- Harga minyak dunia turun tipis pada Jumat pagi akibat rencana pelonggaran sanksi tanker AS dan pelepasan cadangan darurat IEA.
- Minyak WTI turun ke 97,58 dolar AS per barel, sementara Brent berada di level 105,69 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan.
- Penurunan harga tersebut tertahan oleh tingginya ketegangan geopolitik dan konflik militer yang masih berlangsung di wilayah Timur Tengah.
Suara.com - Harga minyak dunia mengalami penurunan tipis pada perdagangan Jumat (16/10/2026) pagi.
Koreksi ini dipicu oleh laporan bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan kelonggaran sanksi terhadap tanker minyak, guna menekan biaya pengiriman, serta langkah Badan Energi Internasional (IEA) yang mempercepat pelepasan cadangan minyak darurat.
Meski demikian, penurunan harga minyak mentah cenderung terbatas akibat tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik masih terjadi seiring serangan Iran terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz, ditambah bentrokan yang berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman.
Mengutip dari Investing.com,minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,4 persen ke level 97,58 dolar AS per barel pada pukul 19.21 ET (03.21 WIB).
Kendati turun tipis, WTI tetap mencatatkan kenaikan sekitar 6,2 persen sepanjang pekan ini setelah melonjak tajam pada hari Kamis akibat penurunan signifikan pada stok minyak mentah AS.
![Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/54068-ilustrasi-harga-minyak-dunia.jpg)
Sementara itu, minyak mentah jenis Brent ditutup pada level 105,69 dolar AS per barel pada hari Kamis dan membukukan kenaikan 0,9 persen secara mingguan.
Tekanan terhadap harga minyak dipicu oleh kabar bahwa pemerintah AS berniat melonggarkan sanksi bagi armada kapal tanker (shadow fleet) yang selama ini mengangkut minyak dan produk turunannya dari negara-negara terblokir seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.
Langkah ini diambil untuk menurunkan tarif logistik laut (freight rates) serta meredam lonjakan harga bahan bakar global, meski kepastian realisasinya masih dikaji.
Sebelumnya, AS juga telah mengumumkan kesepakatan pasokan diesel berskala besar dengan Rusia sebagai upaya menstabilkan lonjakan harga.
Di sisi lain, potensi gangguan pasokan dari Rusia tetap menjadi perhatian pasar setelah Ukraina menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Moskow di tengah minimnya kemajuan perundingan gencatan senjata.
Untuk meredam lonjakan harga diesel yang menyentuh rekor tertinggi, IEA menyetujui pelepasan lebih dari 20 juta barel diesel pada hari Kamis.
Lembaga tersebut juga mengindikasikan akan mempercepat penyaluran sisa cadangan minyak darurat yang telah dikomitmenkan sejak Maret lalu.
Di kawasan Timur Tengah, kendati aksi saling serang antara Iran, Arab Saudi, dan kelompok Houthi terus berlangsung di jalur vital Selat Hormuz, IEA mencatat bahwa ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut telah pulih hingga sekitar 75% dari level pra-konflik pada September lalu.
Namun, IEA mengingatkan bahwa pasar diesel global berisiko tetap ketat hingga tahun 2027, sekaligus memproyeksikan adanya penurunan permintaan minyak secara global pada tahun ini.