Icip Nikmatnya Jamu Tradisional dari Desa Wisata Jamu Kiringan Bantul

M Nurhadi

Minggu, 18 Juni 2023 | 23:16 WIB
Icip Nikmatnya Jamu Tradisional dari Desa Wisata Jamu Kiringan Bantul
Gerbang Desa Wisata Jamu Kiringan (Suara.com/hadi)

Suara.com - Berawal dari kegiatan masyarakat menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di lingkungan sekitar, Dusun Kiringan kini berkembang menjadi salah satu Desa Wisata di Bantul dengan potensi besar menjadi kampung jamu tradisional secara nasional.

Awalnya, warga di dusun yang kini dikenal sebagai ‘Desa Wisata Jamu’ itu memasarkan produk mereka secara konvensional layaknya para penjual jamu di masa lalu, yakni dengan jamu gendong. Kemudian, seiring berjalannya waktu, beberapa warga lantas memanfaatkan sepeda dan sepeda motor saat berjualan jamu.

"Setiap pagi kita berkeliling ke berbagai tempat. Seperti burung yang terbang beriringan, ada yang menggunakan sepeda motor, ada juga yang menggunakan sepeda tua," ujar Murjiyati, Ketua Kelompok Jamu Seruni Putih sekaligus pemilik merk jamu ‘Riski Barokah’ saat diwawancarai awak media di Kantor Kepala Dusun Kiringan pada Jumat (9/6/2023).

Perempuan 53 tahun itu menuturkan, saat ini ada 132 warga Kiringan yang menjual jamu, dengan 90 orang di antaranya masih aktif menjual jamu hingga sekarang. Sisanya, hanya menjual jamu di waktu-waktu tertentu saja.

Dari jerih payahnya itu, dalam satu hari, Murjiyati bisa mendapatkan omzet hingga Rp700 ribu dalam sehari. Nominal itu berasal dari penjualan sekitar 40 botol jamu dalam sehari. Tiap botol memiliki harga yang bervariatif mulai dari Rp8.000 hingga Rp15.000. Pendapatan itu belum termasuk dari hasil jualan jamu instan dan pesanan dari berbagai pihak di momen tertentu.

Murjiyati dan warga dari Kiringan turut hadir dalam Bazaar UMKM BRILian yang diadakan BRI Cik Di Tiro Jogja [Suara.com/Hadi]
Murjiyati dan warga dari Kiringan turut hadir dalam Bazaar UMKM BRILian yang diadakan BRI Cik Di Tiro Jogja [Suara.com/Hadi]

Murjiyati memastikan, produk jamu yang ia pasarkan 100 persen terbuat dari bahan organik tanpa tambahan bahan kimia.

“Jadi, kalau tidak dimasukkan ke dalam kulkas, sebaiknya segera dikonsumsi. Kalau disimpan di dalam kulkas bisa sampai empat atau lima hari,” ungkap sosok yang sudah menjual jamu sejak tahun 1985 itu.

Usahanya kini juga kian sukses melalui dukungan yang diberikan Bank Rakyat Indonesia. Murjiyati menuturkan, bank BUMN itu berperan besar dalam mendukung usaha jamu miliknya semakin berkembang.

Dukungan itu melalui KUR BRI dan dana hibah yang ia gunakan untuk terus mengembangkan produk UMKM bersama dengan masyarakat di desanya.

baca juga

Warga di Dusun Kiringan, Dusun Kiringan, Jetis, Bantul kini tidak perlu risau dengan keberlangsungan dari prospek desa mereka sebagai kampong jamu. Pasalnya, menurut Murjiyati, minat generasi muda setempat terhadap pengembangan dan penjualan jamu cukup tinggi.

Salah satunya putri Murjiyati yang ia sebut sudah jualan jamu sejak masih menjadi siswi SMP. Kala itu, putrinya menjual produk jamu yang sudah di-packing botol ke sejumlah kawan sejawatnya.

Hingga kini, sang putri masih berjualan jamu meski sudah bekerja sebagai perawat.

Penjual jamu dari Desa Wisata Jamu Kiringan [Ist]
Penjual jamu dari Desa Wisata Jamu Kiringan [Ist]

Waktu berjalan, nama Dusun Kiringan sebagai Desa Wisata Jamu tradisional menyebar ke berbagai daerah sekitar. Permintaan terhadap jamu pun meningkat. Hingga akhirnya, Dusun Kiringan bertransformasi menjadi Desa Wisata Jamu Kiringan dan secara resmi diresmikan pada tahun 2016 dengan nama Desa Wisata Jamu Gendong.

Jenis jamu yang dijual di Desa Wisata Jamu tradisional Kiringan juga bervariatif, mulai dari beras kencur, hingga secang. Setidaknya, ada 10 jenis jamu yang kini mereka pasarkan.

Ditambah lagi, dengan inovasi yang terus dilakukan, kini sudah tersedia jamu instan dalam bentuk bubuk yang membuat jamu terkait membuatnya lebih higienis, mudah dibawa, dan dapat dikirim ke seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, jamu instan juga memiliki masa kedaluwarsa yang lebih lama dibandingkan dengan jamu tradisional berbentuk cair.

Tawarkan Paket Wisata

Tidak hanya menjual produk jamu, tingginya minat terhadap Desa Wisata Jamu tradisional Dusun Kiringan juga membuat potensi daerah itu semakin berkembang.

Pasalnya, sejumlah kalangan dari wisatawan hingga peneliti juga tertarik untuk dapat merasakan dan melihat langsung proses pembuatan jamu tradisional tersebut. Mulai dari memilih bahan-bahan alami, meracik jamu, hingga dapat meminum jamu tersebut dengan menggunakan tempurung kelapa. Pengunjung juga dapat membawa pulang hasil racikan jamu yang diajarkan secara turun temurun.

"Resep jamu kami warisan turun-temurun sejak tahun 1950-an. Kami mulai menjualnya pada tahun 90-an, dan terus berlanjut hingga sekarang," kata Kepala Dusun Kiringan, Sudiyatmi.

Sudiyatmi saat diwawancarai awak media di kediamannya, Jumat (9/6/2023) [Suara.com/Hadi]
Sudiyatmi saat diwawancarai awak media di kediamannya, Jumat (9/6/2023) [Suara.com/Hadi]

Bagi pengunjung yang ingin merasakan menjadi peracik serta sehari-hari menjadi penjual jamu gendong juga bisa menginap di Dusun Kiringan karena saat ini sudah tersedia penginapan yang siap menerima tamu atau para peneliti.

Sejarah Desa Wisata Jamu Tradisional Kiringan

Melansir dari laman resmi Kabupaten Bantul, sejarah Desa Wisata Jamu Kiringan ternyata sudah ada sejak Belanda hendak meninggalkan Nusantara pada tahun 1950-an.

Kala itu, seorang ibu bernama Joparto bekerja sebagai buruh pembatik di Kota Yogyakarta. Suatu hari, dia bertemu dengan seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta yang menyarankannya untuk beralih profesi menjadi penjual jamu.

Sebagai hasilnya, Ibu Joparto (ibu dari Bu Pur) menjadi peracik dan penjual jamu yang memiliki nilai ekonomi lebih baik daripada menjadi buruh pembatik.

Karena penjualan dilakukan dengan cara digendong, awalnya jamu ini disebut "Jamu Gendong". Dari awalnya bertambah dua orang, hingga kini ratusan orang jadi pengrajin jamu dari Kiringan.

Seiring berjalannya waktu pula, kebutuhan bahan baku jam uterus meningkat hingga petani local tidak lagi mampu memasok bahan baku jamu di Dusun Kiringan.

Sudiyatmi mengatakan, hal ini kemudian membuat warganya banyak memilih mendatangkan bahan baku dari daerah lain seperti Sleman, Magelang hingga Purworejo.

Sudiyatmi mengaku tidak khawatir tentang keberlanjutan usaha jamu di kampungnya karena minat masyarakat sekitar, terutama generasi muda, terhadap jamu sangat tinggi.

"Jika ibu-ibu yang menjual jamu sudah lanjut usia, mereka mengajak anak-anak mereka untuk mengantar jamu ke pelanggan sambil memperkenalkan anak-anak mereka," kata dia.

Menurut Sudiyatmi, tidak sedikit para generasi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh pabrik kemudian memutuskan untuk berjualan jamu.

Tingginya minat para pemuda serta pelatihan yang rutin dilakukan jadi faktor penting regenerasi industri jamu tradisional di Dusun Kiringan bisa terus lestari.

Sebagai contoh, Sudiyatmi menuturkan, dua tahun lalu, Pemerintah setempat melalui Dinas Koperasi memberikan dukungan dengan memberi pelatihan digitalisasi dan pemasaran online jamu tradisional.

“Diajari proses pemasaran, packaging, foto produk, hingga Google Business," ungkapnya.

Secara perlahan tapi pasti, regenari pembuat jamu tradisional di Dusun Kiringan terus berjalan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat hingga BRI sebagai salah satu bank yang berkomitmen mendukung UMKM, Sudiyatmi meyakini, jamu tradisional di kampungnya akan terus lestari di masa depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Ada Logo saat Press Conference, BRI Diduga Takkan Sponsori Liga 1, Netizen Sebut Freeport Selanjutnya

Tak Ada Logo saat Press Conference, BRI Diduga Takkan Sponsori Liga 1, Netizen Sebut Freeport Selanjutnya

Cianjur | Minggu, 18 Juni 2023 | 07:16 WIB

Ajak Anak Muda untuk Berwirausaha, Pj Wali Kota Pekanbaru: Cari Pola untuk Mengembangkan UMKM

Ajak Anak Muda untuk Berwirausaha, Pj Wali Kota Pekanbaru: Cari Pola untuk Mengembangkan UMKM

Pekanbaru | Sabtu, 17 Juni 2023 | 22:15 WIB

Pengakuan Alumni SMK Ma'arif Buka Bengkel Beromzet Rp 100 Juta Perbulan, Dibina Oleh Honda

Pengakuan Alumni SMK Ma'arif Buka Bengkel Beromzet Rp 100 Juta Perbulan, Dibina Oleh Honda

Purwokerto | Sabtu, 17 Juni 2023 | 18:15 WIB

Rencana Pembentukan PLUT UMKM, Fasilitasi Pelaku Usaha di Banjarnegara

Rencana Pembentukan PLUT UMKM, Fasilitasi Pelaku Usaha di Banjarnegara

Purwokerto | Sabtu, 17 Juni 2023 | 13:17 WIB

Bazaar UMKM BRILian: Dukungan BRI Buat Pelaku UMKM Jogja Makin Mapan

Bazaar UMKM BRILian: Dukungan BRI Buat Pelaku UMKM Jogja Makin Mapan

Bisnis | Jum'at, 16 Juni 2023 | 21:36 WIB

BRI Buka Lowongan Kerja pada Posisi Frontliner, Lulusan SMA SMK Boleh Daftar hingga Usia 25 Tahun

BRI Buka Lowongan Kerja pada Posisi Frontliner, Lulusan SMA SMK Boleh Daftar hingga Usia 25 Tahun

Ntb | Jum'at, 16 Juni 2023 | 15:30 WIB

Terkini

Dari Ekonomi hingga AI, BCA Angkat Beragam Isu di Indonesia Knowledge Forum XV

Dari Ekonomi hingga AI, BCA Angkat Beragam Isu di Indonesia Knowledge Forum XV

Foto | Rabu, 14 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Waspada Hujan Petir dan Asap Kabut, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kota Besar Hari Ini

Waspada Hujan Petir dan Asap Kabut, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kota Besar Hari Ini

Banten | Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla, anggaran Disorot

Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla, anggaran Disorot

Video | Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun

Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun

Jabar | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Cek Harga Cabai Merah dan Unggas di Rangkasbitung Terbaru

Cek Harga Cabai Merah dan Unggas di Rangkasbitung Terbaru

Banten | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:48 WIB

Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya

Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya

Jabar | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:41 WIB

Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 494,3 T per September 2026, Suahasil Klaim Masih On Track

Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 494,3 T per September 2026, Suahasil Klaim Masih On Track

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:39 WIB

Mobil Kijang Bawa 8 Jeriken Bensin Terbakar di Bogor, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

Mobil Kijang Bawa 8 Jeriken Bensin Terbakar di Bogor, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

Bogor | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:37 WIB

Maya Miranda Ambarsari Tekankan Solidaritas Perempuan untuk Bangun Bengkulu

Maya Miranda Ambarsari Tekankan Solidaritas Perempuan untuk Bangun Bengkulu

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Modus Pijat Panggilan Berujung Pemerasan, Detektif Jubun Ingatkan 5 Hal Ini

Modus Pijat Panggilan Berujung Pemerasan, Detektif Jubun Ingatkan 5 Hal Ini

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:07 WIB

×