- The Fed mempertahankan suku bunga namun menaikkan proyeksi jangka panjang, yang memicu kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari tekanan global.
- IHSG terkoreksi akibat aksi jual asing sebesar US$ 1,2 miliar, sementara investor ritel domestik mendominasi pasar saham.
Suara.com - Saat kondisi eksternal global mulai menunjukkan sinyal soliditas. Di sisi lain, pasar modal domestik masih harus bekerja keras merespons bauran kebijakan pengetatan moneter di dalam negeri.
Dari panggung global, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Warsh, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (funds rate) di kisaran 3,50%–3,75%.
Kendati demikian, The Fed mengerek proyeksi median suku bunga untuk akhir tahun 2026 menjadi 3,8%. Langkah ini otomatis menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya dinantikan pasar, sekaligus mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah AS (Treasury).
Meski kebijakan The Fed cenderung ketat, bursa saham Wall Street justru berhasil pulih dan membukukan kinerja kuartalan terbaiknya sejak 2020.
Penguatan ini ditopang oleh solidnya laporan laba emiten yang terafiliasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dari sektor komoditas, harga minyak mentah dunia merosot tajam sebesar 20,2% secara bulanan (month-on-month/mom)—penurunan terdalam sejak 2008—seiring dengan adanya kemajuan signifikan menuju gencatan senjata Iran.
Respon Agresif Bank Indonesia dan Reformasi UU P2SK
Menghadapi lansekap global tersebut, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif guna membentengi stabilitas nilai tukar.
BI menaikkan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate sebanyak dua kali sepanjang Juni, termasuk langkah mengejutkan lewat kenaikan di luar jadwal (off-schedule) pada 9 Juni.
Secara kumulatif, BI telah melakukan pengetatan sebesar 100 basis poin (bps) sejak Mei 2026, yang membawa suku bunga acuan bertengger di level 5,75%.
Langkah ini diprioritaskan untuk menjaga nilai tukar Rupiah dari tekanan eksternal serta memitigasi risiko inflasi barang impor (imported inflation).
Dari sisi regulasi, pemerintah resmi mengesahkan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). UU ini membawa sejumlah perubahan struktural, antara lain:
- Menambahkan mandat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi Bank Indonesia.
- Membentuk payung hukum bagi operasionalisasi program obligasi Danantara.
- Membuka jalan kepemilikan Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX) kepada publik melalui rencana demutualisasi.
Sementara itu, Lembaga pemeringkat MSCI memutuskan untuk tetap mempertahankan status Indonesia di dalam indeks Emerging Market.
Meski demikian, MSCI menurunkan penilaian terhadap aspek arus informasi (information flow) dan aksesibilitas valuta asing (FX) Indonesia, dengan ulasan final yang dijadwalkan pada November 2026.
Arus Keluar Asing Deras, Investor Ritel Jadi Penopang
Kombinasi sentimen di atas membuat kinerja pasar saham domestik sepanjang Juni masih cenderung lesu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 7,9% mom, yang memperdalam penurunan sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) 2026 menjadi minus 34,7%.
Koreksi ini juga membuat valuasi IHSG merosot ke rekor terendah, yakni di level 8,1x forward P/E 1 tahun, atau mencerminkan 2,8 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahun.
Meskipun valuasi saham murah dan konsensus pasar menaikkan proyeksi pertumbuhan laba bersih emiten full year 2026 sebesar 0,3% mom—didorong oleh sektor komoditas—investor asing terpantau melakukan aksi jual masif.
Asing mencatatkan net outflow di pasar ekuitas sebesar US$ 1,2 miliar pada Juni, membawa akumulasi outflow YTD-2026 ke rekor tertinggi sebesar US$ 5,1 miliar.
Tekanan jual asing di pasar saham berhasil diimbangi oleh investor ritel domestik, yang porsi kepemilikannya kini mendominasi hingga 51,3%.
Menariknya, di pasar obligasi, investor asing justru tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai US$ 1,2 miliar pada surat utang negara dan US$ 1,3 miliar pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hal ini mengindikasikan bahwa arus modal asing cenderung masuk terlebih dahulu ke instrumen berpendapatan tetap (fixed income) yang menawarkan imbal hasil menarik (yield obligasi pemerintah 10 tahun naik ke 7,1%) dan stabilitas, di kala Rupiah bertahan di kisaran Rp 17.900 per dolar AS.
Rekomendasi Saham Pilihan
Di tengah fluktuasi pasar tersebut, BNI Sekuritas merilis kajian teknikal untuk beberapa saham yang layak dicermati oleh para pelaku pasar:
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK): Rentang harga perdagangan disarankan di Rp 500–Rp 515, dengan target penguatan ke level Rp 530–Rp 550. Batasan proteksi modal (cut loss) jika harga turun di bawah Rp 500.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rentang harga perdagangan di kisaran Rp 1.470–Rp 1.500, dengan target profit diambil pada level Rp 1.520 hingga Rp 1.570. Batasan cut loss disetel di bawah Rp 1.470.
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI): Rentang harga akumulasi berada di Rp 117–Rp 120, dengan target kenaikan di level Rp 123–Rp 128. Batasan cut loss ditetapkan jika menembus ke bawah Rp 117.