Agama Kaharingan adalah salah satu agama aliran hindu yang berasal dari dari Bahasa Sangiang dari kata Haring yang berarti kehidupan.
Kaharingan adalah agama yang dijadikan sumber kehidupan yang mengalirkan air suci kehidupan dalam kuasa Ranying Hatalla Langit.
Kaharingan menjadi salah satu agama leluhur di Indonesia yang masih bertahan hingga kini.
Dikutip dari banyak sumber, kata Kaharingan diucapkan pertama kali oleh balian yakni imam suku Dayak Ngaju.
Balian itu bernama Damang Yohanes Salihah dan W.A. Samat dan mereka mengucapkan Kaharingan pada tahun 1945 saat pendudukan Jepang di Kalimantan Tengah.
Kala itu, mereka menjadi orang yang sering dimintai bantuan oleh pejabat Jepang disaat pendudukan Jepang di Kalimantan Tengah.
Kemudian, pegawai administrasi Jepang meminta mereka memberi nama bagi agama yang mereka dianut.
Mereka menyebut nama agamanya sebagai "Kaharingan" yang diperoleh dari bahasa ritual 'haring' yang bermakna 'ada dengan sendirinya, tanpa pengaruh asing'.
Dalam perkembangannya, mereka menyebut Kaharingan berarti hidup.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Jenazah Mirna Tak Diautopsi, Tapi Jessica Wongso Bisa Divonis 20 Tahun Penjara
Menurut masyarakat Dayak Ngaju, Kaharingan telah ada beribu-ribu tahun sebelum datangnya agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen.
Sebagian suku Dayak, khususnya masyarakat Suku Dayak Siang dan Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masih menganut agama ini.
Bagi suku Dayak Siang, mereka menyembah Tuhan yang dikenal Moho Tara, sementara suku Dayak Ngaju mengenal Tuhan mereka dengan sebutan Ranying Hatala Langit.
Sama seperti agama-agama lain, mereka juga memiliki kitab suci yang bernama Kitab Panaturan.
Kitab Suci Panaturan menjadi sumber ajaran bagi umat Hindu Kaharingan, yakni ajaran suci yang memberikan petunjuk atau firman untuk menjalankan kehidupan yang suci tidak tercela.