Suara.com - Ketua Umum PSSI Erick Thohir mempersilahkan jika memang Piala Indonesia ingin dijalankan lagi. Tetapi, ia mengingatkan karena tidak mudah mengatur kalender pertandingannya.
Piala Indonesia kali terakhir bergulir pada musim 2018-2019. Saat itu, turnamen yang mempertemukan antara strata kompetisi dimenangi oleh PSM Makassar.
Ajang tersebut bergulir setelah vakum cukup lama tepat pada musim 2012. Kini, ajang tersebut kembali mati belum jelas kapan kembali bakal digelar.
![Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kedua kiri) memberikan motivasi kepada pemain Timnas Putri Indonesia U-19 usai pertandingan Semi Final AFF U-19 Women Championship 2023 [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/06/76832-erick-thohir.jpg)
"Jadi Piala Indonesia silakan kalau masuk kalendernya. Nah tapi yang tadi, saya tidak takut dihujat, karena saya percaya proses," kata Erick Thohir saat konferensi pers di Jakarta, Senin (7/7/2025).
"Ini pola pikir yang sama-sama kita dudukkan. Tidak ada salah dan benar, saya mendukung Piala Indonesia, cuma kalendernya kapan?" terang mantan presiden Inter Milan itu.
Erick melanjutkan jadwal harus disusun sebaik mungkin mengingat padatnya Liga 1. Itu belum ditambah dengan tim-tim yang berkompetisi di antarkejuaraan Asia atau ASEAN.
Selain itu, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) harus menyusun jadwal, menyesuaikan dengan agenda Timnas Indonesia, jangan sampai bentrok.
"Coba di Asia Tenggara yang 18 klub siapa ya di liganya? Kayaknya nggak ada deh. Ya Singapura enam. Thailand berapa? (16)," sambung Erick Thohir.

"Yang kedua, geografis kita itu dari ujung ke ujung 8 jam naik pesawat terbang, bukan naik mobil 8 jam. Dari ujung ke ujung 8 jam."
"Kita negara kepulauan, artinya, sudah klubnya banyak, geografisnya juga jauh," jelasnya.
Erick mengatakan akan sangat merepotkan bagi klub jika ada Piala Indonesia. Selain pusing dengan jadwal, tentu pengeluaran juga bisa membengkak.
"Ada tiga tingkat (kejuaraan ) nggak tanggung-tanggung AFC," ucap lelaki yang juga menteri BUMN tersebut.
"itu gimana cara ngaturnya? Kan habis main Minggu, Senin berangkat. Sampai Vietnam misalnya, atau sampai China, hari Selasa sampai Rabu. Rabu malam tanding. Kapan latihannya? Kamis pulang. Kamis pulang sampai sini Jumat."
Tidak hanya itu, Erick takut pemain bisa mengalami cedera karena padatnya jadwal. Terlebih lagi jika pemain yang bersangkutan adalah andalan tim nasional.
Dikatakan oleh Erick Thohir akan sangat berbahaya jika pemain Timnas Indonesia cedera. Sebab, pelapis pemain-pemain tim nasional belum tebal.
"Apalagi kalau saya kepentingannya, mohon maaf. Tiba-tiba (pemain) timnasnya cedera semua. Pengganti yang nggak ada talent pool kita baru tipis, nah ini realita gitu loh," ucapnya.
"Jadi piala Indonesia silakan kalau masuk kalendernya. Nah tapi yang tadi, saya tidak takut dihujat. Karena saya percaya proses," pungkasnya.
Dengan padatnya jadwal kompetisi domestik dan internasional, tantangan utama memang terletak pada perencanaan yang matang.
PSSI bersama PT LIB harus benar-benar memperhitungkan berbagai faktor, mulai dari kepentingan liga, agenda tim nasional, hingga kesiapan infrastruktur dan finansial klub-klub di berbagai kasta.
Sejauh ini, belum ada kepastian kapan Piala Indonesia akan kembali digelar.
Meskipun banyak pihak merindukan turnamen ini karena memberikan kesempatan bagi klub-klub kecil untuk unjuk gigi, namun realitas di lapangan masih menyulitkan untuk merealisasikannya dalam waktu dekat.
PSSI masih terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap format kompetisi nasional agar bisa berjalan selaras, adil, dan berkelanjutan.
Termasuk mempertimbangkan kemungkinan menghidupkan kembali Piala Indonesia dengan skema yang lebih efisien dan tidak memberatkan semua pihak yang terlibat.
PSSI masih terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap format kompetisi nasional agar bisa berjalan selaras, adil, dan berkelanjutan.
Termasuk mempertimbangkan kemungkinan menghidupkan kembali Piala Indonesia dengan skema yang lebih efisien dan tidak memberatkan semua pihak yang terlibat.
Di sisi lain, perhatian utama saat ini masih tertuju pada pembenahan liga dan penguatan tim nasional.
Fokus PSSI juga tercurah untuk memastikan klub-klub Indonesia dapat tampil kompetitif di level Asia, yang membutuhkan manajemen waktu dan sumber daya secara optimal.