- Gubernur BI Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengadakan rapat sinergi kebijakan di Gedung BI pada Kamis, 24 September 2026.
- Pertemuan tersebut membahas lima pilar utama kerja sama untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
- Hasil pertemuan itu mencakup penguatan koordinasi fiskal dan moneter guna menghadapi dinamika global serta mengoptimalkan likuiditas pasar.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengumumkan hasil mengenai rapat sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Dalam pertemuan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengakui pembahasan ini agak alot dalam membicarakan kebijakan fiskal dan moneter dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
"Karena tadi memang ada alot kita diskusinya karena tadi membahas banyak hal, ini kering tempenya kok agak kurang asin ya gitu loh Jadi tadi ada sedikit beberapa hal kita bicarakan. Tapi intinya tujuan dari pertemuan dari Bapak Menteri Keuangan dengan kami, pertemuan dengan Bank Indonesia Sebenernya ini hal yang biasa, kita juga tim dulu punya high level meeting," ujarnya di Gedung Bank Indonesia, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, kerja sama yang baik antara empat lembaga yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
![Menkeu Suahasil Nazara saat konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Kamis (24/9/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/24/33478-menteri-keuangan-suahasil-nazara.jpg)
"Sebagai koordinator di Kementerian Keuangan dan kita yang sama-sama dalam komunitas stabilitas sistem keuangan, tentunya kerja sama yang baik sangat dibutuhkan. Siapa pun yang memimpin empat lembaga yang memang sebagai anggota KSSK, sinergi dan kolaborasi empat lembaga ini menjadi penting," kata Destry.
Dia mengatakan ada lima topik yang dibahas dalam pertemuan ini. Hal ini untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan.
"Memang kita dalam sinergi ini akan menggunakan pendekatan lima pilar. Sama sebenarnya seperti yang disampaikan oleh Pak Menteri, tetapi kami coba lebih spesifik," imbuj Destry.
Pilar pertama berkaitan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi instrumen kebijakan fiskal dan momentum yang tersedia. Kedua adalah memperkuat ketahanan sektor eksternal di tengah dinamika global, baik dari sisi perdagangan internasional maupun aliran modal asing.
"Untuk mendorong masuknya aliran modal asing, ini kita coba sinergikan, termasuk kebijakan kita terkait insentif yang kita berikan untuk biaya hedging bagi dana asing yang masuk ke pasar domestik kita," beber Destry.
Pilar ketiga berkaitan dengan penguatan likuiditas dan percepatan perputaran likuiditas di pasar uang, sektor perbankan, dan perekonomian.
Dalam konteks tersebut, Destry menyebut adanya perhatian terhadap tingginya suku bunga deposito yang dapat mendorong peningkatan biaya dana atau cost of fund perbankan.
Pilar keempat menyangkut pengendalian inflasi melalui optimalisasi peran Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPIP dan TPID). Sedangkan, pilar kelima adalah koordinasi dalam rangka pendalaman pasar keuangan. Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan transmisi kebijakan berjalan lebih lancar sekaligus memperluas sumber pendanaan bagi perekonomian.
"Jadi intinya yang lima pokok kami sampaikan dan ternyata disambut baik juga, sesuai dengan apa yang menjadi concern juga dari Menteri Keuangan," pungkasnya.