Google Tak Jadi Hapus Cookie Pelacak, Kabar Buruk Buat 3 Miliar Pengguna Chrome?

Jum'at, 26 Juli 2024 | 10:31 WIB
Google Tak Jadi Hapus Cookie Pelacak, Kabar Buruk Buat 3 Miliar Pengguna Chrome?
Ilustrasi Google Chrome. [Shutterstock]

Suara.com - Google mengumumkan tidak akan menghapus cookie pelacakan pihak ketiga di Chrome seperti yang direncanakan sebelumnya.

Sebaliknya, ini akan memberi pengguna lebih banyak pilihan. Keputusan ini diambil di tengah pembicaraan dengan regulator dan kritik dari pendukung privasi seperti Apple dan Electronic Frontier Foundation (EFF).

EFF memperingatkan bahwa strategi baru Google, yang mencakup pengaturan privasi yang dapat dipilih pengguna, masih memungkinkan pengiklan melacak perilaku pengguna. Dengan kata lain, masalah privasi ini akan berdampak pada pengguna Google Chrome yang tercatat sebanyak 3 miliar.

Sebelumnya, Google telah berjanji untuk menghilangkan cookie pihak ketiga untuk meningkatkan privasi pengguna. Inisiatif Privacy Sandbox bertujuan untuk menemukan alternatif yang akan membuat pendukung privasi dan pengiklan senang.

Dilansir dari Gizchina pada Jumat (26/7/2024), sayangnya sulit untuk menyeimbangkan kepentingan ini, sehingga menyebabkan perubahan rencana Google. Pendekatan baru ini menawarkan kepada pengguna sebuah pilihan, antara cookie pelacakan, Topic API, dan penjelajahan semi-pribadi.

Google Chrome. [Shutterstock]
Google Chrome. [Shutterstock]

Tindakan tersebut kemudian menuai reaksi dari pesaing dan penyedia privasi. Apple mengkritik Chrome karena masalah privasinya dan mempromosikan Safari sebagai opsi yang lebih aman. EFF mengklaim bahwa Privacy Sandbox Google masih memungkinkan pengiklan menargetkan iklan berdasarkan perilaku pengguna.

Safari dan Firefox telah memblokir cookie pihak ketiga secara default sejak 2020, namun sayangnya Google tidak dapat menerapkannya pada Chrome.

Bagi 3 miliar pengguna Chrome, ini berarti pengguna akan tetap terpapar teknologi pelacakan kecuali mengelola pengaturan privasinya.

Sayangnya, sebagian besar pengguna Google Chrome cenderung tidak mengubah pengaturan default, sehingga rentan terhadap pengumpulan data.

Baca Juga: Membandingkan Google Chrome vs Apple Safari, Aman Mana?

Padahal, memberi pengguna kemampuan untuk memilih pengaturan privasi merupakan langkah menuju privasi yang lebih baik. Biasanya, nomor telepon dan cookie merupakan sasaran empuk bagi peretas.

Data tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai informasi pribadi, sehingga meningkatkan risiko pencurian identitas. Dengan memberikan lebih banyak pilihan kepada pengguna, Google bertujuan untuk mengurangi risiko ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI