- IHSG ambles 11,57% ke 5.185,10 dan terancam menguji level 5.000.
- Phintraco memperingatkan IHSG berpotensi turun ke area 4.700–4.800.
- Rencana perubahan status MSCI dan rupiah di atas Rp18.000 menekan pasar
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi ancaman koreksi lanjutan pada pekan depan. Setelah ambles 11,57% ke level 5.185,10 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), indeks saham domestik diperkirakan menguji level psikologis 5.000 di tengah ketidakpastian status pasar modal Indonesia dan pelemahan rupiah.
Tim riset Phintraco Sekuritas menilai ketidakpastian terkait rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi faktor utama yang masih membebani pergerakan IHSG.
"Apabila tekanan jual berlanjut hingga indeks menembus level tersebut, IHSG berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di kisaran 4.700–4.800," tulis tim riset Phintraco Sekuritas, Sabtu (17/10/2026).
Ancaman tersebut muncul setelah IHSG mengalami tekanan jual besar-besaran pada perdagangan Jumat. Indeks bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt setelah merosot 8% pada pembukaan pasar.
Tekanan pasar juga diperparah oleh pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kombinasi anjloknya saham dan melemahnya nilai tukar menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya kekhawatiran investor.
Pemicu gejolak kali ini adalah langkah MSCI memulai konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan tersebut mencerminkan kekhawatiran mengenai tingkat investabilitas pasar saham Indonesia, terutama menyangkut transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.
![Perwakilan OJK melaporkan pertemuan dengan MSCI di Jakarta pada Senin (2/2/2026). Dalam pertemuan itu dibahas dua masalah utama, yakni transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar. [Suara.com/Rina Anggraeni]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/02/82010-ojk-msci.jpg)
Meski keputusan final belum ditetapkan dan dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027, pasar sudah bereaksi sebelum kepastian tersebut diperoleh. Investor mulai mengantisipasi risiko perubahan status itu melalui aksi jual sejak awal perdagangan Jumat.
Kondisi ini membuat prospek IHSG dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian. Jika tekanan jual berlanjut dan level 5.000 gagal dipertahankan, indeks berisiko melanjutkan pelemahan menuju area 4.700–4.800, sesuai proyeksi teknikal Phintraco Sekuritas.