Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.615.000
Beli Rp2.470.000
IHSG 5.999,038
LQ45 587,746
Srikehati 290,482
JII 351,378
USD/IDR 17.937

Produk China Banjiri Pasar RI, Disebut Penjajahan Era Modern

Mohammad Fadil Djailani

Senin, 04 September 2023 | 14:56 WIB
Produk China Banjiri Pasar RI, Disebut Penjajahan Era Modern
Ilustrasi. Kondisi ekonomi Negeri Tirai Bambu di negerinya sendiri sudah mengalami stagnan dalam dua tahun belakangan ini, sehingga pemerintah China 'menjajah' negara lain untuk terus mengembangkan perekonomiannya.

Suara.com - Banjirnya produk China di pasar dalam negeri membuat Content Creator dan Founder Sevenpreneur, Raymond Chin merasa ketar-ketir, untuk itu dirinya menggagas Revolusi Lokal, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk membeli dan menjadi konsumen produk lokal, baik di pasar domestik maupun global.

Bertepatan dengan Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada hari ini Senin (4/9/2023), gerakan Revolusi Lokal ini sendiri muncul dari kekhawatiran Raymond terhadap kondisi pasar Indonesia saat ini yang didominasi oleh produk dan perusahaan asal China, yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

"Ini penjajahan era modern dan kita lagi di posisi yang kalah telak," ujar Raymond melihat pertumbuhan bisnis perusahaan China yang kian menggurita di Tanah Air dikutip Senin (4/9/2023).

Sekadar informasi, kondisi ekonomi Negeri Tirai Bambu di negerinya sendiri sudah mengalami stagnan dalam dua tahun belakangan ini, sehingga pemerintah China 'menjajah' negara lain untuk terus mengembangkan perekonomiannya.

Di sisi lain, Indonesia menjadi sasaran empuk bagi China dengan memanfaatkan sifat konsumerisme orang-orang Indonesia. Sayangnya, masyarakat Indonesia sendiri belum banyak yang mengetahui 'penjajahan' ini, yang menurut Raymond masih berada pada tahap awal.

Sebagai contoh untuk produk skincare. Berdasarkan data dari marketplace yang telah diolah, produk skincare asal China berhasil membalikkan keadaan dalam kurun dua tahun saja. Pada tahun 2020, pangsa pasar produk skincare China di Indonesia hanya 5,7% saja. Namun pada 2022, penguasaan pasarnya meroket hingga 57,2%, mengalahkan skincare buatan lokal.

Sedangkan di sektor industri lainnya, beberapa merek kenamaan seperti OPPO, Vivo, Xiaomi, Aice, Mobile Legends Bang Bang, Mixue, TikTok dan The Originote, selalu berada di daftar teratas kategori produk mereka masing-masing.

Sebagai generasi muda, Raymond mencoba menunjukkan kontribusinya pada negara. Dari sudut pandangnya sebagai seorang pengusaha, ia mencoba menganalisis bagaimana China bisa mengalami kemajuan seperti ini.

Secara garis besar, Raymond menyebut bahwa China fokus untuk mengembangkan tiga aspek yang sangat penting bagi masa depan, yakni infrastruktur, teknologi, dan edukasi.

baca juga

Dengan demikian, investasi dari negara asing membanjiri China. Itu berarti, masyarakat setempat akan mendapatkan penghasilan dan pengetahuan, yang secara tidak langsung akan meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Negara pun mendapatkan pemasukan dari pajak dan digunakan untuk memperkuat infrastruktur.

Kemudian dari sisi edukasi, pemerintah China tidak tanggung untuk memberikan upah yang sangat besar bagi para pengajar hingga puluhan juta rupiah per bulannya. Ironisnya, hal ini sangat terbalik dengan gaji guru di Indonesia yang masih jauh dari ambang sejahtera.

Ringkasnya, infrastuktur yang kuat dengan SDM yang tinggi membuat China tidak kehabisan inovasi dalam hal teknologi yang diproyeksikan bakal menjadi investasi paling mahal di masa depan.

Oleh karena itu, Raymond mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat dalam Revolusi Lokal yang secara garis besar melibatkan masyarakat Indonesia, dari hulu ke hilir.

Dari sisi consumer, Raymond bukan melarang masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi brand luar, tapi dengan menambah atau meningkatkan porsi konsumsi untuk merek lokal.

"Pahami bahwa harga barang brand lokal yang lebih mahal, produknya tiba lebih lama adalah imbas dari kendala yang masih dialami para produsen seperti supply chain dalam negeri yang masih terbatas dan manufacture proses yang belum canggih," tambahnya.

Kemudian dari aspek kontribusi pemerintah. Menurut Raymond, pemerintah Indonesia perlu menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap akses masuk merek asing, sembari mendukung brand lokal untuk naik level. Dukungan yang diberikan bisa melalui pendanaan, pembinaan, dukungan pada UMKM, dan membuat program-program lainnya untuk kemajuan bisnis lokal.

Revolusi Lokal juga memerlukan kontribusi dari pihak swasta untuk mendukung para pemain-pemain di skala menengah dan besar agar bisa naik level dan bersaing di skala global.

Tak sekadar berbagi pendapat, ke depannya Raymond juga akan secara aktif membuka diskusi dengan pelaku bisnis, jajaran pemerintah, dan pihak-pihak terkait untuk menjalankan gerakan Revolusi Lokal, seperti yang dituangkan dalam channel YouTube miliknya.

Fenomena downtrading ini, Widyanta berharap, dapat menjadi bagian yang dipertimbangkan ulang pemerintah dalam menentukan kebijakan kenaikan cukai. “Tentu saja ini perlu dipikirkan kembali oleh negara kalau memang akhirnya berdampak serius pada (penerimaan) negara itu sendiri,” tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mendag Zulhas Bakal Habis-habisan Bela UMKM

Mendag Zulhas Bakal Habis-habisan Bela UMKM

Bisnis | Kamis, 31 Agustus 2023 | 15:31 WIB

Shopee Punya Gudang Baru Buat Simpan Produk Eskpor Para UMKM

Shopee Punya Gudang Baru Buat Simpan Produk Eskpor Para UMKM

Bisnis | Rabu, 30 Agustus 2023 | 17:55 WIB

Menteri BUMN Apresiasi PRS BRI Berdayakan UMKM Fashion untuk Go Global

Menteri BUMN Apresiasi PRS BRI Berdayakan UMKM Fashion untuk Go Global

Bisnis | Rabu, 30 Agustus 2023 | 12:28 WIB

Terkini

Biang Kerok IHSG Melorot 1,72% ke Level 5.896

Biang Kerok IHSG Melorot 1,72% ke Level 5.896

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 17:26 WIB

Purbaya Kembali Guyur Dana SAL Rp 100 T ke Himbara, Total Kas Negara Jadi Rp 400 T

Purbaya Kembali Guyur Dana SAL Rp 100 T ke Himbara, Total Kas Negara Jadi Rp 400 T

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 17:17 WIB

Pengguna Pertamax Mulai Bergeser ke Pertalite, Stok Aman?

Pengguna Pertamax Mulai Bergeser ke Pertalite, Stok Aman?

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:59 WIB

Mahasiswa Jangan Khawatir, Industri Petrokimia Butuh Banyak SDM

Mahasiswa Jangan Khawatir, Industri Petrokimia Butuh Banyak SDM

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:49 WIB

BGN Kembali Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya Sebut Kemenkeu Kini Ikut Awasi SPPG

BGN Kembali Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya Sebut Kemenkeu Kini Ikut Awasi SPPG

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:43 WIB

Kewajiban NIB bagi Pedagang Online: Solusi atau Beban Baru?

Kewajiban NIB bagi Pedagang Online: Solusi atau Beban Baru?

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:23 WIB

Danantara Bentuk BUMN Ekspor DSI, Bidik Kebocoran Devisa Rp 5.500 Triliun Lebih

Danantara Bentuk BUMN Ekspor DSI, Bidik Kebocoran Devisa Rp 5.500 Triliun Lebih

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:10 WIB

Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD

Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:09 WIB

Pedagang Asing Jualan di E-Commerce RI Sekarang Semakin Sulit

Pedagang Asing Jualan di E-Commerce RI Sekarang Semakin Sulit

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 15:55 WIB

Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar

Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 15:44 WIB