Suara.com - Batang pisang, sisa makanan, hingga air cucian beras yang biasa ditemukan di rumah ternyata dapat dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Bagi mama-mama di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, pengetahuan ini membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan bercocok tanam di pekarangan rumah, melengkapi tradisi bertani yang selama ini lebih banyak dilakukan di ladang, seperti menanam kelapa dan cengkeh.
Ernie, salah seorang warga Kawasi, selama ini lebih akrab dengan tanaman perkebunan seperti kelapa dan pala. Membuat pupuk dari bahan organik rumah tangga merupakan hal baru baginya. Melalui Sekolah Ladang, ia mulai mengenal teknik pengolahan bahan organik menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos, serta cara menanam berbagai jenis tanaman hortikultura.
“Ya, kalau kita tidak belajar memang susah. Saya lihat susah itu. Tapi setelah belajar memang gampang-gampang aja. Ini contohnya, batang pisang, sisa makanan, air cucian beras bisa digunakan jadi pupuk lagi,” kata Ernie.

Sekolah Ladang merupakan bagian dari pilar Pemberdayaan Ekonomi dalam program CSR Harita Nickel, yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat melalui pengembangan potensi lokal. Program ini membekali warga dengan pengetahuan dan keterampilan pertanian yang dapat diterapkan secara mandiri, baik di tingkat rumah tangga maupun kelompok.
Tim community development Harita Nickel memperkenalkan pertanian pekarangan kepada 16 perempuan di Desa Kawasi yang berasal dari Kelompok Wanita Tani, majelis ta’lim, dan majelis gereja. Dalam kegiatan ini, mereka mempelajari cara menanam kangkung, terong, cabai, tomat, hingga labu siam dengan memanfaatkan pekarangan rumah serta ruang hijau di sekitar masjid dan gereja. Ernie kini membayangkan manfaat yang bisa mereka rasakan ketika tanaman tersebut siap panen.
“Kalau jadi (panen), kita tinggal masak,” ujarnya.
Sebelumnya, program Sekolah Ladang juga telah berjalan di Desa Soligi, Pulau Obi. Di desa tersebut, mama-mama yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani Soligi memperoleh pendampingan mulai dari pembuatan bedeng, penyemaian bibit, perawatan tanaman, hingga pengenalan gejala serangan hama.

Pendampingan tersebut membantu kelompok tani mengembangkan berbagai komoditas hortikultura, seperti kangkung, bayam, pare, terong, kacang panjang, dan cabai. Hasil pertaniannya tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga mulai dipasok ke perusahaan dan pasar lokal.
Ketahanan Pangan Berbasis Komunitas
Penguatan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan lahan dan sumber daya lokal sejalan dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan hingga tingkat desa. Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kemampuan setiap wilayah untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, termasuk melalui penguatan produksi pangan di tingkat desa.
Upaya ini sejalan dengan dorongan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda untuk membangun ketahanan pangan dan meningkatkan ekonomi keluarga melalui pemberdayaan berbasis rumah tangga. Sherly mendorong keluarga memproduksi pangan secara mandiri, seperti melalui peternakan ayam petelur, budidaya ikan, dan pertanian hidroponik.
Bagi Harita Nickel, pengembangan pertanian merupakan bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional. Dalam jangka panjang, perusahaan mendorong pendekatan one village, one product, yaitu pengembangan produk unggulan desa berdasarkan potensi setempat agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat maupun memiliki akses ke pasar.
Salah satu inisiatif lainnya adalah Sentra Ketahanan Pangan Obi (Sentani) di Desa Buton, yang mengelola lahan sawah seluas 25 hektar dan mencatat hasil panen 8,5 ton beras pada September 2026. Program tersebut menjadi contoh pengembangan potensi pangan lokal pada skala yang lebih luas.

“Pengembangan pertanian dan ketahanan pangan merupakan bagian dari upaya kami untuk mendukung kemandirian masyarakat di Pulau Obi. Kami ingin agar potensi yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan secara optimal, sekaligus mendorong masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan sumber pangan secara berkelanjutan,” kata Executive Vice President External Relations Harita Nickel Latif Supriadi.
Bagi mama-mama Kawasi, perjalanan menuju kemandirian pangan masih berada pada tahap awal. Namun, melalui pengetahuan tentang budidaya tanaman dan pemanfaatan bahan organik rumah tangga, mereka mulai memperoleh bekal untuk mengembangkan potensi pekarangan sebagai sumber pangan keluarga. Pengalaman Soligi menjadi gambaran tentang peluang yang dapat dikembangkan melalui penerapan keterampilan dan pendampingan secara berkelanjutan. ***