- Indeks Harga Saham Gabungan sempat menguat di level 6.446 sebelum berbalik melemah tipis 0,02 persen pada Senin, 21 September 2026.
- Pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen global seperti ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat, pelemahan rupiah, serta tingginya harga minyak.
- Investor domestik pekan ini mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 22 hingga 23 September 2026.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dua arah pada awal perdagangan, Senin, 21 September 2026. IHSG awalnya dibuka menguat ke level 6.446.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 09.06 WIB, IHSG berbalik ke zona merah ke level 6.440 ke level 0,02 persen.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 2,97 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp859,53 miliar serta frekuensi sebesar 157.780 kali.
Di waktu itu, terdapat 268 saham menghijau, sedangkan, 251 saham merosot. Sisanya, 444 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![Ilustrasi pergerakan saham hari ini di IHSG BEI [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/10/93883-ihsg-ilustrasi-saham-bursa-efek-indonesia.jpg)
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- NASI
- PRAY
- TRUE
- BAJA
- KICI
Top Loser
- AGAR
- FORU
- AGII
- WAPO
- LFLO
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan masih bergerak dalam fase konsolidasi bearish pada perdagangan pekan ini. Investor akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22–23 September 2026.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, IHSG terkoreksi 1,53 persen sepanjang pekan lalu hingga berada di level 6.462,43.
Tekanan tersebut juga disertai aksi jual investor asing (foreign outflow) sebesar Rp2,9 triliun di pasar reguler. Sementara itu, indeks IDX30 dan LQ45 masing-masing melemah 1,11 persen dan 1,25 persen.
Pelemahan IHSG dipengaruhi sejumlah sentimen global, mulai dari ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher-for-longer), imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun yang kembali berada di sekitar 5 persen, pelemahan rupiah, hingga harga minyak yang masih tinggi.
Sentimen utama pasar saham domestik pekan ini akan tertuju pada RDG BI yang berlangsung pada 22–23 September 2026.
Konsensus masih memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Selain keputusan suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi perhatian investor setelah The Fed dan Bank of Japan (BoJ) sama-sama menaikkan suku bunga.
Kondisi suku bunga global dan pergerakan rupiah menjadi faktor penting yang akan dicermati investor dalam menentukan arah IHSG.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, saham berbasis komoditas berpotensi menjadi perhatian investor.
Harga emas kembali menguat ke sekitar US$4.390 per ons, seiring dengan penurunan harga minyak dan ketidakpastian global. Kondisi tersebut membuka perhatian terhadap saham-saham yang memiliki eksposur terhadap komoditas.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish setelah mengalami breakdown dari MA20 di level 6.551.
Indikator MACD juga masih mempertahankan bearish crossover, menunjukkan tekanan terhadap indeks masih perlu diperhatikan.
Meski demikian, IHSG masih memiliki peluang untuk mengalami technical rebound selama mampu bertahan di atas level support 6.390.
Jika mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG berpeluang bergerak menuju level resistance 6.585. Apabila level tersebut berhasil ditembus, ruang penguatan berikutnya terbuka menuju 6.705.
Sebaliknya, jika IHSG menembus ke bawah support 6.390, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menguji level 6.220.
Untuk perdagangan pekan ini, riset tersebut mencantumkan ANTM, ITMG, dan ARCI sebagai saham pilihan.