Ancaman Kekerasan Digital di Aplikasi Kencan: Kirim Foto Vulgar dan Video

RR Ukirsari Manggalani

Selasa, 16 Juni 2020 | 08:20 WIB
Ancaman Kekerasan Digital di Aplikasi Kencan: Kirim Foto Vulgar dan Video
[BBC].

Suara.com - Bunga, bukan nama sebenarnya, menekan "sign up" pada aplikasi kencan, Tinder, selang sekian minggu setelah putus dari hubungan pacaran yang bermasalah. Perempuan 26 tahun ini hendak mencari relasi tanpa komitmen dan Tinder dianggap cocok dengan tujuannya itu.

Awal 2018, Bunga kencan dengan seorang pria yang berlanjut dengan hubungan satu malam. Pria itu memang mengaku punya pacar, tetapi statusnya "open relationship," katanya. Bunga percaya.

"Setelahnya aku baru tahu dia ternyata punya pacar dan mereka tidak open relationship," ungkap perempuan itu.

Itu bukan satu-satunya pengalaman buruk yang dialami Bunga saat menggunakan aplikasi yang berslogan "match, chat, date" itu.  Pelecehan seksual secara verbal beberapa kali dialami pegawai kantoran ini.

"Ada orang yang menyapa dengan kata-kata yang nggak pantas, enggak sopan ke perempuan. Nah, itu aja udah termasuk pengalaman buruk," ujar Bunga kepada wartawan Yulia Saputra di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Diklaim sering terjadi  pelecehan seksual di aplikasi kencan, tidak hanya  kata-kata kotor

Bahkan bisa lebih parah lagi, seperti yang dialami Ades. Perempuan berusia 20-an tahun ini, pernah diteror foto alat kelamin yang dikirim salah satu lelaki kenalannya di Tinder.

"Ketika nggak langsung hubungan seksual yang ketemu langsung, aku pernah diminta ID Line, terus dikasih. Belum ngobrol apa-apa, dia baru bilang, 'Hai Des, langsung nge-pap (post a picture) alat kelamin'," kata mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Bandung ini.

Gangguan kesehatan mental

baca juga

Ades mulai mencari teman kencan di Tinder pada pertengahan 2019. Kala itu ia merasa kesepian karena jauh dari keluarga yang tinggal di kota lain. Ades juga merasa telah dewasa dan menganggap sudah waktunya mencari pasangan yang serius.

Namun, mencari pasangan di sebuah aplikasi kencan memang tidak selalu mudah. Ades pernah mengalami penolakan yang berdampak pada kesehatan mentalnya.

"Awal di-ghosting (ditinggalkan tanpa kabar) jadi mempertanyakan self-value. Emang salah saya. Saya jadi merasa nggak percaya diri, emang saya kurangnya di mana," ungkap Ades.

Aplikasi kencan, kata Ades, memang sangat menguji kesehatan mentalnya, terutama kemampuan untuk mencintai diri sendiri atau self-love.

Pengguna aplikasi kencan pun rentan mengalami gaslighting atau salah satu bentuk penyiksaan psikologis dalam sebuah hubungan interpersonal.

"Hal buruk dari dating apps yang pertama terserang itu self-love. Gaslighting juga sering banget kejadian. Yang sering banget terjadi juga kayak di bio-nya nyari partner yang serius, ternyata nyari pasangan lain atau hubungan seks."

"Memalsukan informasi itu sering terjadi. Ada juga yang nggak bilang kalau misalnya dia sudah menikah atau punya pacar. Jadi benar-benar melatih trust," kata Ades.

Ades merasa beruntung bergabung dalam komunitas yang membuatnya belajar menghadapi hubungan yang tidak sehat sehingga paham cara melindungi diri dari pelecehan dan kekerasan seksual di aplikasi kencan.

"Cuma enggak terbayang kalau orang yang enggak tersentuh ilmunya sama sekali, pasti bisa menyerang [mentalnya], selain self-love, mungkin juga bisa kena kekerasan seksual dan kekerasan psikologis," ujarnya.

Ancaman "kekerasan digital" di aplikasi kencan

Samahita, organisasi yang giat mengkampanyekan anti kekerasan dan pelecehan seksual mengelompokkan kekerasan dan pelecehan seksual dalam aplikasi kencan sebagai kekerasan digital.

Pada 2015, Samahita mulai menangani kasus kekerasan digital saat menerima aduan pertama korban kekerasan seksual di aplikasi kencan. Sejauh ini, ada lima kasus yang ditangani, tiga di antaranya didampingi Samahita.

Modus kejahatannya beragam

"Permasalahan utamanya adalah persepsi tentang consent (izin). Banyak pelaku beranggapan bahwa dating apps digunakan oleh mereka yang mau berhubungan seksual. Yang bikin miris, apps ini digunakan juga oleh kelompok remaja [SMA]. Salah satu kasus yang kami terima dialami oleh anak SMA yang menggunakan aplikasi pertemanan, SAYA," papar Ressa Ria Lestari, Ketua Samahita.

Kebanyakan korban datang mengadu ke Samahita dalam kondisi ketakutan dan sering mengalami serangan panik atau cemas.

Ressa menuturkan, beberapa di antara korban mengaku diancam oleh pelaku dengan menggunakan video atau foto ketika mereka berhubungan atau melakukan aktivitas seksual yang dibuat tanpa sepengetahuan korban.

"Kebanyakan kasus yang Samahita dapat, pelecehan atau kekerasan seksualnya terjadi di pertemuan pertama. Setelah itu pelaku nggak bisa dilacak," kata Ressa yang menduga kuat pelaku sengaja mencari korban lewat aplikasi kencan.

Sayangnya, sebagian besar korban tidak mau lapor ke polisi

"Kebanyakan karena takut keluarganya tahu. Ini memang salah satu kesulitan Samahita. Jadi yang bisa kita lakukan fokus pada pemulihan trauma korban," ujar Ressa.

Pendampingan yang dilakukan Samahita sejauh ini adalah menyediakan akses yang dibutuhkan korban, seperti akses konsultasi hukum dan psikologi.

Samahita sendiri bertugas menjadi pendamping sosial yang bertugas membantu korban untuk kembali percaya diri dengan cara memberikan dukungan kepada korban.

Pendampingan sosial yang dilakukan Samahita, kata Ressa, seperti halnya konsep peer counselling, yaitu menjadi teman curhat bagi korban dengan menjamin kerahasiaan dan tanpa penghakiman.

Psikiater Jiemi Ardian mengatakan, kebanyakan dari pasiennya yang sebagian besar anak muda mengalami kekerasan saat berkencan melalui aplikasi daring, meski, dia tidak mengungkapkan berapa banyak kasusnya.

"Pasien saya rata-rata anak muda, jadi yang kayak gitu banyak," ungkap Jiemi.

Meski lebih banyak dimanfaatkan anak muda, namun Jiemi mengingatkan, siapa pun bisa mengakses aplikasi kencan.

Hanya saja, ada beberapa kriteria orang yang cenderung menggunakan aplikasi kencan untuk mendapatkan pasangan. Salah satunya, mereka yang takut mendapat penolakan.

"Karena penolakan itu menyakitkan, maka lebih mudah menghadapi penolakan di dunia maya dibanding dunia nyata. Dan bagi beberapa orang, dating apps adalah alur yang tepat untuk dipilih."

"Kalau pun ditolak, ya nggak kelihatan juga. Bisa juga karena kecemasan atau takut karena pernah dikecewakan sehingga melampiaskannya atau nyari pasangannya ke sana dengan banyak kemungkinan, bisa juga nyari pasangan serius," kata Jiemi.

Mengenai dampak penggunaan aplikasi kencan pada kesehatan mental, Jiemi mengungkapkan, belum ada penelitian yang bisa mengungkap hal tersebut.

Sementara ini, dampak langsung aplikasi kencan terhadap kesehatan mental "hanya sebatas asumsi".

"Tapi hipotesis itu tidak pernah terbukti secara ilmiah. Hubungannya ada, tapi tidak pernah secara langsung. Contoh, saya cemas, saya takut ketemu orang, makanya saya pakai dating apps. Karena saya cemas, saya takut ketemu orang dan saya pakai dating apps, akhirnya setiap diajak ketemu, canggung, kemudian ditolak."

"Saya pakai dating apps lagi, ketemu, canggung, ditolak lagi, padahal di-chat sudah enak. Akhirnya saya terus-menerus merasa ditolak, saya makin cemas. Diasumsikan, dia pakai dating apps makin cemas, padahal nggak. Itu tidak sesederhana, karena ada teknologi mengakibatkan gangguan jiwa. Hal itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah," kata Jiemi.

Kendati demikian, Jiemi mengakui, aplikasi kencan membuat jumlah kekerasan psikologis dan seksual cepat bertambah.

"Fasilitas itu tidak sepenuhnya salah karena itu memudahkan bertemu orang baru, memudahkan ketemu dengan orang yang kriterianya sesuai, itu kan memudahkan. Tapi hidup kan selalu punya dua sisi, ada potensi sebaliknya," kata Jiemi.

"Kalau kita melihat harm yang terjadi pada online dating, misalnya pemerkosaan atau bahkan sesederhana penolakan, itu jumlahnya bertambah dengan cepat karena ada fasilitas ini, yang mungkin sebetulnya dulu [potensi kekerasannya] ada tapi karena nggak ada pool yang mewadahi, itu semua jadi terpisah, terpecah," katanya.

Waspada predator seks

Menurut Jiemi, para pengguna aplikasi kencan sebaiknya waspada terhadap predator seks.

Cara mengetahuinya adalah dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap orang yang terlalu baik atau memberikan perhatian berlebihan.

"Kalau dia balas chat dengan durasi yang lama artinya ada sesuatu yang dicari di sana. Kita harus waspada karena ketika kita sudah memandang seseorang superior akhirnya barrier dalam diri kita akan diturunkan, akhirnya malah ada potensi kita dimanipulasi, hati-hati," kata Jiemi.

"Hati-hati juga kalau pada pertemuan-pertemuan awal sudah ada pembicaraan ke arah seksual, kecuali kalau kita punya consent untuk itu, sebaiknya hindari. Hal itu biasanya sudah ada kecenderungan dari awal dia mencari hanya pasangan seksual saja."

Sementara itu, berdasarkan pengalamannya, Bunga mengingatkan, agar selalu mengecek latar belakang pasangan kencan sebelum bertemu langsung.

"Aku kalau match di Tinder, selalu cek latar belakang si orangnya. Orang bilang nge-poin, tapi demi keamanan aku sendiri, aku cari di Google, Instagram, dan LinkedIn. Aku pengin tahu dia kerja di mana karena untuk make sure orang ini bukan akun bodong dan nggak palsu," katanya.

Bunga juga selalu mengajak temannya untuk mengawasi dari kejauhan atau setidaknya memberitahu siapa teman kencannya dan lokasi mereka bertemu.

Tak jarang, Bunga juga membagikan live location kepada sejumlah temannya agar dapat memantau keberadaannya.

"Jadi aku punya teman-teman yang selalu aku kasih tahu akan ketemu dengan orang ini, dari dating apps, share live location biar teman-teman tahu dan ketemunya harus di tempat ramai di kafe atau bar. Yang jelas tempat yang di mana banyak orang," sebut Bunga.

Lain dengan Ades yang lebih memilih menguatkan diri agar tidak berdampak pada kesehatan mentalnya dengan cara melakukan refleksi diri ketika mengalami penolakan.

Ades pun makin spesifik menentukan kriteria pasangan yang dicari. Tujuannya, agar mempertahankan standar diri.

"Kalau memang enggak cocok sama kriteria, aku enggak akan nurunin standar dan bakal ngomong right to the point. Jadi mulai membudayakan meninggalkan dengan alasan yang jelas supaya dia enggak menyalahkan diri sendiri," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Semarak Perayaan HUT ke-499 Kota Jakarta di Bundaran HI

Semarak Perayaan HUT ke-499 Kota Jakarta di Bundaran HI

Foto | Minggu, 28 Juni 2026 | 07:00 WIB

Buah Komitmen, Pegadaian Borong Awards di Ajang Global Contact Center World Asia Pacific 2026

Buah Komitmen, Pegadaian Borong Awards di Ajang Global Contact Center World Asia Pacific 2026

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 17:58 WIB

Bukan Sekadar Superhero: Sisi Gelap Spider-Noir yang Menampar Realita

Bukan Sekadar Superhero: Sisi Gelap Spider-Noir yang Menampar Realita

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 12:35 WIB

Bukan Copet, Transjakarta Ungkap Fakta Penumpang Ngamuk di Koridor 5 yang Viral

Bukan Copet, Transjakarta Ungkap Fakta Penumpang Ngamuk di Koridor 5 yang Viral

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 19:23 WIB

Kasus Video JK: Pelapor Ade Armando dan Abu Janda Kecewa Laporannya Dilempar ke Polda Metro

Kasus Video JK: Pelapor Ade Armando dan Abu Janda Kecewa Laporannya Dilempar ke Polda Metro

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:33 WIB

Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda

Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda

Your Say | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB

Anak Muda Punya Banyak Rencana Hidup, Tapi Risiko Bisa Datang Kapan Saja

Anak Muda Punya Banyak Rencana Hidup, Tapi Risiko Bisa Datang Kapan Saja

Your Say | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:18 WIB

3 HP Midrange Murah dengan Kualitas Video Terbaik untuk Konten dan Vlog Anti Blur

3 HP Midrange Murah dengan Kualitas Video Terbaik untuk Konten dan Vlog Anti Blur

Tekno | Selasa, 16 Juni 2026 | 12:15 WIB

Tips Kamera Samsung Galaxy A57 5G dan A37 5G: Rahasia Foto Tajam dan Video Stabil

Tips Kamera Samsung Galaxy A57 5G dan A37 5G: Rahasia Foto Tajam dan Video Stabil

Tekno | Senin, 15 Juni 2026 | 12:00 WIB

Iri Tetangga Punya Mobil Baru? Video Emak-Emak Buang Kunci Portal Viral

Iri Tetangga Punya Mobil Baru? Video Emak-Emak Buang Kunci Portal Viral

Entertainment | Sabtu, 13 Juni 2026 | 09:00 WIB

Terkini

6 HP Vivo RAM 8 GB dengan Baterai 6.000 mAh, Awet Seharian untuk Gaming hingga Kerja

6 HP Vivo RAM 8 GB dengan Baterai 6.000 mAh, Awet Seharian untuk Gaming hingga Kerja

Tekno | Minggu, 28 Juni 2026 | 20:35 WIB

4 Tablet RAM 8GB Rp1 Jutaan Layar Tajam dan Baterai Jumbo, Cocok Buat Anak Sekolah

4 Tablet RAM 8GB Rp1 Jutaan Layar Tajam dan Baterai Jumbo, Cocok Buat Anak Sekolah

Tekno | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:33 WIB

3 Rekomendasi HP di Bawah 5 Juta untuk Ngonten, Budget Terbatas Hasil Berkualitas

3 Rekomendasi HP di Bawah 5 Juta untuk Ngonten, Budget Terbatas Hasil Berkualitas

Tekno | Minggu, 28 Juni 2026 | 10:01 WIB

7 Tips Memilih HP di Bawah 5 Juta untuk Ngonten: Budget Terbatas, Hasil Pro!

7 Tips Memilih HP di Bawah 5 Juta untuk Ngonten: Budget Terbatas, Hasil Pro!

Tekno | Minggu, 28 Juni 2026 | 09:05 WIB

3 Pilihan Tablet Samsung 5G Terbaik, Koneksi Kencang Tanpa Bergantung WiFi

3 Pilihan Tablet Samsung 5G Terbaik, Koneksi Kencang Tanpa Bergantung WiFi

Tekno | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:15 WIB

realme P4 Series Meluncur 2 Juli, HP Gaming Baterai 8000mAh Paling Terjangkau dengan AI Gaming

realme P4 Series Meluncur 2 Juli, HP Gaming Baterai 8000mAh Paling Terjangkau dengan AI Gaming

Tekno | Sabtu, 27 Juni 2026 | 14:50 WIB

Lenovo x FIFA World Cup 2026 Hadir di Indonesia, Luncurkan Laptop AI Edisi Terbatas

Lenovo x FIFA World Cup 2026 Hadir di Indonesia, Luncurkan Laptop AI Edisi Terbatas

Tekno | Sabtu, 27 Juni 2026 | 14:00 WIB

Vivo Y6a Resmi Rilis, Bawa Baterai Jumbo 7.200 mAh dan Spek Gahar

Vivo Y6a Resmi Rilis, Bawa Baterai Jumbo 7.200 mAh dan Spek Gahar

Tekno | Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:30 WIB

Cara Reset HP OPPO: Panduan Lengkap dan Aman untuk Semua Tipe

Cara Reset HP OPPO: Panduan Lengkap dan Aman untuk Semua Tipe

Tekno | Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:40 WIB

Keamanan Siber Jadi Prioritas Bisnis, ITSEC Asia dan BSSN Perkuat Kesiapan Organisasi

Keamanan Siber Jadi Prioritas Bisnis, ITSEC Asia dan BSSN Perkuat Kesiapan Organisasi

Tekno | Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:38 WIB

×