Makanan ini bentuknya seperti bubur dan terbuat dari bahan dasar beras ketan dan pisang.
Makanan ini dibuat dengan menggongseng atau menyangrai beras ketan.
Pisang lalu ditumbuk kasar dan dicampur dengan beras ketan, santan, garam, dan gula. Proses ini bisa memakan waktu selama satu jam.
Terdapat dua jenis memek di Aceh, yaitu "memek basah" dan "memek kering".
Memek kering terbuat dari beras gongseng yang dicampur dengan kelapa parut dan gula, sementara memek basah dicampur dengan santan.
Walaupun nama makanan ini memiliki konotasi negatif dalam bahasa prokem (slang) Indonesia, nama memek sebenarnya berasal dari kata mamemek dalam bahasa Devayan.
Makanan ini diciptakan pada masa pendudukan Jepang, ketika warga berupaya menyembunyikan beras mereka agar tidak disita oleh pasukan pendudukan.
Saat ini, memek telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia dalam sidang yang digelar di Hotel Millennium Jakarta.
Sumber: suara.com
Baca Juga: Prajurit TNI ke Effendi Simbolon: Jika Tak Minta Maaf, Saya Cari Kamu!