SuaraTasikmalaya.id - Dino Patti Djalal, mantan penasihat kebijakan luar negeri RI pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri RI (Menlu) Retno Marsudi.
Pernyataan yang disampaikan Menlu Retno itu soal serangan junta militer Myanmar terhadap warga sipil dalam sebuah pertunjukan musik di Negara Bagian Kachin, Myanmar Utara.
Adanya peristiwa serangan tersebut, Menlu Retno dengan tegas mengecam tindakan yang dilakukan junta militer Myanmar dan mengatakan tidak menerima segala bentuk kekerasan.
Menanggapi kecaman Menlu Retno terhadap junta militer Myanmar, Dino Patti Djalal mengaku setuju 100 persen.
Namun, pria yang saat ini menjabat sebagai penasihat utama di Kemenparekraf itu, kemudian menyinggung soal perang di Ukraina.
"Saya 100 persen dukung pernyataan Menlu Retno yang kecam serangan militer junta Myanmar terhadap warga sipil di Kachin", tulis Dino Patti Djalal, dikutip dari Twitter pribadinya @dinopattidjalal, Jumat, 28 Oktober 2022.
Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat ini juga mempertanyakan sikap Menlu Retno yang menurutnya tidak konsisten.
Hal itu lantaran kecaman keras dan lantang tersebut ditujukan hanya kepada Myanmar akan tetapi tidak dengan serangan yang terjadi di Ukraina oleh militer Rusia.
Bahkan, menurut Dino Indonesia terkesan sangat pemalu sehingga tidak bisa dengan keras mengecam terhadap serangan yang dilakukan militer Rusia di Ukraina.
Baca Juga: Dituding Jadi Istri Pertama Rizky Billar, Begini Pengakuan Ivonne Inawade tentang Suami Lesti Kejora
"Yang jadi pertanyaan, kenapa kita berani keras&lantang terhadap junta Myanmar, namun terhadap Rusia yang juga bantai warga sipil Kyev kita jadi sangat pemalu?", tambahnya.
Bahkan, Dino menambahkan bahwa Indonesia menganut Pancasila dari manapun negaranya agar memiliki nilai yang sama di mata Tuhan.
"Bukankah Pancasila mengajarkan kita bahwa, nyawa insan Indonesia, Palestina, Myanmar dan Ukraina semua sama nilainya di mata Allah SWT?," tanya Dino.
"Bukankah kita pelopor politik luar negeri 'Bebas Aktif", bukan "Bebar aktif Efektif"? Saatnya kita konsisten," imbuhnya.

Sebelumnya, Kecaman keras Menlu Retno disampaikan Indonesia dalam pertemuan para menlu Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis 27 Oktober 2022, membahas krisis di Myanmar.
Dalam forum tersebut, Retno juga mengungkapkan keprihatinan atas serangan militer Serangan udara pada Minggu malam (23/10) itu dan menewaskan sedikitnya 50 warga sipil, termasuk penyanyi dan pejabat pasukan minoritas etnik Kachin Independence Army (KIA).(*)
Sumber: Twitter @dinopattidjalal