- Pengangguran Australia naik ke 4,5% pada Juli 2026.
- Australia kehilangan 15.800 pekerjaan, seluruhnya dari sektor paruh waktu.
- Pelemahan pasar kerja bisa tekan RBA menahan kenaikan suku bunga.
Suara.com - Pasar tenaga kerja Australia mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah tingkat pengangguran melonjak secara tak terduga pada Juli 2026.
Melansir The Edge Singapore, Kamis (20/8/2026) kondisi ini memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja Negeri Kanguru akan melonggar secara bertahap, sekaligus menjadi perhatian bagi Reserve Bank of Australia (RBA) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan data Biro Statistik Australia yang dirilis Kamis (20/8/2026), tingkat pengangguran Australia naik menjadi 4,5% pada Juli 2026, dari 4,4% pada bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang sebelumnya memperkirakan tingkat pengangguran bertahan di level 4,4%.
Pelemahan juga terlihat dari jumlah lapangan kerja. Australia kehilangan 15.800 pekerjaan pada Juli. Kontraksi tersebut sepenuhnya berasal dari pekerjaan paruh waktu.
Padahal, para ekonom sebelumnya justru memperkirakan perekonomian Australia akan menciptakan sekitar 12.000 lapangan kerja baru pada periode tersebut.
Kondisi ini menjadi sinyal penting karena pelemahan permintaan tenaga kerja mulai terlihat pada segmen pekerjaan yang lebih fleksibel. Jika berlangsung lebih lama, tekanan tersebut berpotensi merembet ke pekerjaan penuh waktu.
Perkembangan tersebut cukup kontras dengan ketangguhan pasar tenaga kerja Australia setelah pandemi. Tingkat pengangguran bahkan sempat turun hingga 3,4% pada 2022, level terendah sejak pertengahan 1970-an, meskipun RBA ketika itu menjalankan pengetatan moneter secara agresif.
Pelemahan pasar tenaga kerja terjadi setelah RBA menaikkan suku bunga dalam tiga pertemuan pertamanya pada 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga tekanan inflasi tetap terkendali.
Meski demikian, RBA masih menilai pasar tenaga kerja Australia relatif ketat dan belum sepenuhnya mencapai kondisi yang dianggap sejalan dengan lapangan kerja penuh.
Dalam pembaruan proyeksi triwulanan yang dirilis pekan lalu, RBA memperkirakan tingkat pengangguran akan meningkat secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.
RBA menyatakan kondisi pasar tenaga kerja masih sedikit lebih ketat dibandingkan kondisi yang terkait dengan lapangan kerja penuh.
Artinya, kenaikan pengangguran pada Juli belum serta-merta mengubah pandangan dasar bank sentral. Namun, lonjakan yang lebih besar dari perkiraan dapat menjadi sinyal bahwa proses pelemahan pasar tenaga kerja berlangsung lebih cepat daripada yang diproyeksikan.
Di sisi lain, RBA masih menghadapi tantangan dari tekanan biaya tenaga kerja. Bank sentral mencatat pertumbuhan biaya tenaga kerja per unit mencapai 3,3% dalam setahun hingga kuartal I 2026.
RBA juga masih menerima laporan dari jaringan kontak bisnisnya bahwa sejumlah perusahaan kesulitan mendapatkan pekerja dengan keterampilan dan pengalaman yang sesuai.
Situasi tersebut membuat keputusan suku bunga menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, pelemahan pasar tenaga kerja dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi. Namun di sisi lain, pertumbuhan biaya tenaga kerja dan kesulitan perusahaan memperoleh tenaga kerja terampil masih menjadi faktor yang harus diperhitungkan.