- US CENTCOM melancarkan serangan udara presisi terhadap fasilitas militer bawah tanah di wilayah pedalaman Iran guna melemahkan kekuatan Teheran.
- Pernyataan Presiden AS mengenai potensi berakhirnya konflik dalam waktu dekat memicu optimisme investor di pasar modal global.
- Bursa saham Asia seperti Nikkei dan KOSPI mencatatkan lonjakan penguatan signifikan merespons sinyal deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Suara.com - Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM) baru-baru ini mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan udara taktis yang menargetkan fasilitas militer di wilayah pedalaman Iran.
Operasi militer ini dilakukan di tengah ketegangan yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah, namun di sisi lain memberikan dinamika baru yang cukup mengejutkan pada pergerakan pasar modal di kawasan Asia.
Pihak militer Amerika Serikat mengeklaim bahwa serangan udara tersebut menyasar "underground military targets deep inside Iran".
Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis oleh pihak CENTCOM, pasukan garda depan AS menjatuhkan "precision munitions" dalam melancarkan serangan tersebut.
Langkah agresif ini disebut sengaja dilakukan oleh pihak Washington dengan tujuan utama untuk semakin mendegradasi "ability to project power in meaningful ways beyond its borders" yang saat ini dimiliki oleh pihak Teheran.
Informasi mengenai operasi militer krusial ini juga dibagikan secara terbuka oleh pihak CENTCOM melalui unggahan di platform media sosial X.
Unggahan tersebut disertai dengan sebuah video pendek berdurasi 13 detik yang memperlihatkan visualisasi kepulan asap pekat dan ledakan besar di sebuah wilayah yang tampak seperti daerah pegunungan gersang di Iran.
Dalam video yang diunggah oleh Komando Pusat AS tersebut, terlihat amunisi berpresisi tinggi menghantam target dengan akurasi yang kuat.
Meskipun tidak disebutkan secara terperinci mengenai titik koordinat pasti dari fasilitas bawah tanah tersebut demi alasan keamanan operasi, visualisasi pegunungan mengonfirmasi bahwa target berada di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau oleh pergerakan pasukan darat konvensional.
Bursa Saham Asia Meroket Tajam
Namun, sebuah fenomena menarik justru terjadi di sektor finansial global. Di tengah eskalasi serangan militer udara yang dilancarkan oleh AS tersebut, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik justru mencatatkan reli penguatan yang sangat masif pada perdagangan Rabu pagi.
Lompatan indeks saham di berbagai negara Asia ini dipicu oleh tumbuhnya rasa optimisme yang besar di kalangan pelaku pasar.
Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terbukanya mengenai potensi berakhirnya perang dengan Iran dalam waktu dekat.
Trump sempat melontarkan pernyataan bahwa konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah tersebut dapat diselesaikan dan sepenuhnya berakhir dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan.
Sinyal deeskalasi yang kuat ini langsung direspons dengan aksi beli yang agresif oleh para pemodal internasional yang sebelumnya sempat didera kekhawatiran akan potensi resesi akibat perang energi.
Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 dilaporkan melonjak hampir 4 persen pada awal perdagangan bulan April ini. Indeks Nikkei tercatat mendaki sebesar 3,87 persen ke level 53.039,72 pada pukul 01.34 GMT.
Penguatan signifikan ini menjadi angin segar sekaligus awal yang sangat kuat bagi bursa Tokyo, mengingat pada bulan Maret lalu Nikkei baru saja membukukan kinerja bulanan terburuknya sejak era krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 silam.
Tidak hanya Nikkei, indeks Topix yang memiliki cakupan lebih luas di bursa Tokyo juga ikut terkerek naik sebesar 3,67 persen ke posisi 3.626,33.
Sentimen positif ini tidak hanya melanda bursa saham di negeri Sakura. Di Korea Selatan, indeks KOSPI bahkan mencatatkan kenaikan yang jauh lebih fantastis.
Indeks KOSPI melonjak hingga 6,26 persen atau bertambah sebanyak 316,27 poin ke level 5.368,73 pada pukul 02.15 GMT.
Lonjakan indeks KOSPI di Korea Selatan yang mencapai lebih dari 6 persen tersebut mencerminkan betapa besarnya kelegaan para pelaku pasar di Seoul.
Sebagai salah satu negara industri maju yang sangat bergantung pada kepastian pasokan minyak mentah dari koridor Timur Tengah, ekonomi Korea Selatan sangat rentan terhadap guncangan harga energi.
Oleh karena itu, harapan akan berakhirnya perang dalam hitungan minggu langsung memicu akumulasi beli pada saham-saham sektor manufaktur dan teknologi.
Sementara itu di bursa Singapura, indeks Straits Times (STI) juga tidak ketinggalan mencatatkan penguatan sebesar 1,7 persen atau naik 82,89 poin ke level 4.968,34 pada periode perdagangan yang sama
Dari dalam negeri, IHSG terpantau melenggang di zona hijau, dengan kisaran 7.155.