- Sebanyak 31 kali gempa susulan terjadi setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT.
- Gempa tersebut mengakibatkan 38 orang meninggal dunia.
- Tim SAR gabungan dikerahkan untuk melakukan pencarian terhadap warga yang diduga masih terjebak di reruntuhan bangunan.
Suara.com - BNPB mencatat 31 kali gempa susulan terjadi setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Laut Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026). Di tengah aktivitas gempa susulan, tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap warga yang diduga terjebak di reruntuhan bangunan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan dari 31 gempa susulan tersebut, empat di antaranya memiliki magnitudo cukup besar, yakni M6,2, M5,5, M6,2, dan M5,6.
“Yang pertama gempa susulan yang cukup besar magnitudenya 6,2, itu terjadi pada pukul 05.13 WIB, ya tepatnya hampir sama dengan gempa yang pertama, cuma kedalamannya ini naik. Jadi yang gempa susulan pertama itu di kedalaman 10 kilometer dan tetap berada di laut,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Sabtu (15/8/2026).
Gempa susulan berikutnya tercatat berkekuatan M5,5. Gempa tersebut terjadi pada pukul 05.13.53 WIB dengan kedalaman 10 kilometer dan masih berada di laut.
“Kemudian gempa susulan yang kedua, ini yang saya katakan yang cukup besar ya, ada di magnitudo 5,5. Waktunya di 05.13.53 WIB. Lintangnya di 8,14 Lintang Selatan, 120,11 Bujur Timur, dan kedalamannya di 10 kilometer tetap di laut,” tambah dia.
Gempa susulan signifikan lainnya berkekuatan M6,2 terjadi pada pukul 05.28 WIB dengan kedalaman 10 kilometer. Sementara satu gempa lainnya berkekuatan M5,6 terjadi pada pukul 05.37 WIB.
“Kemudian gempa-gempa susulan yang lainnya yang tadi saya katakan 31 kali menurut informasi BMKG itu tidak ada lagi yang kekuatannya di atas yang tadi saya sebutkan,” ujar Suharyanto.
Suharyanto memastikan aktivitas gempa dengan kekuatan besar mulai mereda setelah pukul 07.00 WIB.
“Sejak pukul atau pukul 7 pagi sampai sekarang sudah tidak ada lagi gempa-gempa yang magnitude-nya besar,” tandas dia.

Masih Ada Warga Terjebak
Di tengah meredanya gempa kuat, proses pencarian dan penyelamatan korban masih menjadi prioritas. BNPB menerima laporan adanya warga yang diduga masih terjebak di dalam reruntuhan bangunan.
Suharyanto menyebut jumlah warga yang dilaporkan terjebak diperkirakan kurang dari 10 orang. Namun, angka tersebut masih divalidasi petugas di lapangan.
Tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk mencari dan mengevakuasi warga yang masih membutuhkan pertolongan.
“Prioritas utama saat ini penyelamatan masyarakat yang disinyalir masih memerlukan pertolongan atau terjebak di bangunan,” ujarnya.
Hingga pukul 15.00 WIB, BNPB mencatat 38 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan 11 lainnya luka ringan.