- Jerman tawarkan teknologi baterai EV untuk mendukung industri Indonesia.
- RI-Jerman bahas rantai pasok semikonduktor dan proyek energi terbarukan.
- Lebih dari 250 perusahaan Jerman telah beroperasi di Indonesia.
Suara.com - Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat penjajakan kerja sama ekonomi di sejumlah sektor strategis. Mulai dari penguatan rantai pasok semikonduktor, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga pendidikan vokasi masuk dalam pembahasan kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peluang kerja sama tersebut dibahas saat menerima Federal Minister for Economic Cooperation and Development Jerman Reem Alabali-Radovan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Airlangga mengatakan Indonesia menyambut delegasi Jerman untuk mendorong sejumlah pipeline proyek, khususnya di sektor energi terbarukan dan industri strategis.
"Indonesia menyambut delegasi ini untuk mendorong beberapa pipeline dan proyek di sektor renewable dan juga tentu bagi Indonesia rantai pasok terkait dengan semiconduktor juga hal yang penting dan ini dibicarakan," kata Airlangga.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Jerman disebut menawarkan teknologi yang dimilikinya untuk mendukung pengembangan industri tersebut di Indonesia.
"Ya, Jerman menawarkan teknologi yang mereka punyai, tapi tentu masih ada pembicaraan detail," ujar Airlangga.
Kerja sama ini berpotensi memperkuat industri kendaraan listrik nasional, terutama melalui transfer teknologi dan pengembangan kapasitas manufaktur di dalam negeri. Namun, pemerintah masih melakukan pembahasan lebih lanjut terkait bentuk kerja sama tersebut.
Di sektor semikonduktor, hubungan industri kedua negara juga telah memiliki pijakan. Airlangga menyebut perusahaan asal Jerman, Infineon, telah beroperasi di Batam.
"Kalau tadi semikonduktor, Jerman yang sudah beroperasi di Indonesia, Infineon, di Batam," jelasnya.
Menurut Airlangga, keberadaan perusahaan tersebut menjadi salah satu modal penting untuk memperkuat rantai pasok semikonduktor Indonesia.
Kerja sama Indonesia dan Jerman juga diarahkan ke sektor energi terbarukan. Jerman dinilai memiliki keunggulan dalam riset terapan, precision manufacturing, serta penerapan standar industri yang dapat mendukung agenda transformasi energi Indonesia.
Airlangga mengatakan peluang tersebut semakin besar seiring arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan industri berbasis tenaga surya dengan kapasitas sekitar 100 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun.
"Jadi artinya mereka membutuhkan banyak teknologi, banyak barang modal, dan ini terbuka untuk partisipasi Jerman," tuturnya.
Pemerintah juga mendorong program dedieselisasi, yakni mengganti pembangkit listrik berbasis diesel di sejumlah pulau kecil dengan pembangkit tenaga surya.
Langkah tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi perusahaan Jerman untuk memasok teknologi, peralatan, hingga barang modal yang dibutuhkan dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.
Selain teknologi, pembiayaan menjadi salah satu kebutuhan utama untuk mempercepat proyek energi hijau. Indonesia pun membidik dukungan dari KfW, bank pembangunan milik Jerman.
Airlangga mengatakan Indonesia sebelumnya telah memiliki pengalaman bekerja sama dengan KfW. Lembaga tersebut dapat memberikan pembiayaan, khususnya untuk kebutuhan barang modal di sektor swasta.
"Dan untuk pembiayaan, Indonesia sudah memiliki pengalaman dengan KfW. Biasanya untuk sektor swasta KfW dapat memberikan pembiayaan untuk barang modal. Jadi saya kira ini sesuatu yang dibutuhkan oleh pelaku usaha Indonesia," ucapnya.
Jika terealisasi, kombinasi teknologi dan pembiayaan tersebut dapat menjadi katalis bagi percepatan investasi energi terbarukan di Indonesia.
Hubungan ekonomi kedua negara juga telah ditopang oleh kehadiran investor Jerman di Indonesia. Saat ini terdapat lebih dari 250 perusahaan Jerman yang telah menjalankan bisnis dan beroperasi di Indonesia.
Nilai investasi Jerman secara kumulatif sejak 2021 hingga kuartal II 2026 tercatat sekitar US$1,23 miliar.
Selain investasi, Indonesia dan Jerman juga membahas penguatan pendidikan vokasi. Jerman dikenal memiliki keunggulan dalam sistem pendidikan vokasi dan selama ini telah menjadi salah satu mitra Indonesia dalam pengembangan sumber daya manusia industri.