Masyarakat Inggris tengah dikhawatirkan dengan melonjaknnya varian Covid bernama Eris atau subvarian Omicron EG 5.1.
Varian ini sebenarnya sudah diawasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak Juli 2023.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) seperti dilansir dari laporan Mail Online menyebutkan bahwa kasus harian varian Eris telah meningkat pada minggu ini.
"5,4 persen dari 4.396 spesimen pernapasan yang dilaporkan melalui Sistem Data Mart Pernapasan diidentifikasi sebagai COVID-19," tulis pernyataan resmi UKHSA.
Pihak UKHSA menyebut bahwa persentase ini meningkat di minggu sebelumnya yang hanya di angka 3,7 persen dari 4.403 laporan.
Menurut pihak WHO, varian Eris ini telah diindetifikasi sebagai variant under monitoring (VUM) yang prevalensinya tercatat di Inggris dan meningkatnya kasus khusnya di kawasan Asia.
Sejumlah ahli menduga penyebaran varian ini yang meningkat dengan pesat tak lepas dari fenomena masyarakat Inggris berbondong-bondong menonton film Barbie dan Oppenheimer.
Selain itu, efek perubahan cuaca dalam waktu belakangan ini juga memicu menurunnya daya tahan tubuh.
Pihak UKHSA mencatat bahwa varian Eris ini memiliki kemampuan pertumbuhan 20.5 persen dibandingkan jenis varian maupun subvarian Covid-19 lainnya.
Baca Juga: Kabupaten Sigi Diguncang Gempa Susulan 33 Kali, 256 Warga Mengungsi
"Arcturus Subvarian Omicron atau disebut XBB.1.16, itu adalah varian yang paling dominan, menyebabkan 39,4 persen dari semua kasus," bunyai data UKHSA.
Namun, spesialis penyakit menular, Profesor Paul Hunter menyebutkan bahwa terlalu dini untuk menyebut bahwa varian Eris akan berdampak besar pada masyarakat Inggris.
Meski begitu, Hunter menyebut bahwa subvarian tersebut kemungkinan bisa menjadi dominan di beberapa tempat dan mendorong infeksi total meski tidak secara dramatis.
Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan negara-negara di dunia tidak boleh lengah dengan serangan varian baru dari Covid-19.