Kedelapan klaster tersebut meliputi:
- Kedaulatan pangan,
- Kemandirian energi dan air,
- Pendidikan,
- Kesehatan,
- Hilirisasi dan industrialisasi,
- Infrastruktur dan ketahanan bencana (termasuk perumahan),
- Penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta
- Penurunan angka kemiskinan.
"Ada kira-kira, Bapak sekalian, di 60 rumpun project-nya lah gitu ya, kurang lebih lah pasti ada sekitar situ... kita petakan sekarang bersama-sama, mana yang punya pemerintah, mana Danantara, mana yang Danantara dengan swasta," papar Faisal
Defisit Dijaga Ketat di Angka 2,4 Persen
Meski mengusung target ekspansif, Faisal memastikan postur fiskal tetap dikelola secara hati-hati (prudent), adaptif, dan kredibel. Presiden Prabowo secara tegas meminta defisit anggaran pada 2027 ditekan ke level 2,4 persen terhadap PDB, jauh di bawah batas aman undang-undang sebesar 3 persen.
Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Kementerian Keuangan menggenjot kepatuhan pajak melalui implementasi pembaruan sistem teknologi informasi (Coretax) serta mengoptimalkan pendapatan dari sektor sumber daya alam (PNBP). Di sisi pengeluaran, prinsip belanja berkualitas (spending better) akan terus dipantau agar alokasi anggaran tidak bocor dan tepat sasaran.
Menutup perbincangan, Faisal mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk tetap merawat rasa optimisme dalam menatap prospek ekonomi masa depan.
“Kita punya fundamental yang cukup baik. Kita resilien lah dibandingkan beberapa negara mitra. Ini tentunya harus menjadi bagian optimisme kita... APBN kita tetap akan dorong untuk menumbuhkan, APBN yang melindungi, dan APBN yang kredibel," pungkas Faisal. ***