- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.
- Pemerintah mampu mempertahankan harga Pertalite dan Solar karena gejolak minyak dunia diredam APBN.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan harga BBM nonsubsidi akan terus mengikuti perkembangan pasar global.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.
Adapun, setidaknya terdapat dua jenis BBM yang masih disubsidi pemerintah, Pertalite dan Solar yang masing-masing dibanderol Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.
"Ini sampai akhir tahun kita masih bisa pertahankan, tidak ada perubahan kenaikan harga, terutama BBM ber-subsidi," ujar Airlangga dalam acara ANTARA Business Forum di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
![Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bursa komoditas mineral dibentuk agar Indonesia punya harga acuan mineral sendiri. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/14/43133-airlangga-hartarto.jpg)
Airlangga mengatakan pemerintah masih mencermati perkembangan harga minyak dunia. Menurut dia, gejolak tersebut masih bisa diredam sehingga tidak berdampak pada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga penghujung tahun.
"Dan alhamdulillah untuk Indonesia transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer APBN kita," katanya.
Ia menjelaskan harga pembelian pemerintah untuk BBM nonsubsidi saat ini berada di kisaran 90 dollar AS per barel. Sementara itu, harga minyak dunia masih berada di bawah 100 dollar AS per barel.
Airlangga menilai kondisi tersebut masih memungkinkan pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi sampai akhir 2026.
"Kita ketahui perang di Selat Hormuz sudah 6 bulan, ini sudah lebih dan ujungnya kita belum kelihatan ujungnya. Kemudian yang perang Ukraine pun belum selesai," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Berbeda dengan BBM bersubsidi, harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga pasar. Bahlil mengatakan perubahan harga minyak dunia akan memengaruhi Indonesian Crude Price (ICP), yang menjadi salah satu acuan harga BBM nonsubsidi.
"Kalau harga minyak nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dilaksanakan koreksi," kata Bahlil.