- Ekonomi RI tumbuh 5,45% pada semester I 2026.
- Pertumbuhan semester I tertinggi dalam 13 tahun.
- Defisit APBN tetap terjaga di 0,91% terhadap PDB.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45% secara tahunan. Menurutnya, capaian tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi semester I tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Prabowo mengatakan capaian tersebut patut disyukuri mengingat perekonomian global masih dibayangi berbagai tekanan. Kondisi tersebut antara lain kenaikan harga energi akibat perang, suku bunga global yang masih tinggi, hingga tekanan terhadap nilai tukar berbagai negara.
“Namun di tengah tekanan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur perekonomian kita tetap berdiri tegak. Ekonomi kita pada semester I tahun ini tumbuh tertinggi dalam 13 tahun terakhir,” ujar Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN TA 2027 beserta Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Selain pertumbuhan ekonomi yang menguat, Prabowo menyebut inflasi juga tetap terkendali. Permintaan domestik disebut masih kuat, sementara inflasi berada di level 2,88% secara tahunan.
Menurut Prabowo, hingga Juli 2026, kinerja APBN juga menunjukkan perkembangan positif. Hal itu tercermin dari sejumlah indikator fiskal yang mengalami pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan negara tercatat meningkat 21,3% secara tahunan, sedangkan belanja negara tumbuh lebih tinggi sebesar 18,2% secara tahunan.
Meski belanja negara tumbuh cukup agresif, Prabowo menegaskan defisit APBN masih berada dalam level yang terkendali, yakni 0,91% terhadap PDB.
“Belanja negara tumbuh kuat 18,2%. Belanja kita arahkan untuk menjaga daya beli rakyat, memperkuat pelayanan publik dan menggerakkan ekonomi. Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91% terhadap produk domestik bruto,” terang Prabowo.
Prabowo menilai kondisi tersebut menunjukkan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan disiplin fiskal.
“Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian, kita pilih dua-duanya. Kita tidak pilih antara bantu rakyat dan jaga APBN,” tegasnya.