-
Jeje ditunjuk jadi penerjemah STY atas rekomendasi Kedutaan Korea, bukan rombongan awal STY.
-
Pernyataan Jeje tentang penyesalan STY usai lawan Bahrain memicu kontroversi publik.
-
Ricky Riskandi, eks Sekretaris Timnas, beberkan detail proses pemilihan Jeje kepada PSSI.
Suara.com - Jeong Seok-seo, yang akrab disapa Jeje, mendadak menjadi sorotan publik menyusul pengakuannya terkait masa kerjanya di Timnas Indonesia.
Tokoh kunci yang pernah berada di lingkaran dalam Timnas akhirnya angkat bicara mengenai proses pemilihan Jeje sebagai jembatan komunikasi bagi pelatih Shin Tae-yong (STY).
Pria yang memiliki peranan penting di kubu Garuda tersebut memastikan bahwa Jeje tidak datang sebagai bagian dari staf kepelatihan yang diboyong langsung oleh STY dari Korea Selatan.
Kemitraan antara Jeje dan pelatih asal Negeri Ginseng itu harus berakhir seiring dengan tuntasnya kontrak Shin Tae-yong bersama Timnas Indonesia.

Setelah meninggalkan peran resminya di tim nasional, STY memutuskan kembali ke Seongnam, sementara Jeje masih aktif di Indonesia dengan urusan pribadi.
Belakangan ini, pernyataan yang dilontarkan Jeje berhasil memantik emosi suporter setia Timnas Indonesia.
Pernyataan tersebut dianggap publik berpotensi merusak keharmonisan yang sudah terjalin di dalam skuad Garuda.
Rasa penasaran publik mengenai kondisi ruang ganti Timnas selama lima tahun di bawah komando Shin Tae-yong memang tak terbantahkan.
Hal ini mendorong Jeje, yang merupakan orang terdekat STY, untuk diundang dalam berbagai talk show guna menceritakan pengalamannya.
![Jeong Seok-seo alias Jeje yang dikenal sebagai penerjemah pelatih Shin Tae-yong bergaung di grup "Ahjussi Gaul", di mana konten-kontennya di YouTube cukup mencuri perhatian. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/06/26/73700-jeong-seok-seo-ahjussi-gaul.jpg)
Sayangnya, beberapa detail yang diungkapkan Jeje dianggap tidak pantas untuk dikonsumsi publik, terutama untuk menjaga stabilitas mental para pemain.
Salah satu poin yang paling disoroti adalah klaim Jeje mengenai adanya rasa penyesalan dari Shin Tae-yong terkait keputusan memasukkan Eliano Reijnders.
Momen tersebut terjadi saat Timnas Indonesia sedang unggul melawan Bahrain, dan menurut Jeje, STY seharusnya menurunkan pemain bertahan, bukan pemain ofensif seperti Eliano.
Jeje menuturkan kronologi kejadian saat itu, yang mana akhirnya Timnas harus menerima hasil imbang.
Mantan penerjemah STY tersebut menambahkan tentang reaksi sang pelatih atas hasil tersebut.
“Coach Shin (Tae-yong) ada sedikit menyesal di situ waktu itu,” tambah Jeje.

Pernyataan kontroversial yang membawa nama STY ini lantas menuai badai kritik dari para pendukung timnas, yang akhirnya memaksa Jeje memberikan klarifikasi dan permohonan maaf.
Isu ini secara otomatis memicu keingintahuan publik perihal bagaimana Jeje pertama kali dipilih untuk menjadi juru bahasa Shin Tae-yong.
Misteri ini akhirnya terkuak berkat kesaksian Ricky Riskandi, yang pada saat itu menjabat sebagai Sekretaris Timnas Indonesia.
Ricky Riskandi, yang kini menjabat asisten pelatih Sriwijaya FC, menceritakan secara rinci momen penjemputan rombongan STY di bandara.
Ia mendapat tugas langsung dari Sekjen PSSI kala itu, Ratu Tisha, untuk menyambut kedatangan rombongan pelatih.
Namun, Ricky menegaskan bahwa Jeong Seok-seo tidak termasuk dalam rombongan kepelatihan Shin Tae-yong yang tiba dari Korea Selatan.
Asal-usul nama Jeje muncul melalui mekanisme rekomendasi yang diajukan oleh Kedutaan Besar Korea Selatan, bersama satu nama kandidat lainnya.
Kedua kandidat penerjemah yang direkomendasikan tersebut kemudian dipertemukan langsung dengan Shin Tae-yong.
“PSSI cara mendatangkannya itu seingat saya ya seingat saya meminta rekomendasi dari kedutaan Korea, muncullah dua nama, salah satu rekan sahabat saya, Jeje, lalu didatangkan dan dipertemukan ke STY,” jelasnya di YouTube Bicara Bola.
Setelah melalui proses pertemuan dan seleksi singkat, Shin Tae-yong menjatuhkan pilihan kepada Jeje untuk mengemban tugas sebagai penerjemah.
Ricky menambahkan bahwa Jeje langsung memulai pekerjaannya tak lama setelah terpilih.
