- Minyak turun meski konflik Timur Tengah kembali memanas.
- Ekspor Saudi pulih di atas 4 juta barel per hari.
- Harapan dialog AS-Iran menekan premi risiko minyak.
Suara.com - Harga minyak dunia justru melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026), meski konflik di Timur Tengah kembali memanas. Investor lebih fokus pada kemampuan Arab Saudi menjaga aliran ekspor minyak serta peluang terbukanya jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Reuters, kontrak Brent turun 81 sen atau 0,78% menjadi US$103,06 per barel. Sementara WTI melemah 89 sen atau 0,89% ke US$99,41 per barel.
Penurunan terjadi setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Serangan terhadap jaringan pipa East-West sempat mengganggu sebagian pengiriman minyak melalui pelabuhan tersebut.
Namun, gangguan itu tidak serta-merta mengurangi pasokan Saudi ke pasar global. Aramco justru meningkatkan pengiriman melalui kawasan Teluk dan Selat Hormuz untuk menggantikan sebagian volume yang terganggu di Yanbu.
Data Kpler menunjukkan ekspor minyak Arab Saudi telah pulih menjadi lebih dari 4 juta barel per hari pada September, dari hanya sekitar 2,4 juta barel per hari pada Agustus. JPMorgan juga mencatat aliran minyak Timur Tengah masih relatif kuat meski terjadi gangguan pada pipa East-West.
Perubahan jalur ekspor inilah yang menjadi salah satu penahan kenaikan harga minyak. Dengan kata lain, pasar saat ini tidak hanya menghitung risiko perang, tetapi juga melihat seberapa cepat produsen besar seperti Arab Saudi mampu mencari jalur alternatif untuk menjaga pasokan.
Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari peluang diplomasi AS-Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan terbuka untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Umum PBB di New York pekan ini. Harapan tersebut membuat sebagian premi risiko geopolitik dalam harga minyak mulai berkurang.
Meski demikian, harga Brent masih berada di atas US$100 per barel. Risiko gangguan pasokan tetap tinggi karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.