4 Alat Bantu Melihat Gerhana Matahari Cincin

Dythia Novianty | Tivan Rahmat
4 Alat Bantu Melihat Gerhana Matahari Cincin
Gerhana Matahari Cincin. [Shutterstock]

Jangan melihat GMC dengan mata telanjang karena bisa merusak kesehatan mata.

Suara.com - Pada 26 Desember mendatang, masyarakat di sebagian wilayah di Indonesia bisa melihat fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC).

Namun, poin terpenting saat melihat momen langka tersebut adalah jangan melihat GMC dengan mata telanjang karena bisa merusak kesehatan mata.

Bahkan, intensitas cahaya Matahari yang sangat kuat dapat merusak mata dan menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, masyarakat bisa menyaksikan GMC dengan menggunakan alat bantu berikut ini, seperti dilansir laman Gerhanaindonesia.id.

1. Kamera pinhole (kamera lubang jarum)

Alat bantu paling murah untuk melihat GMC adalah kamera pinhole, atau yang lebih dikenal dengan kamera lubang jarum.

Kamera ini dapat dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang sederhana. Terdapat banyak tutorial dari internet untuk membuat kamera lubang jarum dengan berbagai variasi bentuk.

2. Kacamata Matahari

Meski bentuknya sama seperti kacamata pada umumnya, namun kacamata ini dilengkapi lensa khusus yang dirancang untuk menghalangi sebagian besar cahaya Matahari, sehingga aman digunakan saat melihat GMC.

3. Binokular atau teleskop

Pada dasarnya, konsep dan prinsip penggunaan binokular serupa dengan kamera lubang jarum. Namun yang membedakan, citra Matahari diproyeksikan melalui lensa pembesar, bukan lewat “lubang jarum”.

Penggunaan binokular atau teleskop akan dapat menghasilkan proyeksi gerhana yang lebih besar dan tajam ketimbang menggunakan kamera lubang jarum.

Binokular dapat dipasangkan ke tripod agar dapat berdiri dengan stabil, lalu diarahkan ke Matahari. Tapi perlu diingat, jangan pernah melihat melalui eyepiece secara langsung, kecuali terpasang filter khusus Matahari di depan cermin atau lensa objektif.

Alat ini bisa ditemukan di laboratorium ilmiah atau planetarium.

Petugas melakukan perawatan teleskop Zeiss di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/7). [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi]
Petugas melakukan perawatan teleskop Zeiss di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi]

4. Kamera DSLR

Saat pengamatan, jangan langsung mengarahkan lensa kamera DSLR ke Matahari karena dapat merusak sensor kamera. Untuk mengakalinya, gunakan filter khusus Matahari untuk mengurangi intensitas cahaya yang ditangkap kamera.

Untuk mendapatkan citra Matahari dengan maksimal dan berukuran besar, gunakan lensa telephoto dengan panjang fokus 500 - 2.000 mm. Pasalnya, lensa standar 200 mm hanya akan menghasilkan citra Matahari yang berukuran kecil.

Untuk pengaturan awal, dapat menggunakan ISO 100, F/8,0 dan shutter speed 1/1.000. Tentunya pengaturan ini dapat disesuaikan sesuai kebutuhan atau kondisi nantinya. Intinya, gunakan ISO rendah dan shutter speed yang tinggi.

Untuk fokus, lebih baik atur secara manual. Agar kamera stabil, gunakan tripod.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS