Disinformasi Dinilai Bisa Goyang Kepercayaan Investor dan Iklim Usaha pada 2026

Achmad Fauzi

Rabu, 07 Januari 2026 | 17:20 WIB
Disinformasi Dinilai Bisa Goyang Kepercayaan Investor dan Iklim Usaha pada 2026
Ilustrasi investor. [Freepik]
baca 10 detik
  • Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) berpotensi mengganggu iklim usaha dan kepercayaan investor di Indonesia pada tahun 2026.
  • DFK dianggap risiko struktural yang melemahkan stabilitas ekspektasi pasar serta menghambat eksekusi kebijakan strategis negara.
  • Mitigasi efektif memerlukan respons berbasis data yang konsisten dan peningkatan literasi ekspektasi ekonomi publik.

Suara.com - Disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) dinilai berpotensi menjadi faktor non-ekonomi yang dapat mengganggu kepercayaan investor dan iklim usaha di Indonesia pada 2026.

Risiko ini muncul seiring meningkatnya penggunaan narasi manipulatif untuk menghambat eksekusi kebijakan dan program strategis negara, terutama pada momen fiskal yang krusial.

Evident Institute menilai DFK tidak lagi bisa dipandang sekadar persoalan komunikasi publik. Dalam konteks ekonomi, DFK berpotensi melemahkan stabilitas ekspektasi pasar, meningkatkan ketidakpastian kebijakan, dan berdampak pada persepsi pelaku usaha serta investor.

Ilustrasi Usaha Franchise. (Dok: Vecteezy)
Ilustrasi Usaha Franchise. (Dok: Vecteezy)

"Dalam konteks ini, Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) tidak lagi dapat diperlakukan sebagai isu komunikasi semata, melainkan sebagai risiko struktural terhadap stabilitas ekspektasi publik dan kepercayaan ekonomi," ujar Direktur Ekonomi Evident Institute, Rijadh Djatu Winardi di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Menurut Rijadh, gangguan terhadap ekspektasi publik memiliki implikasi langsung terhadap iklim investasi. Ketika kepercayaan publik dan pelaku pasar melemah, biaya koordinasi kebijakan cenderung meningkat dan efektivitas komunikasi ekonomi pemerintah ikut tertekan.

Evident Institute mencatat, sepanjang 2025 lonjakan DFK menunjukkan koeksistensi temporal dengan perubahan indikator persepsi ekonomi. Kondisi ini mengindikasikan melemahnya tingkat kepercayaan publik pada periode tertentu, terutama saat isu fiskal dan politik menjadi sorotan utama.

"Hal ini terjadi terutama pada periode fiskal dan politik yang sensitif. Jadi dalam hal ini DFK berfungsi sebagai pengejut (shock) non-ekonomi terhadap ekspektasi publik," tutur Rijadh.

Ia menjelaskan, bagi investor dan pelaku usaha, stabilitas persepsi sama pentingnya dengan indikator fundamental. Lonjakan DFK di periode kritis dinilai dapat memperbesar volatilitas sentimen pasar dan menciptakan ketidakpastian yang berisiko menahan arus investasi.

Tekanan tersebut diperkuat oleh masifnya persebaran DFK melalui platform media sosial dan aplikasi pesan tertutup. Evident Institute menilai Facebook dan TikTok memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk persepsi publik, khususnya pada periode sensitif.

baca juga

Sementara itu, Direktur Hukum Evident Institute Abdul Luky Shofiul Azmi menegaskan, mitigasi DFK harus dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan friksi baru yang justru memperburuk iklim kepercayaan.

"Pemerintah perlu menggeser pola respons dari bantahan reaktif menuju counter-narrative berbasis data yang konsisten, cepat, dan mudah diakses. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan wacana, melainkan menutup ruang friksi informasi sebelum narasi hoaks terlanjur dinormalisasi sebagai kebenaran sosial," paparnya.

Di sisi lain, Eksekutif Direktur Evident Institute Rinatania Anggraeni Fajriani menilai literasi ekspektasi ekonomi menjadi kunci untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif.

Menurutnya, disinformasi ekonomi kerap memanfaatkan ketidakpastian dan istilah teknis yang tidak akrab bagi publik, mulai dari isu APBN, pajak, hingga subsidi.

"Tanpa upaya sistematis untuk menjembatani kesenjangan pemahaman ini, ruang panik akan terus tersedia bagi narasi manipulatif," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Miskomunikasi Rugikan Perusahaan USD 37 Miliar Setiap Tahunnya

Miskomunikasi Rugikan Perusahaan USD 37 Miliar Setiap Tahunnya

Bisnis | Selasa, 06 Januari 2026 | 14:41 WIB

Investor Ritel Tak Lagi Terkecoh, OJK Rampungkan Aturan Soal Influencer Saham

Investor Ritel Tak Lagi Terkecoh, OJK Rampungkan Aturan Soal Influencer Saham

Bisnis | Minggu, 04 Januari 2026 | 12:42 WIB

Apa Itu ROA? Kenali Fungsi dan Rumusnya untuk Menilai Kinerja Bisnis

Apa Itu ROA? Kenali Fungsi dan Rumusnya untuk Menilai Kinerja Bisnis

Bisnis | Kamis, 01 Januari 2026 | 09:01 WIB

Terkini

Waspada Hujan Petir dan Asap Kabut, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kota Besar Hari Ini

Waspada Hujan Petir dan Asap Kabut, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kota Besar Hari Ini

Banten | Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla, anggaran Disorot

Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla, anggaran Disorot

Video | Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun

Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun

Jabar | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Cek Harga Cabai Merah dan Unggas di Rangkasbitung Terbaru

Cek Harga Cabai Merah dan Unggas di Rangkasbitung Terbaru

Banten | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:48 WIB

Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya

Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya

Jabar | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:41 WIB

Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 494,3 T per September 2026, Suahasil Klaim Masih On Track

Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 494,3 T per September 2026, Suahasil Klaim Masih On Track

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:39 WIB

Mobil Kijang Bawa 8 Jeriken Bensin Terbakar di Bogor, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

Mobil Kijang Bawa 8 Jeriken Bensin Terbakar di Bogor, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

Bogor | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:37 WIB

Maya Miranda Ambarsari Tekankan Solidaritas Perempuan untuk Bangun Bengkulu

Maya Miranda Ambarsari Tekankan Solidaritas Perempuan untuk Bangun Bengkulu

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Modus Pijat Panggilan Berujung Pemerasan, Detektif Jubun Ingatkan 5 Hal Ini

Modus Pijat Panggilan Berujung Pemerasan, Detektif Jubun Ingatkan 5 Hal Ini

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:07 WIB

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memanas! Siswi Protes, 37 Orang Diciduk

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memanas! Siswi Protes, 37 Orang Diciduk

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 21:50 WIB

×