Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.496,891
LQ45 639,675
Srikehati 310,959
JII 394,346
USD/IDR 17.690

IPOT Bongkar Kelemahan Aplikasi Trading yang Masih Andalkan Data Historis

Achmad Fauzi

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:35 WIB
IPOT Bongkar Kelemahan Aplikasi Trading yang Masih Andalkan Data Historis
Ilustrasi Pasar Saham (pixabay)
baca 10 detik
  • PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan LADI, indikator akumulasi/distribusi saham real-time pertama bagi investor ritel Indonesia.
  • LADI diklaim menawarkan standar baru melalui indikator berbasis streaming data, mengatasi kelemahan data historis aplikasi trading mayoritas.
  • IPOT mengembangkan engine LADI secara internal, mendemokratisasikan teknologi trading institusional yang sebelumnya sulit diakses ritel.

Suara.com - Di tengah lonjakan investor ritel dalam beberapa tahun terakhir, standar teknologi aplikasi trading dinilai belum sepenuhnya naik kelas. Mayoritas platform masih beroperasi sebagai data viewer menampilkan indikator berbasis data historis atau snapshot bukan engine analitik berbasis streaming real-time.

Di tengah kondisi tersebut, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan versi terbaru LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator), indikator akumulasi dan distribusi saham berbasis data yang terbaru atau real-time yang diklaim menjadi yang pertama dan satu-satunya tersedia bagi investor ritel di Indonesia.

Peluncuran ini bukan sekadar penambahan fitur. IPOT secara terbuka menyoroti kelemahan struktural sebagian besar aplikasi sekuritas yang masih mengandalkan indikator berbasis data masa lalu. Padahal, pasar saham bergerak setiap detik.

IPOT menyebut LADI menghadirkan standar baru melalui indikator berbasis streaming data, memungkinkan investor memantau beberapa saham dalam satu layar, membandingkan performa 1D, 1M, 1Y, YTD hingga 10Y secara dinamis, serta mendeteksi tekanan akumulasi dan distribusi tanpa delay.

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, menegaskan urgensi kecepatan dalam membaca pasar.

"Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi. Dalam trading, gap tersebut dapat berarti masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi," ujarnya seperti dikutip, Rabu (25/2/2026).

Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The
Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The

Menurut IPOT, penggunaan indikator non-real-time bukan sekadar keterbatasan fitur, melainkan memiliki implikasi risiko nyata.

Keterlambatan membaca fase akumulasi atau distribusi berpotensi membuat investor masuk ketika momentum hampir berakhir, atau keluar setelah distribusi berlangsung.

Selain itu, indikator berbasis data historis dinilai dapat memunculkan false sense of timing. Investor merasa telah membaca sinyal pasar, padahal indikator merepresentasikan kondisi masa lalu, bukan tekanan transaksi yang sedang berlangsung.

baca juga

Dalam pasar yang volatil, pendekatan reaktif berbasis harga tanpa visibilitas tekanan underlying secara langsung dinilai meningkatkan risiko kesalahan eksekusi. Apalagi jika investor harus berpindah halaman untuk melakukan verifikasi tambahan karena tidak terintegrasi dalam satu tampilan.

IPOT menilai, jika pasar bergerak real-time, maka indikator juga seharusnya real-time. Namun mengembangkan sistem semacam itu bukan perkara sederhana.

Dibutuhkan infrastruktur data streaming berkecepatan tinggi, sistem low-latency, kemampuan algorithmic coding presisi tinggi, hingga tim kuantitatif internal untuk merancang dan menguji model analitik secara berkelanjutan.

Banyak platform memilih bertahan pada model data viewer karena lebih ringan dan sederhana secara sistem. IPOT justru mengambil jalur berbeda dengan membangun engine algoritmik LADI secara internal agar indikator diperbarui secara kontinu mengikuti transaksi yang terjadi di pasar.

Accummulation/Distribution Indicator sendiri lazim digunakan dalam trading institusional untuk membaca tekanan beli dan jual sebelum sepenuhnya tercermin dalam harga. Dengan menghadirkan LADI ke investor ritel, IPOT menyebut langkah ini sebagai bentuk demokratisasi teknologi institutional-grade.

Langkah tersebut sekaligus menandai pergeseran paradigma industri sekuritas, dari kompetisi berbasis kemudahan tampilan menuju kompetisi berbasis kualitas engine analitik.

"Investor berhak mendapatkan teknologi yang selaras dengan dinamika pasar. Jika pasar bergerak real-time, indikator seharusnya juga real-time," pungkas Moleonoto.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Skandal Manipulasi, Ini Saham-saham yang 'Digoreng' Belvin

Skandal Manipulasi, Ini Saham-saham yang 'Digoreng' Belvin

Bisnis | Rabu, 25 Februari 2026 | 08:01 WIB

Profil PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), Saham yang 'Banting Stir'

Profil PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), Saham yang 'Banting Stir'

Bisnis | Rabu, 25 Februari 2026 | 07:01 WIB

Kantongi Laba Rp1,3 T, Bos CBDK Sulap Kawasan Ini Jadi Simpul Ekonomi Baru

Kantongi Laba Rp1,3 T, Bos CBDK Sulap Kawasan Ini Jadi Simpul Ekonomi Baru

Bisnis | Selasa, 24 Februari 2026 | 14:26 WIB

Terkini

Karhutla Meluas, 50 Hektare Lahan Gambut di OKI Terbakar

Karhutla Meluas, 50 Hektare Lahan Gambut di OKI Terbakar

Foto | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:10 WIB

Kuasa Hukum Febrie Klaim Temukan 30 Pelanggaran Prosedur Penyidikan Kejagung

Kuasa Hukum Febrie Klaim Temukan 30 Pelanggaran Prosedur Penyidikan Kejagung

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:10 WIB

Dari Sofifi, BRI Dorong UMKM dan Potensi Desa Lewat Semarak Merah Putih

Dari Sofifi, BRI Dorong UMKM dan Potensi Desa Lewat Semarak Merah Putih

Jawa Tengah | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:09 WIB

Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik

Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:09 WIB

Kembali Ungkit STY, Mantan Mertua Pratama Arhan Kritik John Herdman!

Kembali Ungkit STY, Mantan Mertua Pratama Arhan Kritik John Herdman!

Your Say | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:09 WIB

BRI Dorong UMKM Tumbuh Lewat Semarak Merah Putih di Sofifi Maluku Utara

BRI Dorong UMKM Tumbuh Lewat Semarak Merah Putih di Sofifi Maluku Utara

Bekaci | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:07 WIB

BRI Hadirkan Semarak Merah Putih di Sofifi, Buka Ruang UMKM Tumbuh

BRI Hadirkan Semarak Merah Putih di Sofifi, Buka Ruang UMKM Tumbuh

Kaltim | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:06 WIB

Perang Belum Usai, 1,6 Juta Anak Ukraina Disebut Masih Terpisah dari Keluarga

Perang Belum Usai, 1,6 Juta Anak Ukraina Disebut Masih Terpisah dari Keluarga

Your Say | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Semarak Merah Putih di Sofifi, BRI Dorong UMKM dan Potensi Ekonomi Desa

Semarak Merah Putih di Sofifi, BRI Dorong UMKM dan Potensi Ekonomi Desa

Kalbar | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:04 WIB

Semarak Merah Putih BRI Hadir di Sofifi Maluku Utara, UMKM Dapat Berkah

Semarak Merah Putih BRI Hadir di Sofifi Maluku Utara, UMKM Dapat Berkah

Bisnis | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:03 WIB

×