Alarm Bahaya Pasar Keuangan, Lonjakan Utang dan Perang Bikin Biaya Pinjaman Meroket

M Nurhadi

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:45 WIB
Alarm Bahaya Pasar Keuangan, Lonjakan Utang dan Perang Bikin Biaya Pinjaman Meroket
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Instagram.com/realdonaldtrump)
baca 10 detik
  • Biaya pinjaman jangka panjang di AS, Jerman, dan Jepang menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade pada hari Selasa waktu setempat.
  • Lonjakan imbal hasil obligasi global dipicu oleh kebijakan Donald Trump, utang AS, perang Iran, serta pinjaman infrastruktur AI perusahaan teknologi.
  • Dampak kenaikan biaya pinjaman ini mengguncang stabilitas pasar keuangan global, menurunkan indeks saham, serta meningkatkan beban pinjaman masyarakat dan perusahaan.

Suara.com - Biaya pinjaman jangka panjang dari wilayah Amerika Serikat hingga daratan Jerman dan Jepang secara mengejutkan menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir pada perdagangan hari Selasa waktu setempat.

Situasi ini langsung memukul stabilitas pasar keuangan, berpotensi menaikkan beban biaya pinjaman bagi perusahaan maupun masyarakat kelas menengah, dan membuat arah kebijakan perekonomian dunia semakin rumit untuk diprediksi.

Pasar obligasi global kini mulai memasuki era baru di mana prospek inflasi dan suku bunga menjadi jauh lebih tidak pasti dengan risiko kerugian yang kian membesar.

Pergeseran fundamental ekonomi ini turut didorong oleh arah kebijakan Presiden AS Donald Trump—mulai dari penerapan tarif perdagangan yang ketat hingga manuver dalam konflik internasional—yang dinilai mengacaukan tatanan sistem ekonomi global.

Tingkat utang di berbagai negara maju kini telah mencapai ambang batas yang terlihat semakin tidak berkelanjutan, di mana tumpukan utang Amerika Serikat sendiri nyaris menyentuh angka yang sangat fantastis, yakni $40 triliun.

Di sisi lain, konflik bersenjata dan perang Iran yang terus berkepanjangan menjadi katalis negatif utama yang secara konstan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Eskalasi konflik tersebut telah mengerek harga minyak mentah kembali menembus level di atas $90 per barel, yang pada gilirannya kembali mengipasi kekhawatiran pelaku pasar akan lonjakan inflasi yang liar setelah harapan akan perdamaian antara AS dan Iran semakin memudar.

Reuters melaporkan, selain faktor makroekonomi dan krisis geopolitik, terdapat fenomena teknologi modern yang secara masif memperburuk kompetisi perebutan likuiditas di pasar keuangan internasional.

Peminjaman dana besar-besaran oleh entitas perusahaan teknologi raksasa guna membiayai pembangunan infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI) kini bersaing ketat dengan permintaan akan obligasi pemerintah. Terkait lonjakan tajam pada imbal hasil (yield) obligasi baru-baru ini, Jonas Goltermann selaku Kepala Ekonom Pasar di Capital Economics memberikan pandangannya.

baca juga

Menurutnya hal tersebut "suggests investors are losing patience with fiscal profligacy," dan ia pun menegaskan bahwa kondisi tersebut "entirely unsurprising: the fiscal outlook in several major economies is problematic, and politicians have shown little appetite for addressing the issue."

Kepanikan pelaku pasar tergambar sangat jelas dari rincian data pergerakan imbal hasil di berbagai negara pilar perekonomian dunia. Imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun di AS—yang notabene merupakan pasar obligasi pemerintah terdalam dan paling krusial secara sistemik di dunia—sempat menyentuh level tertingginya sejak tahun 2007 pada awal perdagangan Selasa, sebelum akhirnya mengalami sedikit koreksi pada sesi perdagangan sore.

Tingginya imbal hasil ini dapat memeras kekuatan keuangan rumah tangga, membebani ekspansi perusahaan, mengguncang stabilitas pasar keuangan, dan sangat menekan anggaran federal.

Merespon fenomena genting ini, Gennadiy Goldberg, analis dari TD, menulis dalam catatan riset terbarunya dengan menyatakan, "We believe the long-end has been subjected to death by a thousand cuts," merujuk pada rentetan alasan fundamental yang terus mendorong kenaikan suku bunga. Ia juga memperingatkan secara tegas bahwa "low investor conviction could leave yields under sustained pressure in the near term."

Efek rambatan sentimen negatif ini juga sangat terasa di benua Asia maupun daratan Eropa. Di wilayah Jepang, kekhawatiran akan inflasi dan ekspektasi yang kuat bahwa bank sentral berpeluang besar untuk menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September telah mendorong biaya pinjaman 10 tahun ke level tertingginya dalam tiga dekade terakhir. Sementara itu di zona Eropa, imbal hasil Bund 10 tahun milik pemerintah Jerman menyentuh level tertingginya sejak 2011.

Hal serupa terjadi di Prancis dengan imbal hasil mencapai titik teratas sejak 2008, serta biaya pinjaman berjangka 30 tahun di Inggris yang mendekati puncaknya pada bulan Mei lalu, sekaligus menandai level tertinggi sejak 1998. Sebagai aturan dasar hukum investasi, ketika imbal hasil suatu obligasi merangkak naik, maka harganya akan mengalami penurunan yang tajam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Spesial HUT RI, BRI Tebar Promo Multiguna Merdeka Finansial untuk Semua Kalangan

Spesial HUT RI, BRI Tebar Promo Multiguna Merdeka Finansial untuk Semua Kalangan

Bisnis | Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:49 WIB

Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol

Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:40 WIB

Jenderal Iran: Atas Izin Allah, Kami Akan Lebih Agresif dalam Perang di Masa Depan

Jenderal Iran: Atas Izin Allah, Kami Akan Lebih Agresif dalam Perang di Masa Depan

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:24 WIB

Nelayan di Zona Perang, Mencari Ikan Ketemunya Rudal dan Ranjau Laut

Nelayan di Zona Perang, Mencari Ikan Ketemunya Rudal dan Ranjau Laut

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:05 WIB

Apa Saja Tuntutan Iran dan Amerika Serikat untuk Akhiri Perang di Selat Hormuz?

Apa Saja Tuntutan Iran dan Amerika Serikat untuk Akhiri Perang di Selat Hormuz?

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:58 WIB

Ini Dia Sosok Petinggi Militer AS Diamuk Tentara di Kapal Perang USS Abraham Lincoln, 7 Tewas

Ini Dia Sosok Petinggi Militer AS Diamuk Tentara di Kapal Perang USS Abraham Lincoln, 7 Tewas

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:24 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×