- Antoine Semenyo, penyerang Bournemouth, kini menjadi incaran Manchester City dengan klausa rilis 65 juta poundsterling.
- Ia pernah ditolak Arsenal, Tottenham, dan Crystal Palace, sempat membuatnya berhenti bermain sepak bola selama setahun.
- Dukungan ayah dan pengalaman bermain di kasta keenam bersama Bath City membentuk mentalnya kembali menjadi pemain profesional.
Suara.com - Di tengah hiruk pikuk bursa transfer Januari, satu nama kini menjadi buah bibir yaitu Antoine Semenyo.
Man City dilaporkan siap menebus klausul rilis penyerang Bournemouth itu senilai 65 juta poundsterling.
Namun, di balik banderol fantastis tersebut tersimpan sebuah kisah jatuh-bangun yang luar biasa inspiratif.
Jauh sebelum menjadi salah satu penyerang paling ditakuti di Liga Inggris, Semenyo muda pernah merasakan pahitnya penolakan berulang kali.
Klub-klub besar London seperti Arsenal dan Tottenham Hotspur pernah menutup pintu baginya.
Pukulan paling telak datang saat ia berusia 15 tahun. Setelah menjalani masa percobaan selama delapan minggu di Crystal Palace, ia dinyatakan tidak cukup bagus.
"Saya pergi ke beberapa klub dan diberitahu hal yang sama, bahwa saya tidak cukup bagus. Sulit bagi seorang anak kecil mendengar itu," ujar Semenyo kepada Sky Sports.
"Palace paling memukul saya karena saya berada di sana begitu lama. Trial saya diperpanjang dan saya pikir saya akan direkrut, tapi itu tidak terjadi," lanjutnya.
Rasa sakit itu begitu mendalam hingga ia memutuskan untuk menyerah pada mimpinya.
"Saya ingat masuk ke mobil sambil menangis dan berkata pada ayah, 'Kenapa ini terus terjadi?'. Saya berhenti main bola setahun setelahnya," kenang Semenyo.
Selama setahun penuh, ia benar-benar menjauh dari sepak bola. Berat badannya naik drastis.
Namun dukungan keluarga, terutama sang ayah yang mantan pesepak bola, menjadi kunci kebangkitannya.
Semenyo kembali berlatih, mengasah kembali kemampuannya menendang dengan kedua kaki, sebuah keahlian yang diajarkan ayahnya sejak kecil.
"Ayah biasa menyuruh saya menendang apa saja dengan kedua kaki, entah itu kertas, kaleng, apa saja," tuturnya.
"Pada usia enam tahun saya sudah bisa menendang dengan kedua kaki. Sekarang rasanya sudah seperti kebiasaan alami," tambahnya agi
Jalan kembali ke sepak bola profesional datang dari arah yang tak terduga. Bakatnya ditemukan oleh mantan manajer Leeds, Dave Hockaday dalam sebuah open trial.
Dari sana, ia bergabung dengan program perguruan tinggi sebelum akhirnya direkrut oleh Bristol City.
Namun, jalan masih terjal. Ia harus dibuang ke kasta keenam Liga Inggris, dipinjamkan ke Bath City. Di sinilah mental bajanya terbentuk.
Ia belajar bahwa sepak bola bukan hanya soal teknik indah, tetapi juga pertarungan fisik yang brutal.
"Saat main di U-23 semua terlihat indah tiki-taka, tapi masuk ke sepak bola pria, lapangannya tak bagus," kata Semenyo.
"Anda melawan orang yang jauh lebih berpengalaman dan cuma ingin menendang Anda. Saya tidak terbiasa dengan itu, tapi Bath adalah pengalaman hebat," bebernya.
Semua tempaan keras itu kini terbayar lunas. Dari seorang remaja yang menangis karena ditolak, Antoine Semenyo kini menjelma menjadi penyerang elite yang siap ditebus dengan harga triliunan, membuktikan bahwa penolakan bukanlah akhir dari segalanya.
"Saya hanya ingin membuktikan bahwa saya cukup bagus untuk berada di tempat saya sekarang, itulah pola pikir saya sejak muda," pungkasnya.
