Buruh Waswas Aturan Baru Tembakau, Khawatir Gelombang PHK Meluas

Achmad Fauzi

Minggu, 05 Juli 2026 | 10:15 WIB
Buruh Waswas Aturan Baru Tembakau, Khawatir Gelombang PHK Meluas
Ilustrasi para buruh tembakau. [ist].
baca 10 detik
  • K-Sarbumusi khawatir tiga rancangan regulasi tembakau pemerintah dapat memicu gelombang PHK bagi jutaan pekerja di sektor industri terkait.
  • Pemerintah diminta mempertimbangkan dampak ekonomi terhadap enam juta pekerja, termasuk petani, buruh, dan pedagang di seluruh rantai pasok.
  • Lesbumi PBNU secara resmi menolak regulasi tersebut karena berpotensi mematikan ekosistem pertembakauan serta berdampak buruk bagi sosial budaya masyarakat.

Suara.com - Kalangan buruh mengkhawatirkan tiga rancangan regulasi pengendalian tembakau yang tengah disusun pemerintah berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pasalnya, aturan tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada industri hasil tembakau, tetapi juga mengancam jutaan pekerja yang bergantung pada rantai pasok sektor tersebut.

Kekhawatiran itu disampaikan Wakil Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (DPP K-Sarbumusi), Soeharjono, menyusul pembahasan tiga rancangan aturan terkait pembatasan kadar nikotin dan TAR, larangan sejumlah bahan tambahan produk tembakau, serta standardisasi kemasan produk tembakau atau kemasan polos.

Menurut Soeharjono, sebelum menetapkan kebijakan, pemerintah perlu memperhitungkan dampaknya terhadap dunia ketenagakerjaan.

"Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, setidaknya ada sekitar 6 juta jiwa yang akan terdampak apabila regulasi ini diberlakukan. Bukan hanya petani atau buruh tembakau, tetapi juga pekerja di industri turunannya hingga pedagang kecil. Karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan dampak ketenagakerjaan sebelum menetapkan kebijakan," ujarnya seperti dikutip, Minggu (5/7/2026).

Petani tembakau yang ada di Indonesia. (Dok: Komunitas Kretek)
ilustrasi tembakau yang ada di Indonesia. (Dok: Komunitas Kretek)

Ia menjelaskan, industri hasil tembakau memiliki rantai pasok yang panjang dan melibatkan banyak sektor.

Dampak regulasi tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh pekerja di dalam pabrik rokok, tetapi juga petani tembakau, petani cengkeh, buruh linting, distributor, pekerja industri kreatif, hingga pedagang kelontong yang menggantungkan sebagian penghasilannya dari penjualan produk tembakau.

Soeharjono mengingatkan, apabila kebijakan baru membuat produksi industri hasil tembakau menurun, maka risiko PHK akan semakin besar di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Karena itu, ia meminta pemerintah menyusun kebijakan kesehatan secara proporsional agar tidak memunculkan persoalan sosial dan ekonomi baru.

"Yang kami harapkan bukan berarti pemerintah mengabaikan aspek kesehatan. Kami mendukung upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi kebijakan itu juga harus mempertimbangkan keberlangsungan tenaga kerja, petani, dan pelaku usaha. Jangan sampai tujuan melindungi kesehatan justru menimbulkan persoalan baru berupa meningkatnya pengangguran dan melemahnya ekonomi masyarakat," jelasnya.

baca juga

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU).

Organisasi tersebut menyatakan menolak tiga rancangan regulasi pengendalian tembakau yang sedang disiapkan Kementerian Kesehatan karena dinilai berpotensi mematikan ekosistem pertembakauan nasional.

Penolakan itu dituangkan dalam sebuah petisi yang telah disampaikan kepada Kementerian Kesehatan. Selain itu, petisi juga dikirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pimpinan DPR RI, sejumlah kementerian, serta asosiasi pemerintah daerah.

Ketua Lesbumi PBNU Jadul Maula menilai kebijakan tersebut belum tentu efektif dari sisi kesehatan, namun hampir pasti membawa dampak besar terhadap masyarakat yang selama ini menggantungkan mata pencaharian di sektor pertembakauan.

"Peraturan ini tidak adil bagi rakyat ketika kondisi ekonomi kita sedang turun. Ketika ditambah dengan aturan ini, justru akan melemahkan semangat daya hidup rakyat kita. Oleh karena itu kami meminta rancangan peraturan tersebut dibatalkan karena dampak sosial, ekonomi, dan budayanya jauh lebih besar," bebernya.

Selain alasan ekonomi, Lesbumi berpandangan tembakau dan kretek telah menjadi bagian dari sejarah serta kebudayaan Nusantara. Karena itu, organisasi tersebut meminta pemerintah mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan ketenagakerjaan sebelum menerbitkan kebijakan yang berpotensi memengaruhi keberlangsungan industri hasil tembakau.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penasihat Presiden Cari Karyawan Korban PHK TikTok Tokopedia

Penasihat Presiden Cari Karyawan Korban PHK TikTok Tokopedia

Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 05:55 WIB

Kemnaker Klaim Belum Ada Laporan PHK di TikTok Tokopedia

Kemnaker Klaim Belum Ada Laporan PHK di TikTok Tokopedia

Bisnis | Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:28 WIB

Kabar Tokopedia PHK Ribuan Karyawan, GOTO Bilang Begini

Kabar Tokopedia PHK Ribuan Karyawan, GOTO Bilang Begini

Bisnis | Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:28 WIB

Terkini

Timnas Indonesia Juara, Asnawi Mangkualam Bakal Angkat Dagu di Thailand

Timnas Indonesia Juara, Asnawi Mangkualam Bakal Angkat Dagu di Thailand

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 23:09 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat Senin Malam, 5 Wilayah Masuk Zona Berbahaya

Kabut Asap Palembang Makin Pekat Senin Malam, 5 Wilayah Masuk Zona Berbahaya

Sumsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 23:02 WIB

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Survei LKPI: Gerindra 17,3 Persen, PSI Sentuh 4,3 Persen

Survei LKPI: Gerindra 17,3 Persen, PSI Sentuh 4,3 Persen

Jabar | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:42 WIB

Meroket 1.004 Persen, Jumlah Rekening Emas BRI di BRImo Tembus 3 Juta

Meroket 1.004 Persen, Jumlah Rekening Emas BRI di BRImo Tembus 3 Juta

Bri | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:28 WIB

RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Dibawa ke Paripurna, Siap Disahkan Jadi UU

RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Dibawa ke Paripurna, Siap Disahkan Jadi UU

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:18 WIB

Jejak Gugatan Karhutla Sumsel, 8 Perusahaan Pernah Masuk Perkara: Begini Panjang Perjalanan Hukumnya

Jejak Gugatan Karhutla Sumsel, 8 Perusahaan Pernah Masuk Perkara: Begini Panjang Perjalanan Hukumnya

Sumsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Langkah Kecil untuk Tumbuh Sehat, Kilang Plaju Dukung Gizi Anak Sungai Rebo

Langkah Kecil untuk Tumbuh Sehat, Kilang Plaju Dukung Gizi Anak Sungai Rebo

Sumsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Free Kick Dean James Robek Gawang Thailand, Iklas Sanron Samakan Kedudukan

Free Kick Dean James Robek Gawang Thailand, Iklas Sanron Samakan Kedudukan

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 21:49 WIB

Masih Ingat Sepatu Bata? Begini Perjalanan Brand Ini Selama 95 Tahun di Indonesia

Masih Ingat Sepatu Bata? Begini Perjalanan Brand Ini Selama 95 Tahun di Indonesia

Lifestyle | Senin, 05 Oktober 2026 | 21:24 WIB

×