SUARA BANDUNG BARAT - Nunung Srimulat dan sang suami, Iyan Sambiran menjadi bintang tamu di acara Brownis Trans Tv. Komedian wanita Indonesia yang ditemani suaminya sempat membagikan cerita tentang penyakit kanker yang dialaminya.
Komedian wanita Indonesia, Nunung Srimulat menyebutkan penyakit kanker yang membuatnya harus menjalani kemoterapi. Hal ini ia sampaikan saat ditanya pembawa acara Brownis Trans Tv.
Pada acara Brownis Trans Tv, Nunung Srimulat juga mengungkapkan tentang suaminya, Iyan Sambiran. Komedian wanita Indonesia ini juga sempat mengungkapkan bahwa suaminyalah yang setia menemaninya selama dirinya mengalami penyakit kanker.
Melalui acara Brownis Trans Tv, Nunung Srimulat dan Iyan Sambiran membagikan kabar tentang perasaan sang komedian wanita Indonesia yang menjalani pengobatan dan kemoterapi akibat penyakit kanker, dikutip dari akun tiktok cuvroh.
Alami kebotakan karena kemoterapi, Nunung Srimulat bersyukur bahwa Iyan Sambiran, sang suami selalu mengerti kondisinya.
Nunung Srimulat, pada acara Brownis Trans Tv sempat mengatakan bahwa ia telah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali. Kemoterapi pertama dilakukan pada bulan Februari, sedangkan kedua kalinya ia lakukan di bulan Maret.
“Nah, April tanggal 21 kemarin kan aku kemo, cuma karena aku pamit mudik, aku minta izin sama dokter, ‘ya nggak apa-apa’ kata dokter. Terus, minggu depan ini kemo”, tutur Nunung Srimulat.
Pada acara tersebut, Ivan Gunawan yang juga merupakan pembawa acara Brownis menanyakan perasaan saat dikemoterapi. Nunung Srimulat pun menjawab bahwa kemoterapi itu rasanya sakit.
“Kemo itu rasanya sakit banget. Cuma, alhamdulillah aku nggak sampai mual”, jawab Nunung.
Baca Juga: Erick Thohir Serahkan Jadwal Liga Indonesia 2023/2024 ke Kapolri
“Biasanya, orang yang kemo bisa sampai mual-mual nggak karuan, seperti pada saat aku menghadapi kakakku dulu. Nah, itu kalua aku yang diserang tulang semua, kayak mau lepas semua”, sambungnya.
Nunung juga menjelaskan bahwa saat hari pertama, dan hari kedua obat masuk belum terasa. Akan tetapi, pada hari ketiga barulah ia merasakan sakit.
“Itu dari hari ketiga, sampai empat, lima hari, baru biasa. Kemonya kan tiga minggu sekali”, kata Nunung.
Selama delapan jam, Nunung harus merasakan diinfus. Ia mengaku diinfus di tidak dibagian tangan.
Hal ini karena tangannya sudah pecah semua, sehingga infus tidak bisa masuk.
“Jarum kemo itu kan gede banget, sementara di tempat kanker kan nggak boleh dimasukkin apa-apa, tensi saja nggak boleh. Sementara di tangan, sudah tidak berfungsi untuk infus, jadi pasang kemo di dalam”, Nunung menjelaskan.