- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.722 per dolar AS pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026.
- Pelemahan rupiah disebabkan oleh pidato kepala The Fed, eskalasi Timur Tengah, dan kenaikan harga minyak dunia.
- Investor saat ini bersikap menunggu data ekonomi domestik berupa neraca dagang dan inflasi pada 1 September 2026.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terus memerah hingga akhir perdagangan, Senin, 31 Agustus 2026. Bahkan, rupiah melemah sendirian dibandingkan mata uang Asia lainnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.722 per dolar AS, melemah 29 poin atau turun 0,16 persen pada pekan sebelumnya yang ada di Rp17.693 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan minyak dunia jadi sentimen pelemahan nilai tukar rupiah.
"Rupiah dituttp melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh pidato hawkish kepala the Fed Warsh. Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik ikut membebani," katanya saat dihubungi Suara.com.
![Rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/22/69861-rupiah-dan-dolar.jpg)
Lukman menambahkan pelemahan pada rupiah masih terus berlanjut. Apalagi, investor masih wait and see terhadap data ekonomi Indonesia. Salah satunya pengumuman neraca dagang dan inflasi pada 1 September 2026.
"Untuk besok rupiah akan berkonsolidasi, dengan investor wait and see menantikan data penting domestik yaitu perdagangan dan inflasi. Range Rp17.650-Rp17.800," jelasnya.
Pelemahan rupiah juga terjadi pada mata uang peso Filipina yang anjlok 0,21 persen. Lalu ada dolar Taiwan yang terkikis 0,18 persen dan ringgit Malaysia melemah 0,05 persen.
Sedangkan,mayoritas mata uang Asia menguat. Won Korea yang paling perkasa dengan naik 0,56 persen. Diikuti oleh yen Jepang dengan naik 0,32 persen. Lalu ada dolar Singapura yang menguat 0,11 persen dan baht Thailand dengan naik tipis 0,04 persen.