Suara.com - 22,93 juta. Itu jumlah akun kripto di Indonesia per Juli 2026, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Padahal di akhir 2025, angkanya baru 20,19 juta.
Kelihatannya orang Indonesia memang belum bosan dengan kripto. Tapi jangan buru-buru menyimpulkan pasarnya sedang ramai. Akun boleh bertambah, aktivitas jual belinya masih gampang goyah kalau kondisi pasar berubah.
Ada dua hal lain yang ikut mewarnai tahun ini: OJK makin ketat mengawasi, dan anak muda makin mendominasi.
Akun Kripto Indonesia Naik Menjadi 22,93 Juta

Kenaikannya memang tidak drastis kalau dilihat per bulan. Dari Juni ke Juli 2026, jumlah akun hanya naik 1,03%, dari 22,69 juta ke 22,93 juta. Tapi coba tarik mundur ke Desember 2025. Dalam tujuh bulan, ada sekitar 2,74 juta akun baru yang terbuka. Rata-rata hampir 400 ribu akun per bulan.
Nah, di sinilah anehnya. Akun bertambah, tapi uang yang berputar justru menyusut. Nilai transaksi kripto pada Juli tercatat Rp20,52 triliun, turun 28,2% dari Rp28,58 triliun di bulan Juni. InvestorTrust mencatat nilai transaksi kripto kumulatif Januari hingga Juli sekitar Rp171,12 triliun.
Kenapa bisa begitu? Pasar yang makin luas belum tentu makin sibuk. Volume transaksi tiap bulan tetap naik turun mengikuti sentimen, likuiditas, dan kondisi ekonomi. Investor ritel juga gampang terbawa suasana. Misalnya, saat harga Bitcoin hari ini bergerak tajam, banyak yang ikut ramai masuk ke pasar.
Satu hal lagi yang sering terlupa: satu akun tidak sama dengan satu orang. Bisa saja satu investor punya akun di beberapa platform, atau akunnya dibuka lalu dibiarkan menganggur.
Anak Muda Indonesia Mendorong Adopsi Kripto
Kalau ditanya siapa yang paling rajin main kripto di Indonesia, jawabannya hampir pasti anak muda. Laporan Indonesia Crypto & Web3 edisi ketujuh dari Indonesia Crypto Network (ICN), agensi pemasaran kripto dan Web3, mencatat lebih dari separuh respondennya, tepatnya 51,8%, berusia 18–24 tahun. Usia 25–34 tahun menyusul di 29,8%. Digabung, 81,6% responden berumur di bawah 35 tahun. Pola ini mirip dengan negara lain yang adopsi kriptonya tinggi.
Wajar sih. Generasi ini sudah terbiasa bayar pakai dompet digital, buka rekening lewat aplikasi, dan cari info investasi dari media sosial atau grup komunitas.
Di panggung global, Indonesia juga masih punya nama. Global Crypto Adoption Index 2026 dari Chainalysis menaruh Indonesia di peringkat ke-14 dunia. Kalau dirinci, posisi terbaik Indonesia ada di arus lintas batas (peringkat ke-10). Lalu ada total arus melalui layanan kripto di peringkat ke-11, saldo on-chain di peringkat ke-12, dan aktivitas peer-to-peer domestik di peringkat ke-13. Jadi, kripto di Indonesia bukan cuma soal trading spot di dalam negeri.
Stablecoin Juga Semakin Mendapat Tempat

Bitcoin masih jadi raja. Menurut Indonesia Crypto & Web3 Report 2025 dari Indonesia Crypto Network (ICN), 46,4% pengguna kripto di Indonesia memegang BTC. Tapi yang menarik justru di posisi kedua: USDT, dengan porsi 14,5%.
Kenapa stablecoin? Tidak semua investor mencari aset yang harganya bisa melonjak atau anjlok dalam sehari. Sebagian butuh tempat "parkir" yang nilainya stabil karena dipatok ke dolar AS, entah untuk persiapan trading berikutnya atau sekadar menyimpan nilai. USDT juga praktis kalau mau kirim dana lintas negara.
Pasar Kripto Indonesia Semakin Teregulasi