- Luhut sebut ekonomi 5% bukan prestasi; target 8% untuk jadi negara maju.
- Waspada 'Middle Income Trap' sebelum bonus demografi habis pada 2042.
- Genjot investasi via reformasi pasar modal seperti keberhasilan India.
Suara.com - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5% belum bisa dibanggakan.
Meski angka tersebut bertahan sepanjang 2025 di tengah gejolak geopolitik, Luhut menyebut Indonesia butuh akselerasi hingga 8% demi keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
"Jadi kalau 5 persen menurut saya bukan prestasi atau sampai 6 persen tidak prestasi. Kami bermimpi 8-9 persen dalam beberapa tahun ke depan," ujar Luhut dalam diskusi 'Dinamika Ekonomi Global dan Nasional' di Kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Luhut mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tenggat waktu yang ketat. Bonus demografi yang dinikmati saat ini diprediksi akan habis pada tahun 2042. Jika pertumbuhan ekonomi tidak digenjot ke level 8% sebelum masa itu habis, Indonesia terancam gagal menjadi negara maju.
"Ingat, demografi bonus kita habis tahun 2041-2042. Kalau itu habis, kita sudah pasti di middle income trap. Ini garis yang harus kita perhatikan," tegasnya.
Untuk mencapai target ambisius Presiden Prabowo Subianto tersebut, Luhut menekankan pentingnya investasi. Mengingat APBN hanya berkontribusi sekitar 15-16% terhadap pertumbuhan ekonomi, maka 84-86% sisanya harus datang dari investasi.
"Investor harus kita terima dengan karpet merah," imbuh Luhut.
Salah satu strategi utamanya adalah melakukan reformasi pasar modal. Luhut merujuk pada keberhasilan India dalam merestrukturisasi pasar modalnya yang mampu menarik investasi hingga sembilan kali lipat.
"Kita belajar dari India. Kalau pasar modal diperbaiki, Indonesia akan semakin dilirik, baik melalui pasar modal maupun investasi langsung," pungkasnya optimis.
Baca Juga: Purbaya Bocorkan Strategi Ekonomi ala Prabowo, Singgung Sumitronomics