Suara.com - Perjuangan Ternate yang Terus Hidup di Pulau Obi Gerakan kaki yang lincah berpadu dengan ayunan tangan yang menggenggam parang dan perisai. Para penari bergerak seirama dengan hentakan musik, menggambarkan pasukan yang bersiap menghadapi pertempuran. Itulah Tari Soya-Soya, tarian tradisional dari Ternate, Maluku Utara, yang merekam semangat perjuangan rakyat dalam melawan Portugis.
“Tarian Soya-Soya sendiri ini sebenarnya tarian dari leluhur kita ya, nenek moyang kita ya. Ini sudah menjadi salah satu tarian tradisional di Maluku Utara,” ujar Saddam Hi Kasim, pendiri Sanggar Masigaro sekaligus personel Industrial Relation PT Karunia Permai Sentosa, salah satu unit bisnis Harita Nickel.
Pada umumnya, tarian ini dilakukan secara berkelompok dengan minimal 3 orang dan maksimumnya tidak terbatas selama masih dalam jumlah ganjil. Jumlah ini menunjukkan pasukan ganjil akan berubah jadi genap ketika ditambah oleh seorang komandan atau pemimpin pasukan.

Tari Soya-Soya memiliki ciri khas dari gerakan, kostum, hingga perlengkapan yang digunakan para penarinya. Mereka mengenakan pakaian putih dengan kain berwarna-warni dan ikat kepala kuning.
Dalam pertunjukannya, para penari membawa salawaku, yakni perisai tradisional, serta ngana-ngana, pedang bambu yang dihiasi daun palem berwarna merah, kuning, dan hijau.
Iringan musiknya berasal dari alat musik tradisional, seperti tifa, saragai, dan tawa-tawa.
Tari Soya-Soya merupakan cara masyarakat Kayoa mengenang pembunuhan Sultan Khairun oleh Portugis pada 1570.
Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, rakyat Ternate melanjutkan perlawanan terhadap Portugis.
Perjuangan tersebut kemudian dikenang melalui Tari Soya-Soya, yang mencerminkan semangat kepahlawanan dan pantang menyerah masyarakat Ternate.
Semangat menjaga tradisi tersebut turut hidup di Pulau Obi, Maluku Utara. Di tengah kesibukan bekerja di industri pertambangan dan pengolahan nikel, sejumlah karyawan menyempatkan diri untuk berlatih tari bersama di Sanggar Masigaro.
“Sekalipun mereka capek, sekalipun mereka pulang kerja kadang jam enam, kadang jam tujuh, mereka masih menyempatkan waktu. Bahkan kalau hanya satu jam atau 30 menit, mereka punya kemauan yang begitu besar,” ujar Saddam.
Bagi Saddam dan rekan-rekannya, menari bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Di tengah rutinitas kerja di site, Sanggar Masigaro menjadi ruang bagi mereka untuk menyalurkan kegemaran, melestarikan kesenian tradisional, sekaligus membangun kedekatan dengan rekan kerja dari berbagai latar belakang.
Berdiri pada 29 November 2025, Sanggar Masigaro lahir dari gagasan Saddam untuk menyediakan wadah bagi rekan-rekan kerjanya yang memiliki minat menari.
Nama Masigaro, yang berarti “mengajak” dalam bahasa Ternate. Sesuai namanya, sanggar ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal dan mempelajari kesenian daerah. Anggotanya kini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk karyawan perusahaan mitra yang bekerja di lingkungan Harita Nickel.
“Kita mengajak semua teman-teman yang ada di Harita Nickel, mari kita punya tempat Sanggar Masigaro, ayo silahkan teman-teman mau dari Aceh, mau dari Bali, mau dari mana saja yang mau melestarikan tarian budaya kalian, ayo kesini, kita sudah siapkan tempatnya,” kata Saddam.
Kini, sekitar 26 orang telah bergabung dengan Sanggar Masigaro dan berlatih rutin sekali seminggu. Mereka membawa pengalaman serta pengetahuan tentang kesenian dari daerah masing-masing, sekaligus belajar bersama melalui tari.
Dalam waktu dekat, sembilan penari Sanggar Masigaro berencana membawakan Tari Soya-Soya di Festival Harmoni Obi pada 24–25 Oktober 2026.

Festival tahunan yang berpusat di Desa Kawasi ini menghadirkan pertunjukan budaya, bazar UMKM, turnamen memancing dan kegiatan makan bersama masyarakat.
Saddam berharap sanggar Masigaro bisa menjadi ruang bagi para karyawan untuk terus mengenal dan melestarikan kesenian tradisional, sekaligus mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah melalui kecintaan terhadap budaya. Ia berharap semangat tersebut dapat terus tumbuh, bahkan ketika dirinya tak lagi berada di sana.
“Melestarikan budaya itu sebenarnya bisa dimulai dari diri kita sendiri. Sesibuk apa pun kita, jangan sampai lupa dengan budaya daerah kita sendiri. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” pungkas Saddam.***