- GoTo meluncurkan model AI berukuran 27 miliar parameter di Bali pada 19 Oktober 2026.
- Model bahasa besar tersebut dirancang khusus untuk memahami bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah.
- GoTo membagikan model AI secara gratis agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai institusi lokal.
Kemampuan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penerjemahan, pengolahan dokumen, layanan informasi, hingga pengembangan aplikasi yang melayani masyarakat dengan latar belakang bahasa berbeda.
![Direktur Utama/CEO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Hans Patuwo dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/24226-direktur-utamaceo-pt-goto-gojek-tokopedia-tbk-goto-hans-patuwo.jpg)
Meski demikian, kualitas penggunaan model untuk setiap kebutuhan tetap bergantung pada karakteristik data, pengujian, dan penerapan yang dilakukan pengembang.
GoTo menyatakan model berukuran 27 miliar parameter ini mampu menangani berbagai tugas bahasa yang kompleks.
Perusahaan juga mengklaim model tersebut meraih skor tertinggi secara konsisten dalam pengujian menggunakan tolok ukur model open-source sekelasnya untuk setiap bahasa daerah yang diuji.
Namun, perusahaan belum merinci dalam materi pengumuman ini nama tolok ukur, skor yang diperoleh, maupun model pembanding yang digunakan.
Bisa Dijalankan di Server Sendiri
Selain membuka akses secara gratis, GoTo menyebut model ini dapat dijalankan secara mandiri di server milik universitas, startup, maupun institusi publik tanpa membutuhkan pusat data berukuran besar.
Kemampuan menjalankan model di infrastruktur sendiri dapat memberikan keleluasaan bagi pengembang dalam menyesuaikan penerapan AI dengan kebutuhan operasional masing-masing.
Meski begitu, ukuran 27 miliar parameter tetap membutuhkan sumber daya komputasi yang memadai. Kebutuhan perangkat keras akan bergantung pada metode penerapan, ukuran presisi model, kapasitas memori, dan beban penggunaan.
Karena itu, akses gratis terhadap model tidak serta-merta berarti seluruh biaya operasional AI menjadi nol. Pengguna tetap perlu memperhitungkan kebutuhan server, pemeliharaan, dan pengelolaan sistem.
Bagi startup dan lembaga pendidikan, tersedianya model yang dapat diadaptasi berpotensi mengurangi kebutuhan untuk membangun model bahasa dari tahap awal. Pengembang dapat lebih berfokus pada pembuatan aplikasi yang sesuai dengan persoalan di sektor masing-masing.
GoTo Siapkan Talenta AI dari Kampus
Pengembangan LLM ini juga diikuti upaya GoTo menyiapkan talenta AI di Indonesia. Perusahaan telah melibatkan mahasiswa magang dari tujuh universitas yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi, termasuk Universitas Udayana di Bali.
Para mahasiswa bekerja bersama tim AI GoTo dalam sejumlah tahapan pengembangan, mulai dari persiapan data, pelatihan model, hingga pengujian.
Mereka juga berkontribusi dalam pengembangan teknologi pengolahan suara berbahasa Indonesia milik GoTo serta pengumpulan data bahasa Batak.
Keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas keterampilan praktis di bidang AI, sekaligus membuka kesempatan bagi talenta lokal untuk terlibat langsung dalam pengembangan teknologi.
Inisiatif ini sejalan dengan Visi Indonesia Digital 2045 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang mendorong ekosistem digital inklusif, kolaboratif, dan berbasis inovasi.
Dengan membuka akses model bahasa besar kepada publik, GoTo berupaya mendorong lebih banyak pengembang, peneliti, dan institusi di Indonesia untuk menciptakan solusi AI sendiri.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana model tersebut dimanfaatkan secara luas dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, terutama dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.