Aktivitas Usaha RI Mulai Loyo, Penyerapan Tenaga Kerja Makin Seret

Mohammad Fadil Djailani

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:51 WIB
Aktivitas Usaha RI Mulai Loyo, Penyerapan Tenaga Kerja Makin Seret
Ilustrasi pekerja pabrik alas kaki. Disisi lain Bank Indonesia (BI) mencatat aktivitas dunia usaha Indonesia mulai kehilangan momentum pada kuartal III-2026 [Dok. Istimewa]
baca 10 detik
  • Aktivitas usaha melambat, SBT turun dari 12,97% menjadi 11,46%.
  • Penyerapan tenaga kerja industri dan perdagangan masih tertekan.
  • Pertumbuhan upah melambat tajam, dari 39,20% menjadi 9,24%.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat aktivitas dunia usaha Indonesia mulai kehilangan momentum pada kuartal III-2026. Meski masih tumbuh, kinerja usaha melambat dan kondisi ketenagakerjaan belum menunjukkan perbaikan berarti, terutama di sektor industri pengolahan dan perdagangan.

Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 11,46%. Angka ini turun dibandingkan kuartal II-2026 yang mencapai 12,97%.

Pelemahan diperkirakan berlanjut pada kuartal IV-2026. BI mencatat SBT kegiatan usaha diprakirakan kembali turun menjadi 10,77%, mengindikasikan momentum aktivitas bisnis berpotensi semakin terbatas menjelang akhir tahun.

Sejumlah sektor memang masih tumbuh, termasuk industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Namun, laju pertumbuhan beberapa sektor diperkirakan melambat, sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berisiko mengalami kontraksi.

Ilustrasi Pekerja Pabrik (Unsplash/@gieling)
Ilustrasi Pekerja Pabrik (Unsplash/@gieling)

Pada kuartal III-2026, kegiatan usaha sektor pertanian masih mencatat SBT positif 0,39%. Namun, pada kuartal berikutnya, kinerja sektor tersebut diprakirakan berbalik negatif dengan SBT minus 0,58%. BI mengaitkan kondisi ini dengan masuknya musim tanam, peremajaan tanaman perkebunan kelapa sawit, serta cuaca yang kurang mendukung.

Tekanan juga terlihat dari sisi penyerapan tenaga kerja. SBT penggunaan tenaga kerja pada kuartal III-2026 hanya sebesar 0,07%, turun dari 0,14% pada kuartal sebelumnya.

Kondisi industri pengolahan bahkan masih mengkhawatirkan. Meski membaik dari kuartal sebelumnya, penggunaan tenaga kerja sektor ini masih berada di zona kontraksi dengan SBT minus 0,36%. Pada kuartal IV-2026, indikator tersebut diprakirakan masih negatif, yakni minus 0,12%.

Sektor perdagangan juga menghadapi persoalan serupa. Ketika kegiatan usahanya relatif stabil dengan SBT 1,08% pada kuartal III-2026, penggunaan tenaga kerjanya justru terkontraksi dengan SBT minus 0,22%. Artinya, terjaganya aktivitas perdagangan belum otomatis diikuti peningkatan penyerapan pekerja.

BI memang memprakirakan penggunaan tenaga kerja secara keseluruhan membaik pada kuartal IV-2026, dengan SBT meningkat menjadi 0,97%. Namun, kenaikan tersebut antara lain ditopang faktor musiman, seperti perayaan Natal dan libur akhir tahun, serta penambahan layanan di sektor jasa keuangan. Karena itu, peningkatan ini belum cukup untuk memastikan perbaikan penyerapan tenaga kerja berlangsung merata dan berkelanjutan.

baca juga

Di sisi lain, tekanan harga jual di tingkat produsen juga melambat. SBT harga jual pada kuartal III-2026 turun menjadi 19,24% dari 22,38% pada kuartal sebelumnya. Pada kuartal IV-2026, indikator tersebut diprakirakan kembali turun menjadi 12,69%.

Perlambatan harga jual terutama dipengaruhi penyesuaian biaya bahan baku, harga batu bara acuan, serta strategi promosi dan potongan harga yang dilakukan peritel untuk menjaga permintaan. Kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa pelaku usaha semakin mengandalkan diskon untuk mempertahankan penjualan, meskipun perlambatan harga tidak serta-merta berarti permintaan konsumen melemah.

Dari sisi upah, BI mencatat pertumbuhan upah pada semester II-2026 juga melambat. Saldo Bersih perkembangan upah tercatat sebesar 9,24%, jauh lebih rendah dibandingkan 39,20% pada semester I-2026 dan 10,49% pada semester II-2025.

Rata-rata upah pegawai di bawah level mandor atau supervisor tercatat sebesar Rp3,87 juta per bulan. Sementara itu, rata-rata upah pegawai setingkat mandor atau supervisor mencapai Rp5,96 juta per bulan.

Meski demikian, kondisi keuangan perusahaan belum menunjukkan tekanan yang merata. Indikator likuiditas meningkat dari 15,03% menjadi 15,56%, sedangkan indikator rentabilitas naik dari 11,87% menjadi 13,11%. Akses kredit perbankan juga masih dinilai relatif mudah, walaupun indikatornya turun dari 2,45% menjadi 1,84%.

Adapun investasi masih tumbuh, dengan SBT sebesar 6,23% pada kuartal III-2026, naik dari 5,46% pada kuartal sebelumnya. Namun, investasi diprakirakan sedikit melambat menjadi 5,64% pada kuartal IV-2026.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gegara MSCI, Investor Asing Bawa Kabur Dananya hingga Buat Rupiah Anjlok ke Rp18.000

Gegara MSCI, Investor Asing Bawa Kabur Dananya hingga Buat Rupiah Anjlok ke Rp18.000

Bisnis | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 11:08 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Melonjak Jadi USD459,3 Miliar hingga Agustus

Utang Luar Negeri Indonesia Melonjak Jadi USD459,3 Miliar hingga Agustus

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:32 WIB

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.600 Triliun, Naik 5,6 Persen dalam Setahun

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.600 Triliun, Naik 5,6 Persen dalam Setahun

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:16 WIB

Terkini

Habiburokhman Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Bumerang bagi Demokrasi

Habiburokhman Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Bumerang bagi Demokrasi

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:50 WIB

Pakar UGM Kritik Imbauan Menkes soal Asap Karhutla: Jangan Bebankan Warga untuk Beradaptasi

Pakar UGM Kritik Imbauan Menkes soal Asap Karhutla: Jangan Bebankan Warga untuk Beradaptasi

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:48 WIB

Jelang Wisuda Akhir November, Mahasiswi IPB Ditemukan Meninggal di Rumahnya

Jelang Wisuda Akhir November, Mahasiswi IPB Ditemukan Meninggal di Rumahnya

Jabar | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:47 WIB

Pemerintah Geber Ekonomi Digital demi Kejar Pertumbuhan 6 Persen di 2027

Pemerintah Geber Ekonomi Digital demi Kejar Pertumbuhan 6 Persen di 2027

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:47 WIB

BEI Tak Ikut Campur Soal Agunan Kredit Saham Emiten Haji Isam di Bank Mandiri

BEI Tak Ikut Campur Soal Agunan Kredit Saham Emiten Haji Isam di Bank Mandiri

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:46 WIB

Media Asing Sebut IHSG Rekor Terburuk, Investasi Rp101 Triliun Bisa Lenyap

Media Asing Sebut IHSG Rekor Terburuk, Investasi Rp101 Triliun Bisa Lenyap

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:45 WIB

Dua Pemuda Sajira dan Warunggunung Diciduk Tim Penyidik Polres Lebak Saat Bawa Tembakau Sintetis

Dua Pemuda Sajira dan Warunggunung Diciduk Tim Penyidik Polres Lebak Saat Bawa Tembakau Sintetis

Banten | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:42 WIB

Sambut Akhir Tahun, Ini Panduan Liburan Natal Bernuansa K-Pop di Resorts World Sentosa

Sambut Akhir Tahun, Ini Panduan Liburan Natal Bernuansa K-Pop di Resorts World Sentosa

Lifestyle | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:40 WIB

Saham Konglo Melawan, Siapkan Amunisi Buyback di Tengah Denda Triliunan Rupiah

Saham Konglo Melawan, Siapkan Amunisi Buyback di Tengah Denda Triliunan Rupiah

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:40 WIB

Jakarta Timur Kini Punya Dua 'Penampung Banjir' Raksasa

Jakarta Timur Kini Punya Dua 'Penampung Banjir' Raksasa

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:39 WIB

×