- Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno mencatat rekor pendapatan senilai Rp 812 miliar pada tahun 2025.
- Direktur Utama PPKGBK Rakhmadi A. Kusumo menyampaikan pencapaian tersebut diumumkan pada hari Jumat tanggal 25 September 2026.
- Lonjakan finansial bersumber dari strategi komersial, penyelenggaraan berbagai ajang, serta pengembalian penguasaan aset negara di Blok 15.
Suara.com - Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) mengumumkan kalau GBK mencatatkan rekor pendapatan hingga Rp 812 miliar di usia ke 64 tahun, berdasarkan hasil laporan audited 2025.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan yang melesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana PPKGBK mengantongi pendapatan sebesar Rp 415 miliar pada tahun 2023 dan meningkat menjadi Rp 566 miliar pada tahun 2024.
Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi A. Kusumo menyampaikan bahwa peningkatan kinerja keuangan ini sejajar dengan komitmen untuk memperkuat layanan publik dan mengoptimalkan nilai aset negara.
"Kami ingin aset negara semakin produktif. Peningkatan pendapatan harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas fasilitas, pelayanan publik, pemeliharaan kawasan, serta manfaat ekonomi yang lebih luas," ujar Rakhmadi, Jumat (25/9/2026).
Lonjakan pendapatan ini tidak lepas dari strategi pengamanan dan pemanfaatan aset secara komersial serta penyelenggaraan berbagai ajang berskala nasional dan internasional.
Langkah penting yang ditandai dalam peringatan tahun ini adalah pengembalian penguasaan aset negara di kawasan Blok 15 (Golden Ballroom) melalui koordinasi lintas instansi.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Keuangan, Kementerian ATR/BPN, lembaga peradilan, aparat penegak hukum, serta jajaran PPKGBK.
Selain itu, kawasan GBK kini juga berkembang pesat sebagai sports and entertainment district yang tidak hanya mengandalkan Stadion Utama, tetapi juga mengoptimalkan venue lain seperti Indonesia Arena, Istora Senayan, Tennis Indoor, hingga Jakarta International Convention Center (JICC).
Pemanfaatan ruang publik untuk berbagai ajang olahraga, konser musik internasional, pameran MICE, hingga hiburan keluarga terbukti menjadi pendorong utama pendapatan kawasan.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) Setya Utama mengapresiasi capaian ini dan mendorong agar efisiensi serta kualitas pengelolaan terus ditingkatkan.
"Pengelolaan aset yang baik tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memberikan manfaat optimal bagi masyarakat untuk berolahraga, menyelenggarakan *event* yang bervariasi, serta melayani seluruh *stakeholder* dengan baik," tutur Setya Utama.
Ke depan, Rakhmadi menyebut penerimaan GBK tersebut akan dialokasikan kembali untuk perawatan kawasan, pengembangan teknologi, peningkatan fasilitas pejalan kaki, serta pelayanan masyarakat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh industri kreatif, UMKM, dan perekonomian nasional.
“Memasuki usia ke-64, arah kami jelas, menjaga amanah negara, meningkatkan nilai aset, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, dan membawa nama Indonesia semakin dikenal di dunia,” tutup Rakhmadi.