Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Industri Serat Optik Pertama di ASEAN Beroperasi di Karawang

Adhitya Himawan | Dian Kusumo Hapsari | Suara.com

Jum'at, 09 September 2016 | 14:54 WIB
Industri Serat Optik Pertama di ASEAN Beroperasi di Karawang
Peresmian PT Yangtze Optical Fiber Indonesia (YOFI) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/9/2016). [Dok Kementerian Perindustrian]

Permintaan serat optik (optical fibre) semakin meningkat seiringkebutuhan industri digital global yang terus mengikuti perkembangan teknologi terkini. Untuk itu, industri serat optik berperan penting dalam memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sektor pendukungnya.

Optical fibreini untuk modernisasi jaringan operator telekomunikasi yang sebelumnya menggunakan kabel tembaga dan pengembangan jaringan ke perumahan baru,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan pada peresmian PT Yangtze Optical Fiber Indonesia (YOFI) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/9/2016).

Putu memberikan gambaran, untuk koneksi pita lebar (broad-hand) rumah tangga, saat ini terdapat 70 juta rumah tangga yang membutuhkan sambungan internet jenis fiber to the home (FTTH). "Permintaan serat optik juga menjadi besar dengan adanya proyek Palapa Ring yang butuh hingga 36.000 km meter," tuturnya.

Dengan beroperasinya PT YOFI, naiknya kebutuhan kabel serat optik diharapkan dapat dipasok oleh industri dalam negeri karena selama ini masih dibanjiri produk impor. Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian akan menerapkan aturan SNI wajib untuk seluruh produk serat optik di Indonesia.

PT YOFI merupakan perusahaan patungan antara Yangtze Optical Fibre and Cable (YOFC) asal Tiongkok dengan PT Monas Permata Persada. “PT YOFI sebagai pabrik optical fibre pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan pertama di Asia Tenggara yang mampu memenuhi 50 persen kebutuhan nasional dan regional Asia Tenggara,” jelas Putu.

Ditambahkannya, kehadiran YOFI membuat tingkat komponen dalam negeri industri kabel serat optik akan melonjak drastis. Terlebih lagi adanya program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). “Program tersebut menyatakan instansi pemerintah dan BUMN wajib menggunakan produk dengan TKDN lebih dari 40 persen,” tegas Putu.

Sementara itu, Presiden Komisaris YOFC Jan Bongaerts mengatakan, Indonesia sebagai negara tujuan investasi dan akan menjadikan basis produksinya karena industri kabel di Tanah Air jauh lebih berkembang dibandingkan industri serupa di negara lain di ASEAN.

“Permintaan serat optik di Indonesia mencapai 8–9 juta kilometer (km) per tahun dan berpotensi naik tinggi dalam jangka waktu pendek. Namun, kapasitas produksi kami saat ini mencapai 3 juta km per tahun,” paparnya.

Menurut Jan, dengan populasi Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk, permintaan broadband untuk internet pasti akan terus bertumbuh. Apalagi, pemerintah tengah gencar memperluas jaringan internet hingga ke pelosok. “Kami mengharapkan tahun depan bisa menaikkan kapasitas menjadi double hingga 6 juta km,” tuturnya.

Tambah investasi

Bahkan, Presiden Direktur PT Monas Permata Persada Santoso meyakinkan, kapasitas pabrik PT YOFI bisa dikembangkan mencapai 12 juta km serat optik per tahun tanpa harus memperluas area produksi. “Pada tahap pertama pabrik baru bisa produksi dengan kapasitas 3 juta km serat optik per tahun melalui investasi awal senilai USD 23 juta untuk pembangunan pabrik dan USD 7 juta untuk modal kerja,” ungkapnya.

Santoso menambahkan, PT YOFI berencana menggandakan produksinya mencapai 6 juta km serat optik per tahun pada 2017. Kapasitas produksi tersebut setara kebutuhan untuk tujuh produsen kabel serat optik di Indonesia. “Saat ini, 100 persen masih untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia. Kemudian naik ke 8–9 juta kilometer pada tahap ketiga dan pada tahap keempat maksimal di 12 juta km,” ujar Santoso.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Harjanto memberikan apresiasi kepada PT YOFI atas realisasi investasinya dalam upaya mengembangkan industri di Indonesia.

“Pada tahap pertama, total nilai investasi mereka sebesar 30 juta Dolar Amerika Serikat (AS). Setelah pada tahap penyelesaian pembangunan nantinya, total nilai investasi akan menjadi 80 Juta Dolar AS dengan total kapasitas sebesar 12 juta km optical fibre,” paparnya.

Harjanto berharap akan semakin besar investasi masuk pada sektor-sektor industri strategis yang akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. “Pada kuartal II tahun 2016, total nilai investasi asing di Indonesia mencapai 8,01 miliar Dolar AS atau meningkat 49,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015,” ungkapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kemenperin Sinkronisasi Roadmap Industri Hulu-Hilir

Kemenperin Sinkronisasi Roadmap Industri Hulu-Hilir

Bisnis | Jum'at, 09 September 2016 | 14:48 WIB

Airlangga Minta Kawasan Industri Dapat Harga Gas yang Kompetitif

Airlangga Minta Kawasan Industri Dapat Harga Gas yang Kompetitif

Bisnis | Kamis, 08 September 2016 | 14:53 WIB

Panasonic Targetkan Bisnis Pompa Air Capai 15 Miliar Yen di 2020

Panasonic Targetkan Bisnis Pompa Air Capai 15 Miliar Yen di 2020

Bisnis | Kamis, 08 September 2016 | 14:37 WIB

Pasokan Baja Nasional Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Pasokan Baja Nasional Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Bisnis | Kamis, 08 September 2016 | 11:31 WIB

Barata Indonesia Kolaborasi dengan Siemens Aktiengesellschaft

Barata Indonesia Kolaborasi dengan Siemens Aktiengesellschaft

Bisnis | Rabu, 07 September 2016 | 19:59 WIB

Kemenperin Terbangkan Produk Fashion Indonesia ke Pasar Eropa

Kemenperin Terbangkan Produk Fashion Indonesia ke Pasar Eropa

Bisnis | Sabtu, 03 September 2016 | 20:35 WIB

Penjualan Industri Jamu & Kosmetik 2016 Diprediksi Rp17 Triliun

Penjualan Industri Jamu & Kosmetik 2016 Diprediksi Rp17 Triliun

Bisnis | Selasa, 30 Agustus 2016 | 17:51 WIB

Pemerintah Targetkan RI Jadi Eksportir Tekstil Terbesar Kelima

Pemerintah Targetkan RI Jadi Eksportir Tekstil Terbesar Kelima

Bisnis | Selasa, 30 Agustus 2016 | 17:45 WIB

Menperin: Industri Mesin & Perlengkapan Tumbuh Tertinggi

Menperin: Industri Mesin & Perlengkapan Tumbuh Tertinggi

Bisnis | Minggu, 28 Agustus 2016 | 17:36 WIB

BKPM Tawarkan Investasi Sektor Manufaktur ke 100 Pengusaha Korsel

BKPM Tawarkan Investasi Sektor Manufaktur ke 100 Pengusaha Korsel

Bisnis | Minggu, 28 Agustus 2016 | 13:39 WIB

Terkini

Prabowo Mau Alutsista Makin Kuat, Purbaya: Anggaran Ada, Jumlahnya Rahasia

Prabowo Mau Alutsista Makin Kuat, Purbaya: Anggaran Ada, Jumlahnya Rahasia

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:17 WIB

Rupiah Terkapar Lemah, Bos BI: Harus Yakin Tuhan yang Maha Kuasa Bersama Kita

Rupiah Terkapar Lemah, Bos BI: Harus Yakin Tuhan yang Maha Kuasa Bersama Kita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 17:46 WIB

Harga Beras Lagi Mahal di 111 Kota

Harga Beras Lagi Mahal di 111 Kota

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 17:25 WIB

Rupiah Buat IHSG Semakin Hancur, Anjlok 1,85% Hari Ini

Rupiah Buat IHSG Semakin Hancur, Anjlok 1,85% Hari Ini

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 17:09 WIB

RI Mau Beli Jet Tempur KF-21 hingga Sukhoi Su-35, Purbaya: Saya Cuma Bagian Bayar

RI Mau Beli Jet Tempur KF-21 hingga Sukhoi Su-35, Purbaya: Saya Cuma Bagian Bayar

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 16:06 WIB

Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita

Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 15:14 WIB

Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 15:11 WIB

BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota

BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:44 WIB

Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh

Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:34 WIB

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:31 WIB