Laporan Terbaru IPCC Memicu Debat Sengit Perubahan Iklim di PBB

Iwan Supriyatna

Kamis, 26 Agustus 2021 | 11:37 WIB
Laporan Terbaru IPCC Memicu Debat Sengit Perubahan Iklim di PBB
Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]

Suara.com - Laporan penilaian tahunan oleh Panel Antar pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC), yang dirilis beberapa pekan lalu, menyebabkan perdebatan terhadap perubahan iklim semakin sengit.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa percaya bahwa, jika tidak ada pengurangan skala besar dan segera terhadap emisi gas rumah kaca, pembatasan pemanasan global di tingkat mendekati 1,5°C atau bahkan 2°C tidak mungkin diwujudkan.

Banyak perubahan iklim yang diamati belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya dalam ribuan tahun, dan beberapa di antaranya dianggap tidak dapat diubah dalam jangka menengah sekalipun.

“Perubahan iklim telah mempengaruhi setiap wilayah di permukaan Bumi dengan berbagai cara. Perubahan yang kita semua alami akan terus meningkat dengan pemanasan yang bertambah,” ungkap Panmao Zhai, Ketua Kelompok Kerja IPCC ditulis Kamis (26/8/2021).

Gelombang panas yang meningkat, musim panas yang lebih panjang, dan musim dingin yang lebih pendek diperkirakan akan terjadi. Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan banjir, sedangkan daerah lain akan mengalami kekeringan yang parah.

Permukaan laut akan terus meningkat, dan ekosistem laut akan terancam oleh adanya kombinasi antara lautan yang memanas, pengasaman, dan penurunan kadar oksigen, merupakan beberapa poin peringatan dari laporan tersebut.

“Hal tersebut kemungkinan besar akan mengarah pada intensifikasi bencana di tahun ini secara dramatis yang diduga terkait dengan perubahan iklim. Termasuk juga banjir di Jerman dan Belgia yang menewaskan 209 orang, banjir yang menewaskan 33 orang di China, kekeringan terparah kedua dalam sejarah California, dan gelombang panas yang menewaskan 815 orang di Kanada,” ungkap Annabela, Project Manager 21 Hari Vegan dari Sinergia Animal.

Sinergia Animal, sebuah LSM internasional yang bekerja untuk mempromosikan pilihan makanan yang lebih ramah lingkungan untuk membantu memerangi perubahan iklim di Amerika Latin dan Asia Tenggara.

IPCC menyarankan bahwa langkah-langkah kuat untuk mengurangi perubahan iklim harus diambil untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Jika pemanasan global mencapai 2°C, akan berdampak pada pertanian dan kesehatan.

baca juga

Para peneliti memperkirakan bahwa produksi makanan bertanggung jawab atas lebih dari seperempat emisi gas rumah kaca dunia, dengan peternakan dan perikanan bertanggung jawab atas 31% dari total ini.

“Untuk mempersempit jejak karbon ini, tindakan drastis harus diambil, termasuk dalam tingkat individu. Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya adalah dengan mengurangi atau menghilangkan konsumsi produk hewani, yang sejauh ini merupakan bahan pokok paling berpolusi yang kita konsumsi,” tambah Annabela.

Penurunan produksi dan konsumsi produk hewani sangat penting untuk pengurangan emisi gas metana. Gas tersebut merupakan salah satu perhatian utama dalam analisis laporan IPCC, akibat pesatnya peningkatan kadar emisi yang sebagian besar didorong oleh bahan bakar fosil dan sektor industri peternakan.

Selain itu, metana dalam jangka panjang memiliki dampak 25 kali lipat , daripada CO2 di atmosfer.

Dalam sektor peternakan, CO2 sebagian besar dikeluarkan karena adanya perubahan penggunaan lahan – misalnya, penggundulan hutan untuk area penggembalaan atau pertanian kedelai untuk pakan ternak – sementara metana sebagian besar dikeluarkan dari pencernaan hewan-hewan yang diternakkan.

Setiap kilogram daging sapi yang dihasilkan menghasilkan 60kg emisi gas rumah kaca (GRK); untuk membuat 1 kg keju, 21 kg GRK dilepaskan. Angka tersebut, 20 dan 7 kali lebih banyak daripada memproduksi tahu—sumber protein, dalam jumlah yang sama masing-masingnya. Sementara produksi 1 kg susu mewakili 2,8 kg emisi GRK, dimana produksi susu kedelai hanya mengeluarkan 1 kg.

Sinergia Animal mengajak masyarakat untuk mencoba kebiasaan baru dan yang lebih berkelanjutan, seperti mengubah pola makan, untuk membantu menghentikan krisis iklim.

LSM tersebut menawarkan tantangan pola makan nabati, di mana partisipan yang mengikuti tantangan tersebut akan menerima email setiap hari dengan berbagai tips, resep, dan juga dukungan nutrisi selama 21 hari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hujan Ekstrem di Eropa Makan Korban, Kemungkinan karena Pemanasan Global

Hujan Ekstrem di Eropa Makan Korban, Kemungkinan karena Pemanasan Global

News | Rabu, 25 Agustus 2021 | 21:10 WIB

Orang Terkaya Dunia Sebut Manusia Akan Hadapi Kasus Kematian Tinggi Pada Tahun 2060

Orang Terkaya Dunia Sebut Manusia Akan Hadapi Kasus Kematian Tinggi Pada Tahun 2060

Batam | Sabtu, 21 Agustus 2021 | 16:43 WIB

Masyarakat Harus Berkontribusi Atasi Krisis Iklim Agar Tak Ikut Punah

Masyarakat Harus Berkontribusi Atasi Krisis Iklim Agar Tak Ikut Punah

Tekno | Selasa, 17 Agustus 2021 | 23:26 WIB

Terkini

Denny Indrayana: Keputusan Pemakzulan Wapres Gibran Kini di Tangan Parpol

Denny Indrayana: Keputusan Pemakzulan Wapres Gibran Kini di Tangan Parpol

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:16 WIB

Pengamat Ingatkan Bahaya Keadilan Berbasis Asumsi dalam Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Pengamat Ingatkan Bahaya Keadilan Berbasis Asumsi dalam Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:10 WIB

Bawa Mesin EDC ke Pengajian, Cara Unik Erni Lipat Gandakan Pendapatan BRILink Agen

Bawa Mesin EDC ke Pengajian, Cara Unik Erni Lipat Gandakan Pendapatan BRILink Agen

Bri | Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:06 WIB

Sembunyikan 93 Gram Sabu di Boks Motor, Pelarian DPO Narkoba di Serang Berakhir di Jeruji Besi

Sembunyikan 93 Gram Sabu di Boks Motor, Pelarian DPO Narkoba di Serang Berakhir di Jeruji Besi

Banten | Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:01 WIB

Tepis Stigma Ban Serep, Riset Evident Catat 10 Wamen Berkinerja Moncer di Kabinet Merah Putih

Tepis Stigma Ban Serep, Riset Evident Catat 10 Wamen Berkinerja Moncer di Kabinet Merah Putih

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:01 WIB

Manfaatkan Limbah Kain Jadi Produk Estetik, UMKM Binaan BRI Ini Raup Sukses

Manfaatkan Limbah Kain Jadi Produk Estetik, UMKM Binaan BRI Ini Raup Sukses

Bri | Kamis, 08 Oktober 2026 | 19:56 WIB

Cekcok Iuran Sampah Berujung Penganiayaan, Polisi Ringkus Pelaku Pemukulan Pedagang Sayur

Cekcok Iuran Sampah Berujung Penganiayaan, Polisi Ringkus Pelaku Pemukulan Pedagang Sayur

Bogor | Kamis, 08 Oktober 2026 | 19:55 WIB

I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa

I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 19:50 WIB

Dari Anti-Aging ke Skin Longevity, Tren Kecantikan Kini Lebih Fokus pada Kesehatan Kulit

Dari Anti-Aging ke Skin Longevity, Tren Kecantikan Kini Lebih Fokus pada Kesehatan Kulit

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 19:48 WIB

Potret Sesak Rumah Petak 4x3 M di Kampung Bali: Dihuni 7 Orang, Sewa Sehari Rp30 Ribu

Potret Sesak Rumah Petak 4x3 M di Kampung Bali: Dihuni 7 Orang, Sewa Sehari Rp30 Ribu

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 19:45 WIB

×