rakyat Palestina setelah hadir langsung ke negara itu.
Hal tersebut tak terlepas dari pengalamannya datang ke Palestina untuk membuat satu program TV pada 2014.
Fedi menyempatkan diri melaksanakan salat zuhur di masjid Al-Aqsa. Namun saat memasuki masjid itu ia ditahan oleh tentara Israel.
Lewat unggahan panjang di Instagram, Fedi menceritakan kisah tersebut.
"Tahun 2014, gue ke Palestina untuk syuting sebuah program Ramadan. Sewaktu gue dan salah satu kru masuk Masjidil Aqsha untuk salat zuhur dan ambil gambar," tulisnya.
Fedi ditahan tentara Israel karena melihat membawa alat syuting. Namun, ia merasa tak takut.
"Gue ditahan di gerbang masuk oleh tentara Israel karena bawa tripod dan wireless mic. Anehnya, walaupun tentara itu bersenjata lengkap, gue nggak merasa takut,"
Setelah berkunjung ke Palestina, Bintang film Ayat-Ayat Cinta memberikan pandangan bahwa apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina adalah agresi militer dan perebutan wilayah secara paksa.
Baca Juga: Aaliyah Massaid Blak-blakan Pengen Nikah Muda Dengan Thariq Halilintar, Reza Artamevia: Cocok
"Apa yang terjadi di Palestina bukan perang, tapi perebutan paksa. Tentara Israel didukung teknologi militer dari US dan negara maju lain, sedangkan rakyat Palestina bertahan dengan persenjataan seadanya."
Sementara selama ini agama dijadikan tameng sebagai alasan invasi ke Palestina. Menurut Fedi di Palestina hidup beragam agama, tidak hanya islam.
"Ideologi agama digunakan sebagai pembenaran atas pendudukan Israel di Palestina. Sedangkan faktanya, 20% dari jumlah penduduk Palestina beragama Katolik dan Protestan, dan mereka pun menjadi korban penyerangan tentara Israel," sambungnya.
Aktor yang kini berusia 41 mengutuk tindakan Israel yang tidak menghiraukan seruan masyarakat dunia. Negara itu banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap rakyat Palestina. Sementara PBB tidak bertindak sama sekali.
"Seolah buta dan tuli dari kecaman PBB dan masyarakat internasional, negara Israel terus merangsek dan memperluas wilayahnya. Sampai akhirnya, Amerika mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun 2018 silam. Protes dari rakyat Arab-Palestina di Gaza dibalas dengan tembakan tentara Israel," kata Fedi Nuril.
"Gue sangat sedih melihat kejahatan pelanggaran HAM terhadap rakyat Arab-Palestina yang semakin menjadi-jadi. Rakyat Arab-Palestina tidak mendapatkan hak sipil untuk hidup di Palestina. Mereka harus menjadi penduduk Israel untuk mendapatkan akses rumah, pendidikan, dan kesehatan yang layak," sambungnya.