facebook

Apa Itu Starlink, Satelit Milik Elon Musk yang Masuk Indonesia

Farah Nabilla
Apa Itu Starlink, Satelit Milik Elon Musk yang Masuk Indonesia
Gambar pengambilan video SpaceX ini menunjukkan Starlink operasional pertama SpaceX selama peluncuran pada Falcon 9 yang digunakan kembali pada 11 November 2019 di Cape Canaveral, Florida. [HO/SPACEX/AFP]

Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) membeli kapasitas dari Starlink sehingga Telkomsat mendapatkan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO).

Suara.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) resmi memberikan izin beroperasi Starlink, satelit internet milik Elon Musk. PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) membeli kapasitas dari Starlink sehingga Telkomsat mendapatkan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO). 

Selain itu, Starlink akan digunakan untuk keperluan layanan backhaul Telkom Group. Mengacu Permen Kominfo Nomor 21 tahun 2014, Hak Labuh (Landing Right) Satelit adalah hak untuk menggunakan Satelit Asing yang diberikan oleh Menteri kepada Penyelenggara Telekomunikasi atau Lembaga Penyiaran. 

Artinya, satelit tersebut kemungkinan akan disewa oleh Telkomsat untuk memberi layanan jaringan internet tertutup ke pelanggan korporat. Lalu, apa itu Starlink, satelit milik Elon Musk yang baru saja masuk Indonesia?

Proyek Ambisius

Baca Juga: Elon Musk Prediksi Masa Depan

Starlink adalah proyek ambisius SpaceX. Tujuannya yakni membangun jaringan internet yang saling terhubung dengan ribuan satelit. Hal tersebutuntuk memberikan internet berkecepatan tinggi kepada konsumen di bagian mana pun di planet Bumi.

Starlink mengklaim menyiapkan internet dengan kecepatan 100/200 megabit per detik (Mbps) untuk pengguna individu. Saat ini Starlink punya lebih dari 400.000 di penjuru dunia, merujuk presentasi SpaceX pada regulator federal pekan lalu. 

Menurut situs pelacak kecepatan internet Ookla, yang menganalisis kinerja internet satelit selama kuartal keempat tahun 2021, Starlink menawarkan kecepatan unduh melebihi 100Mbps di 15 negara berbeda tahun lalu, dengan kecepatan rata-rata di Q4 lebih tinggi dari Q3.

Tuai Kritik

Proyek tersebut pun langsung menjadi sorotan. Tak sedikit yang mengkritisinya, termasuk NASA. Badan penerbangan Amerika Serikat itu menggarisbawahi rencana SpaceX menyebarkan sekitar 30.000 satelit untuk proyek Starlink. NASA khawatir tentang potensi peningkatan frekuensi konjungsi serta dampak pada misi luar angkasa manusia dan sains mereka. 

Baca Juga: Satelit Kecil Ini Beri Prakiraan Badai Tropis Lebih Cepat dan Akurat

NASA mencatat saat ini terdapat 25.000 total objek yang dilacak di orbit, dan ada sekitar 6.100 di bawah 600 km. NASA menilai ekspansi generasi kedua yang diminta SpaceX, akan menambah lebih dari dua kali lipat jumlah objek yang dilacak di orbit serta meningkatkan jumlah objek di bawah 600 km lebih dari lima kali lipat.

Komentar