Arti Kosala-kosali, Patokan Wajib Arsitek Saat Desain Rumah Adat Bali

Suara Bestie

Rabu, 02 Agustus 2023 | 15:18 WIB
Arti Kosala-kosali, Patokan Wajib Arsitek Saat Desain Rumah Adat Bali
Rumah Adat Bali ([Tangkapan Layar])

Bali, rupanya salah satu daerah yang memiliki kepercayaan unik. Salah satunya soal rumah yang ditinggali setiap hari.

Rumah adat di Bali memiliki filosofi yang bukan sembarangan. Bahkan, arsitek yang membangun rumah tersebut wajib berpatokan pada Kosala Kosali

Sebelum membahas lebih jauh lagi, apa itu Kosala Kosali?

Asta Kosala Kosali

Astakosala-astakosali merupakan pengetahuan arsitektur tradisional Bali. Astakosala-kosali berisi pengetahuan tentang ajaran hakikat seorang arsitek (undagi), hal-hal yang harus diketahui dan dipatuhi oleh undagi, dewa pujaan seorang undagi (Bhatara Wiswakarma), ukuran-ukuran (sikut) yang digunakan dan dijadikan pedoman dalam melakukan kerja arsitektur, teknik pemasangan bahan bangunan, tata cara mengukur luas bangunan, jenis-jenis bangunan tradisional Bali, ajaran mengenai hubungan seorang undagi dengan pekerjaan dan kewajibannya terhadap Tuhan, jenis-jenis kayu yang layak dijadikan bahan bangunan, sesajen yang digunakan dalam mengupacarai bangunan, serta mantra-mantra yang wajib digunakan seorang undagi (arsitek tradisional Bali).

Asta Kosala Kosali merupakan konsep tata ruang tradisional Bali berdasarkan konsep keseimbangan kosmologis (Tri Hita Karana), hirarki tata nilai (Tri Angga), orientasi kosmologis (Sanga Mandala), ruang terbuka (natah), proporsional dengan skala, kronologis dan prosesi pembangunan, kejujuran struktur dan kejujuran pemakaian material.

Apabila dimensi dan ukuran bangunan proporsional sesuai skala ukuran tubuh pemilik rumah disertai dengan ritual upakara dan hari baik maka dipercaya akan terjadi keseimbangan kehidupan penghuni rumah dengan lingkungan di sekitar pekarangan.

Sejarah

Astakosala-kosali memiliki tradisi sejarah yang panjang. Tampaknya, astakosala-kosali sebagai pengetahuan arsitektur tradisional Bali telah dikenal pada abad ke-9. Hal ini dibuktikan berdasarkan data Prasasti Bebetin berangka tahun 818 Saka (896 M). Pada saat itu, di Bali telah dikenal ahli arsitektur tradisional Bali yang disebut Undagi.

baca juga

Makna Filosofis

Asta Kosala Kosali memiliki makna filosofis yang tinggi bagi masyarakat Bali, yang merupakan konsep tata ruang tradisional Bali yang berdasarkan pada :

1. konsep keseimbangan kosmologis (Tri Hita Karana : Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan),

2. hirarki tata nilai (Tri Angga: Utama Angga, Madya Angga, Nista Angga),

3. orientasi kosmologis (Sanga Mandala),

4. ruang terbuka (natah),

5. proporsional dan skala,

6. kronologis dan prosesi pembangunan,

7. kejujuran struktur dan

8. kejujuran pemakaian material.

Cara Penataan Lahan

Asta Kosala Kosali, merupakan pengetahuan arsitektur tradisional Bali yang berisikan tentang cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. Penataan bangunan biasanya menggunakan anatomi tubuh manusia (dalam hal ini pemilik rumah atau pekarangan). Pengukuran didasarkan pada ukuran tubuh, tidak menggunakan satuan internasional, antara lain:

1. Acengkang/alengkat : diukur dari ujung telunjuk sampai ujung ibu jari tangan yang direntangkan)

2. Agemel : diukur keliling tangan yang dikepalkan

3. Aguli : diukur ruas tengah jari telunjuk

4. Akacing : diukur pangkal sampai ujung jari kelingking tangan kanan

5. Alek : diukur pangkal sampai ujung jari tengah tangan kanan

6. Amusti : diukur ujung ibu jari sampai pangkal telapak tanga yang dikepalkan

7. Atapak batis : diukur sepanjang telapak kaki

8. Atapak batis ngandang : diukur selebar telapak kaki

9. Atengen Depa Agung : diukur dari pangkal lengan sampai ujung jari tangan yang direntangkan

10. Atengen Depa Alit : diukur dari pangkal lengan sampai ujung tangan yang dikepalkan

11. Auseran : diukur dari pangkal ujung jari telunjuk yang ditempatkan pada suatu permukaan

12. Duang jeriji : diukur lingkar dua jari (jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan)

13. Petang jeriji : diukur lebar empat jari (telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking) yang dirapatkan

14. Sahasta : diukur dari siku sampai pangkal telapak tangan yang dikepal

15. Atampak lima : diukur selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat

Hal-hal tersebut diatas merupakan pijakan bagi masyarakat Bali dalam melaksanakan pembangunan karena kepercayaan masyarakat bahwa berpedoman pada konsep pengetahuan Asta Kosala Kosali dalam membuat bangunan (pemilihan lahan, pemilihan bahan, menentukan dimensi dan ukuran bangunan proporsional sesuai skala ukuran tubuh pemilik rumah disertai dengan ritual upakara dan hari baik) maka dipercaya akan terjadi keseimbangan kehidupan penghuni rumah dengan lingkungan di sekitar pekarangan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Filosofi Rumah Adat Bali Bale Manten, Ada Hubungannya Dengan Kesucian Gadis

Filosofi Rumah Adat Bali Bale Manten, Ada Hubungannya Dengan Kesucian Gadis

Bestie | Rabu, 02 Agustus 2023 | 14:41 WIB

Terkini

Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak

Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:21 WIB

Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?

Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha

Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?

Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:58 WIB

Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari

Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:46 WIB

Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan

Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:30 WIB

Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik

Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:05 WIB

Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik

Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×