- BSI menegaskan likuiditas tetap stabil meskipun terdapat rencana penarikan dana Saldo Anggaran Lebih oleh Menteri Keuangan.
- Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, meminta penarikan dana senilai Rp21 triliun dilakukan secara bertahap demi stabilitas.
- Penarikan dana yang dilakukan secara bertahap memungkinkan BSI mengelola arus kas dan menjaga kondisi pasar keuangan tetap terjaga.
Suara.com - PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI meyakini likuiditas perseroan tidak goyah meski ada penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Namun, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo, meminta Purbaya menarik dana SAL secara bertahap agar tidak mengganggu stabilitas likuiditas BSI dan pasar keuangan.
Secara bahasa bayi likuiditas perbankan adalah jumlah dana atau uang yang dimiliki bank untuk memenuhi kebutuhan nasabah dan menyalurkan pinjaman.
"Kita kan kembali ke angka semula saja. Kemarin kami meminta kepada Pak Menteri kalau bisa jangan ditarik mendadak, tetapi per tahap. Kalau ditanya apakah mau berapa, ya tidak. Kita sesuai dengan angka yang semula saja. Karena kita lebih kepada menjaga ritmenya saja. Kita tidak minta nomor-nomor. Sama saja sesuai dengan awal-awal," ujar Anggoro di Gedumg BSI, Rabu (1/7/2026).
Ia mengungkapkan, total dana SAL yang ditempatkan di BSI mencapai sekitar Rp21 triliun. "Itu nanti kami minta supaya ditariknya bertahap. Supaya kami bisa mengatur likuiditas yang lain," ucap Anggoro.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan likuiditas merupakan aktivitas yang sudah menjadi bagian dari operasional sehari-hari industri perbankan. Karena itu, tantangan terbesar bukan pada besarnya dana yang ditarik, melainkan apabila penarikan dilakukan secara mendadak.
"Sebenarnya kalau kita bicara SAL, sebelumnya juga tidak ada. Buat kami perbankan, likuiditas memang menjadi hal yang sehari-hari dihadapi para bankir. Tapi kalau penarikan mendadak, itulah yang membuat pasar bisa bergejolak," jelasnya.
Menurut Anggoro, apabila penarikan dana pemerintah dilakukan secara bertahap, maka kondisi tersebut masih dapat diantisipasi oleh perbankan melalui pengelolaan pendanaan dan likuiditas yang lebih terukur.
"Kalau ditariknya bertahap, itu hal yang biasa. Setiap bank memang harus mencari likuiditas untuk mendukung ekspansi," pungkasnya.