- Survei Bank of America pada 7–13 Agustus 2024 menunjukkan India menggantikan posisi Indonesia sebagai pasar saham paling tidak disukai di Asia.
- Investor global menghindari India karena kurangnya paparan sektor kecerdasan buatan, tingginya valuasi, serta risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi.
- Persepsi terhadap Indonesia membaik dengan penurunan posisi net underweight menjadi 27 persen akibat penguatan Indeks Harga Saham Gabungan.
Suara.com - Posisi pasar saham Indonesia di mata manajer investasi global mulai membaik. Survei terbaru Bank of America Corp. (BofA) menunjukkan India kini menggantikan Indonesia sebagai pasar saham yang paling tidak disukai di kawasan Asia.
Pergeseran ini menandai meningkatnya kehati-hatian investor terhadap bursa India, yang mencatatkan kinerja termasuk yang terburuk di dunia sepanjang tahun ini.
Sementara itu IHSG yang semakin menguat berkat langkah tepat Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah dinilai mengembalikan sentimen positif pasar modal Indonesia di mata investor.
Kurangnya paparan terhadap sektor teknologi akal imitasi atau artificial intelligence (AI) menjadi kekhawatiran utama para pengelola dana terhadap saham-saham India, disusul oleh risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan survei BofA yang melibatkan 98 panelis dengan total kelolaan aset mencapai US$ 272 miliar pada periode 7–13 Agustus, sebanyak 32 persen responden menyatakan net underweight terhadap bursa India.
Selain absennya sektor AI, minimnya reformasi struktural serta tingginya valuasi saham turut memperkeruh prospek pasar modal terbesar keempat di Asia tersebut.
Sebaliknya, persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia menunjukkan perbaikan yang signifikan. Survei BofA mencatat manajer investasi yang mengambil posisi net underweight pada saham Indonesia berkurang menjadi 27 persen, membaik dari posisi 32 persen pada Juli lalu.
Peningkatan sentimen terhadap Indonesia ini tak lepas dari lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah menguat lebih dari 20 persen dari titik terendahnya pada Juni.
Penguatan IHSG didorong oleh langkah-langkah penstabilan nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia (BI), serta memudarnya kekhawatiran pasar terkait risiko penurunan status (downgrade) Indonesia menjadi frontier market oleh MSCI Inc.
Sementara itu, bursa Taiwan dan Jepang masih menjadi destinasi investasi yang paling difavoritkan oleh para manajer investasi global.